Moshing di Konser Musik: Terlihat Keras, tapi Penuh Solidaritas

Andika
Di balik aksi moshing, ada solidaritas tinggi antar penonton konser. Foto : istimewa.

SURABAYA, iNewsSurabaya.id – Fenomena moshing sering terlihat saat konser musik, terutama pada pertunjukan genre rock, punk, hingga metal

Aksi ini biasanya dilakukan para penonton di area depan panggung dengan saling berlari, melompat, hingga bertabrakan mengikuti irama musik yang cepat dan energik.

Moshing dikenal sebagai bagian dari budaya konser yang berkembang sejak era musik punk pada 1980-an. Bagi para penikmat musik keras, aktivitas ini menjadi cara untuk mengekspresikan energi, kegembiraan, sekaligus kedekatan dengan musik yang dimainkan oleh band favorit mereka.

Di dalam area yang disebut mosh pit, penonton biasanya membentuk lingkaran lalu bergerak saling dorong atau berlari mengikuti tempo lagu. Meski terlihat keras, banyak penonton memahami “aturan tidak tertulis”, seperti membantu orang yang terjatuh agar bisa berdiri kembali.

Penggemar konser sekaligus kreator konten, Cathelia Anabella Afandari Ely yang dikenal melalui Instagram @catheliaanabella, mengatakan bahwa musik dan gaya berpakaian memiliki hubungan erat sebagai bentuk ekspresi diri.

“Fashion sama musik itu sama-sama bentuk ekspresi diri. Kita dengerin lagu sesuai sama yang kita rasakan atau kita sukai. Sama dengan fashion, kita bisa merepresentasikan karakter kita dari apa yang kita pakai,” ujarnya, Minggu (15/3/2026).

Cathelia mengaku memiliki hobi menonton konser, makeup, serta mengeksplorasi outfit. Ia juga gemar menonton drama Korea bergenre thriller dan misteri. 

Dalam selera musik, ia dulunya menyukai post-hardcore dan punk rock, namun kini lebih sering menikmati musik yang lebih mudah didengar seperti modern metalcore dan alternative rock.

Menurutnya, pengalaman menonton konser sering menghadirkan momen yang tidak terlupakan. Mulai dari bisa berfoto, berbincang, hingga membuat konten bersama musisi yang diidolakan.

“Kalau dari sisi penonton, ketika kita bisa di-notice dari sekian banyak penonton itu rasanya senang sekali. Selain itu, kebersamaan penonton juga sering membuat kita dapat teman baru,” katanya.

Ia juga menilai anggapan bahwa moshing selalu identik dengan tindakan anarkis tidak sepenuhnya benar. Justru di dalam kerumunan penonton sering muncul rasa solidaritas yang tinggi.

“Kalau ada yang jatuh atau tertabrak, biasanya langsung dibantu. Apalagi kalau perempuan, sering dipagerin sama penonton lain supaya tetap aman,” ungkapnya.

Bahkan menurut Cathelia, tidak jarang performer di atas panggung juga mengingatkan penonton untuk saling menjaga satu sama lain, terutama terhadap penonton perempuan.

“Biasanya performer juga bilang, kalau di sekitar kalian ada perempuan tolong dijaga dan dilindungi. Senang-senang boleh tapi tetap aware dengan sekitar. Dan itu benar-benar dilakukan penonton, bukan sekadar gimmick,” jelasnya.

Karena itu, ia menilai menonton konser musik keras sendirian tidak selalu menakutkan seperti yang dibayangkan banyak orang. “Nonton konser ‘keras’ sendirian sebenarnya tidak seseram yang dibayangkan,” pungkasnya.

Editor : Arif Ardliyanto

Bagikan Artikel Ini
Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.
News Update
Kanal
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
MNC Portal
Live TV
MNC Network