AI Makin Pintar, Tapi Jangan Sampai Air Bersih yang Jadi Korban

OPINI
Direktur Direktorat Sistem Informasi (DSI) Yayasan Perguruan 17 Agustus 1945 (YPTA) Surabaya Eko Halim Santoso, S.Kom., M.Kom. Foto istimewa

Eko Halim Santoso, S. Kom., M. Kom 

Direktur Direktorat Sistem Informasi (DSI) Yayasan Perguruan 17 Agustus 1945 (YPTA) Surabaya

Kita sedang hidup di masa ketika artificial intelligence (AI) berkembang begitu cepat. Dalam hitungan detik, AI bisa membantu membuat tulisan, menganalisis data, merangkum dokumen, membuat gambar, menerjemahkan bahasa, bahkan membantu manusia mencari solusi atas berbagai persoalan.

Semakin pintar AI, semakin banyak pula orang yang menggunakannya. Namun, ada satu hal yang jarang ikut kita pikirkan ketika mengetik pertanyaan di layar ponsel atau laptop: apa yang terjadi di balik jawaban yang muncul dalam hitungan detik itu?

Di belakangnya ada pusat data, server berkemampuan tinggi, jaringan komputer, listrik dalam jumlah besar, serta sistem pendingin yang harus bekerja hampir tanpa henti.

Dan di sinilah persoalan air mulai menarik perhatian. Pusat data membutuhkan sistem pendinginan untuk menjaga perangkat tetap berada pada suhu aman. Dalam sejumlah sistem, air menjadi bagian penting dalam proses tersebut. Belum lagi kebutuhan air dan energi yang berkaitan dengan rantai produksi perangkat keras, termasuk chip semikonduktor.

Artinya, ketika kita berbicara tentang AI, sebenarnya kita tidak hanya sedang membicarakan software atau algoritma.

Kita juga sedang membicarakan energi, air, infrastruktur, dan lingkungan.

Jangan Hanya Mengukur AI dari Seberapa Pintar

Selama ini ukuran kemajuan AI sering dikaitkan dengan satu pertanyaan: seberapa pintar teknologi tersebut?

Model baru muncul dengan kemampuan yang semakin mengesankan. Komputasi semakin cepat. Kemampuan memahami bahasa semakin baik. Berbagai pekerjaan yang dulu membutuhkan waktu berjam-jam kini dapat diselesaikan jauh lebih cepat. Tetapi mungkin sudah waktunya kita menambah satu pertanyaan lagi.

Teknologi yang hebat bukan hanya teknologi yang mampu melakukan lebih banyak pekerjaan. Teknologi yang baik juga seharusnya mampu memberikan manfaat besar dengan penggunaan sumber daya yang semakin efisien.

Air dan listrik bukan sumber daya yang tidak terbatas.

Karena itu, perkembangan AI semestinya berjalan bersama dengan upaya mengurangi konsumsi energi, meningkatkan efisiensi komputasi, mengembangkan chip yang lebih hemat energi, serta membangun pusat data dengan teknologi pendinginan yang semakin efisien.

Dengan kata lain, efisiensi bukan lagi sekadar urusan teknis. Efisiensi harus menjadi bagian dari inovasi.

AI Seharusnya Jadi Co-Pilot

Ada persoalan lain yang tidak kalah penting.

Semakin mudah AI digunakan, semakin besar pula kemungkinan manusia menyerahkan terlalu banyak pekerjaan kepada mesin.

Untuk membuat tulisan, kita bertanya kepada AI. Untuk mencari ide, kita bertanya kepada AI. Untuk menganalisis sesuatu, kita bertanya kepada AI. Bahkan untuk mengambil keputusan, sebagian orang mulai menjadikan jawaban AI sebagai rujukan utama.

Di sinilah kita perlu berhenti sejenak. AI seharusnya menjadi co-pilot, bukan autopilot.

Co-pilot membantu manusia bekerja lebih cepat dan lebih baik. Tetapi kendali tetap berada di tangan manusia.

Manusia tetap harus berpikir, memeriksa, membandingkan, mempertanyakan, dan mengambil keputusan.

Sebab AI bisa menghasilkan jawaban yang terdengar sangat meyakinkan, tetapi belum tentu selalu benar.

Karena itu, kemampuan paling penting di era AI bukan hanya kemampuan membuat perintah atau prompt. Kita juga membutuhkan kemampuan memverifikasi informasi.

Jangan sampai kita menjadi generasi yang semakin cepat mendapatkan jawaban, tetapi semakin malas mempertanyakan apakah jawaban tersebut benar.

Tidak Semua Pekerjaan Membutuhkan AI

Penggunaan AI juga perlu ditempatkan secara proporsional.

Tidak semua pekerjaan harus diserahkan kepada AI hanya karena teknologinya tersedia.

Kalau membuat daftar sederhana bisa dilakukan dalam beberapa menit, mungkin tidak perlu menggunakan sistem AI yang membutuhkan komputasi besar. Sebaliknya, ketika kita menghadapi pekerjaan yang membutuhkan pengolahan data dalam jumlah besar, analisis kompleks, pencarian pola, atau pekerjaan kreatif tertentu, AI bisa memberikan nilai tambah yang sangat besar.

Prinsipnya sederhana: gunakan AI ketika memang memberikan manfaat.

Bukan karena takut ketinggalan tren.

Sikap bijak terhadap AI juga berarti memahami apa yang boleh dan tidak boleh kita masukkan ke dalam sistem AI.

Data pribadi, dokumen rahasia, informasi perusahaan, data mahasiswa, hingga informasi yang bersifat sensitif tidak boleh dimasukkan secara sembarangan.

Begitu pula dengan persoalan hak cipta dan keakuratan informasi. Kemudahan yang ditawarkan AI tidak boleh membuat kita melupakan tanggung jawab sebagai pengguna.

Kampus Jangan Hanya Mengajarkan Cara Memakai AI

Dunia pendidikan mempunyai posisi penting dalam perubahan ini. Kampus tidak cukup hanya mengajarkan mahasiswa bagaimana menggunakan AI. Yang lebih penting adalah membangun cara berpikir agar AI digunakan secara bertanggung jawab.

Mahasiswa perlu tahu kapan AI dapat membantu, kapan hasilnya harus diperiksa ulang, apa keterbatasannya, bagaimana menjaga data pribadi, serta bagaimana menghormati hak cipta.

Dosen dan tenaga kependidikan juga menghadapi tantangan yang sama.

Dalam konteks Direktorat Sistem Informasi (DSI), misalnya, peran yang dijalankan berada pada dua sisi.

Pertama, sebagai enabler, DSI perlu membuka ruang agar AI dapat dimanfaatkan untuk mendukung pendidikan, administrasi, pengolahan data, penelitian, pengembangan sistem informasi, dan peningkatan layanan.

Kedua, sebagai governor, DSI perlu memastikan penggunaannya tetap berada dalam koridor keamanan informasi, perlindungan data pribadi, etika, serta validitas informasi.

Dua peran tersebut harus berjalan bersama.

Jangan sampai karena terlalu takut terhadap risiko, AI justru dilarang. Sebaliknya, jangan pula karena terlalu kagum dengan kecanggihannya, semua persoalan langsung diserahkan kepada AI.

Yang kita perlukan adalah literasi.

Masa Depan Bukan Manusia Melawan AI

Perdebatan mengenai AI sering dibawa ke pertanyaan apakah manusia nantinya akan digantikan oleh mesin.

Menurut saya, pertanyaan tersebut kurang tepat.

Persoalan yang lebih penting adalah bagaimana manusia menggunakan AI untuk memperkuat kemampuan yang sudah dimilikinya.

AI dapat membantu manusia bekerja lebih cepat. AI dapat membantu menemukan pola dari data yang sangat besar. AI dapat membantu membuka peluang inovasi yang sebelumnya sulit dilakukan.

Tetapi keputusan mengenai apa yang benar, apa yang layak, apa yang etis, dan apa yang bertanggung jawab tetap membutuhkan manusia. Termasuk ketika kita berbicara mengenai lingkungan.

Kita tidak perlu memilih antara kemajuan teknologi atau kelestarian lingkungan. Tantangannya adalah mencari jalan agar keduanya dapat berjalan bersama.

AI boleh semakin pintar.

Pusat data boleh semakin besar.

Kemampuan komputasi boleh semakin cepat.

Tetapi jangan sampai di balik semua kemajuan itu, kita lupa bahwa air bersih juga memiliki batas.

Sebab ukuran teknologi masa depan bukan hanya tentang seberapa canggih mesin yang berhasil kita ciptakan.

Ukuran yang lebih penting adalah seberapa besar manfaat yang mampu kita hasilkan dengan dampak yang semakin kecil terhadap kehidupan dan lingkungan.

Kalau AI adalah co-pilot, manusialah yang tetap memegang kemudi.

Dan salah satu tujuan perjalanan itu seharusnya bukan sekadar menuju masa depan yang semakin digital, tetapi juga masa depan yang tetap layak dihuni.

Editor : Arif Ardliyanto

Bagikan Artikel Ini
Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.
Kanal
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
MNC Portal
Live TV
MNC Network