SURABAYA, iNewsSurabaya.id – Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Jawa Timur (Jatim) mencatat neraca perdagangan Jatim sepanjang periode Januari hingga April 2026 mengalami defisit sebesar USD1,87 miliar. Kondisi ini dipicu oleh tingginya nilai impor yang belum mampu diimbangi oleh performa ekspor daerah.
Plt. Kepala BPS Provinsi Jatim, Ir. Herum Fajarwati, menjelaskan bahwa selama empat bulan pertama tahun ini, nilai impor Jatim menembus angka USD10,39 miliar, sementara nilai ekspornya tertahan di angka USD8,52 miliar.
"Defisit neraca perdagangan Jatim pada periode Januari hingga April 2026 ini terjadi baik di sektor migas maupun nonmigas. Defisit pada sektor migas tercatat mencapai USD1,50 miliar, sedangkan sektor nonmigas mengalami defisit sebesar USD365,55 juta," ujar Herum Fajarwati dalam rilisnya, Rabu (10/6/2026).
Kendati secara total mengalami defisit, kinerja ekspor Jatim sebenarnya menunjukkan tren positif. Nilai ekspor pada Januari-April 2026 naik 2,57 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2025, yaitu dari USD8,31 miliar menjadi USD8,52 miliar.
Herum memaparkan bahwa pertumbuhan ini ditopang oleh sektor nonmigas yang melonjak 3,45 persen, dari USD8,10 miliar menjadi USD8,38 miliar. Sebaliknya, ekspor sektor migas justru anjlok tajam sebesar 31,26 persen menjadi USD145,22 juta dari tahun lalu yang sempat menyentuh USD211,24 juta.
"Penurunan tajam pada ekspor migas dipicu oleh merosotnya pengiriman minyak mentah sebesar 43,31 persen menjadi USD109,28 juta. Komoditas gas juga mengalami penurunan sebesar 18,64 persen menjadi USD0,06 juta," jelasnya.
Untuk pasar ekspor nonmigas, Tiongkok masih memegang peranan utama dengan kontribusi sebesar 17,09 persen atau senilai USD1,43 miliar. Komoditas andalan Jatim yang dikirim ke Negeri Tirai Bambu tersebut meliputi lemak dan minyak hewani/nabati (USD388,87 juta), tembaga (USD295,41 juta), berbagai produk kimia (USD172,06 juta), serta bahan kimia organik (USD150,89 juta).
Dari sisi investasi dan konsumsi, nilai impor Jatim periode Januari-April 2026 mengalami kenaikan sebesar 7,31 persen menjadi USD10,39 miliar dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar USD9,68 miliar.
Menurut Herum, lonjakan impor ini dikarenakan kuatnya aktivitas impor sektor nonmigas yang naik hingga 9,85 persen menjadi USD8,74 miliar. Di sisi lain, nilai impor migas justru melandai sebesar 4,43 persen menjadi USD1,65 miliar. Penurunan impor migas ini dipengaruhi oleh susutnya pasokan minyak mentah sebesar 27,94 persen (menjadi USD146,61 juta) serta hasil minyak sebesar 7,23 persen (menjadi USD1,05 miliar).
Sama halnya dengan struktur ekspor, Tiongkok juga mendominasi sebagai negara asal barang impor nonmigas terbesar ke Jatim dengan pangsa pasar mencapai 37,23 persen atau senilai USD3,26 miliar.
"Di bawah Tiongkok, posisi kedua negara asal impor ditempati oleh Amerika Serikat dengan kontribusi sebesar 5,88 persen atau bernilai USD514,43 juta, disusul Singapura di posisi ketiga dengan andil 4,38 persen senilai USD382,90 juta," pungkas Herum.
Editor : Arif Ardliyanto
Artikel Terkait
