SURABAYA, iNewsSurabaya.id – Suasana pagi di SMA Wijaya Putra Surabaya tampak berbeda kemarin. Sejak pukul 07.00 WIB, deretan guru dan pengurus OSIS telah bersiap menyambut ratusan pelajar SMP dan MTs dari berbagai sekolah di Surabaya. Mereka bukan datang untuk lomba atau seminar biasa, melainkan mengikuti Pelatihan Metodologi Penelitian 2025 program unik yang menanamkan semangat riset sejak dini kepada para siswa.
Kegiatan ini menjadi bentuk nyata komitmen SMA Wijaya Putra dalam menumbuhkan budaya ilmiah di kalangan pelajar muda. Tak hanya sekadar belajar teori, para peserta diajak untuk mengenal cara berpikir kritis, logis, dan ilmiah dengan pendekatan yang menyenangkan.
Acara dibuka dengan khidmat melalui lagu Indonesia Raya dan doa bersama yang dipimpin oleh Aditya Al Rosyid, S.Pd. Ketua panitia menyampaikan bahwa kegiatan ini bukan sekadar pelatihan, melainkan juga ajang kolaborasi antar sekolah yang bisa memantik minat anak-anak terhadap penelitian.
“Metode penelitian bukan hanya milik para ilmuwan atau mahasiswa. Anak SMP pun harus mulai belajar berpikir kritis dan sistematis, karena masa depan bangsa ditentukan oleh generasi yang mampu bertanya dan mencari jawabannya dengan cara yang tepat,” tutur Andri Priyono Ds., S.Pd., M., Kepala SMA Wijaya Putra Surabaya dalam sambutannya.
Setelah sesi pembukaan, para peserta dibagi menjadi beberapa kelompok untuk menjelajahi berbagai laboratorium. Setiap ruang menghadirkan pengalaman berbeda mulai dari menggunakan klinometer di area fasad, melihat reaksi jam iodin dan baterai buah di Lab Kimia, hingga mengenal optik dan dinamika gerak di Lab Fisika.
Mereka juga diajak ke Laboratorium Biologi, rooftop hidroponik, hingga Perpustakaan. Perjalanan antar lokasi menjadi pengalaman edukatif tersendiri, karena peserta diperkenalkan pula pada Ruang Podcast, Studio, Lab Komputer, Lab Kitchen, dan fasilitas modern lain milik SMA Wijaya Putra.
“Saya baru tahu kalau penelitian itu bisa seseru ini. Kita nggak cuma baca buku, tapi bisa langsung praktik dan lihat hasilnya,” ungkap Filsa salah satu siswa.
Kegiatan yang dikemas interaktif ini membuat suasana belajar terasa hidup. Anak-anak terlihat saling berdiskusi, mencatat hasil pengamatan, dan bereksperimen dengan rasa ingin tahu yang tinggi. Momen tersebut menjadi bukti bahwa pendidikan berbasis riset dapat dikenalkan sejak SMP dengan cara yang menyenangkan.
Sebagai penutup, seluruh peserta dan panitia berfoto bersama di area fasad sekolah—simbol kebersamaan dan semangat kolaborasi antar lembaga pendidikan.
Kepala SMA Wijaya Putra berharap kegiatan ini menjadi awal pembinaan riset berkelanjutan bagi siswa SMP/MTs, agar mereka kelak tumbuh menjadi generasi yang berpikir ilmiah dan siap menghadapi tantangan masa depan.
“Penelitian tidak harus rumit. Yang penting adalah rasa ingin tahu dan keberanian untuk mencoba,” pesan Andri Priyono menutup kegiatan.
Penulis:
Novita Anggreeni Jurnalis SMA Wijaya Putra
Editor : Arif Ardliyanto
Artikel Terkait
