SURABAYA, iNewsSurabaya.id – Di balik ruang kuliah dan lembaran tagihan Uang Kuliah Tunggal (UKT), ratusan mahasiswa di Surabaya nyaris harus mengubur mimpi mereka. Bukan karena prestasi yang kurang, melainkan karena kondisi ekonomi keluarga yang tak lagi sanggup menopang biaya pendidikan. Kini, harapan itu kembali menyala.
Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya bersama Perguruan Tinggi Swasta (PTS) sepakat membuka beasiswa kuliah tanpa batas kuota bagi mahasiswa PTS. Kebijakan ini lahir bukan dari meja rapat semata, melainkan dari cerita nyata mahasiswa yang terancam putus kuliah karena keterbatasan biaya.
Kesepakatan tersebut dicapai dalam pertemuan para pimpinan PTS Surabaya dengan Wali Kota Surabaya, Eri Cahyadi, di Rumah Dinas Wali Kota. Dalam forum itu, rektor dan wakil rektor kampus swasta menyampaikan kondisi riil di lapangan: banyak mahasiswa warga Surabaya yang hampir menyerah menyelesaikan kuliah.
Tak sedikit kampus swasta yang selama ini harus menalangi biaya pendidikan mahasiswa agar mereka tetap bisa bertahan di bangku kuliah. Total dana talangan yang dikeluarkan PTS bahkan disebut mencapai Rp1,7 miliar.
Rektor PTS di Surabaya menghadap Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi untuk menceritakan banyaknya mahasiswa swasta terancam putus kuliah karena tak mempunyai biaya. Wali Kota mengambil kebijakan untuk membuka beasiswa pendidikan tanpa batas kuota. Foto arif
Ketua ABPPTSI Wilayah Jawa Timur, Dr. Budi Endarto, SH., M.Hum., mengungkapkan bahwa jumlah PTS di Surabaya jauh lebih banyak dibandingkan perguruan tinggi negeri. Ironisnya, mayoritas mahasiswa PTS justru berasal dari keluarga kurang mampu.
“Data kami menunjukkan, sebagian besar mahasiswa PTS berasal dari keluarga tidak mampu. Alhamdulillah, Pak Wali mengambil kebijakan yang sangat tepat dengan melakukan intervensi bantuan biaya kuliah. Ini sangat berarti, bukan hanya bagi kampus, tapi terutama bagi mahasiswa,” ujarnya.
Hal senada disampaikan Supangat, Ph.D., ITIL., COBIT, CLA., CISA., Wakil Rektor II Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya. Menurutnya, pertemuan tersebut menjadi momentum penting agar kebijakan pendidikan benar-benar berpijak pada kondisi nyata.
“Banyak mahasiswa warga Surabaya tidak bisa menyelesaikan kuliah hanya karena persoalan biaya. Kami ingin Pak Wali mendengar langsung realitas ini,” katanya.
Editor : Arif Ardliyanto
Artikel Terkait
