SURABAYA, iNewsSurabaya.id – Bertambahnya usia tidak hanya ditandai dengan munculnya garis halus. Pada sebagian orang, pipi mulai turun, wajah terlihat lebih lelah, garis senyum semakin dalam, hingga area bawah mata tampak cekung.
Kondisi tersebut terjadi karena perubahan struktur wajah yang berlangsung secara alami seiring bertambahnya usia. Namun, menurut dr. Junivan Lindra, M.Biomed (AAM), perubahan tersebut dapat ditangani dengan pendekatan yang menyesuaikan struktur penyangga wajah.
Dokter yang dikenal sebagai "Bapak Benang Indonesia" itu memaparkan teknik tersebut dalam materi "Rebuilding Facial Support with Advanced Reverse Technique" pada ajang EASWAM 2026 di Dyandra Convention Hall Surabaya.
Untuk menjelaskan penyebab wajah tampak turun, dr. Junivan menggunakan analogi sederhana. Ia mengibaratkan wajah seperti sebuah rumah.
Ligamen atau jaringan penyangga di bawah kulit dianalogikan sebagai tembok, sementara kulit merupakan bagian luar atau atap rumah.
"Seiring bertambahnya usia, tembok ini tidak lagi kuat dan akhirnya runtuh. Itulah sebabnya kulit kita ikut turun dan sagging," jelas dr. Junivan, Selasa (6/10/2026).
Menurut dia, proses penuaan wajah tidak hanya dipengaruhi oleh melemahnya jaringan penyangga. Penyusutan bantalan lemak di pipi, berkurangnya elastisitas kulit, hingga perubahan struktur tulang wajah juga ikut memengaruhi kontur wajah.
Akibatnya, area pipi atau midface kehilangan penyangga. Pipi dapat terlihat lebih kempis, garis senyum semakin dalam, area bawah mata tampak cekung, sementara bagian bawah wajah terlihat lebih berat. Keluhan tersebut umumnya semakin terlihat pada kelompok usia 50 tahun ke atas.
Salah satu pendekatan yang diperkenalkan dr. Junivan adalah Advanced Reverse Technique, pengembangan dari prosedur thread lift atau pengangkatan wajah menggunakan benang yang dapat diserap tubuh.
Berbeda dengan teknik konvensional, teknik ini menggunakan arah tarikan benang yang dirancang berlawanan dengan arah pergerakan jaringan wajah yang mengalami penurunan.
Dengan analogi rumah, jaringan yang mengalami pergeseran dikembalikan menuju posisi semula sehingga struktur wajah kembali mendapatkan dukungan.
Dalam pengembangannya, dr. Junivan menggunakan benang PDO Croquis, produk benang PDO premium asal Korea yang didistribusikan oleh STI.
Menurut materi yang dipaparkan, struktur benang tersebut dirancang untuk memberikan daya angkat pada jaringan wajah sekaligus membantu menstimulasi produksi kolagen.
Stimulasi kolagen menjadi salah satu bagian penting karena perubahan akibat penuaan tidak hanya berkaitan dengan posisi jaringan, tetapi juga kualitas kulit.
Dalam pemaparannya, dr. Junivan menyebut teknik tersebut memiliki sejumlah tujuan, mulai dari membantu mengangkat jaringan pipi hingga membuat kontur wajah terlihat lebih segar.
Pipi yang mengalami penurunan dapat terlihat lebih terangkat, sementara garis senyum di sekitar hidung dan mulut diharapkan tampak lebih tersamar.
Hal lain yang menjadi perhatian adalah tampilan akhir. Pengangkatan jaringan tidak diarahkan untuk membuat wajah terlihat tertarik secara berlebihan.
Dengan pendekatan tersebut, ekspresi wajah diharapkan tetap terlihat natural dan karakter wajah pasien tidak berubah drastis.
Selain efek lifting, benang yang ditanam juga dapat memberikan stimulasi terhadap produksi kolagen dan elastin. Proses tersebut membantu meningkatkan kepadatan serta kualitas kulit secara bertahap.
"Kalau temboknya sudah kembali kuat, atapnya pun ikut terangkat dengan sendirinya. Karena itu hasilnya terlihat natural: pasien tetap menjadi dirinya sendiri, hanya saja lebih segar dan lebih muda," kata dr. Junivan.
Meski menawarkan pendekatan untuk mengatasi wajah kendur, dr. Junivan menekankan bahwa tindakan estetika tetap membutuhkan evaluasi yang tepat.
Sebelum prosedur dilakukan, dokter perlu memahami struktur wajah pasien, mengevaluasi riwayat kesehatan, menjelaskan prosedur secara terbuka, serta melakukan dokumentasi kondisi sebelum dan sesudah tindakan.
Advanced Reverse Technique, menurut dia, lebih sesuai untuk pasien dengan kondisi kulit kendur ringan hingga sedang, kualitas kulit yang masih cukup baik, serta menginginkan perubahan kontur wajah yang tetap terlihat natural.
Sementara pada kondisi wajah yang mengalami kekenduran lebih berat, dokter perlu mempertimbangkan pilihan tindakan lain yang lebih sesuai dengan kondisi pasien.
Dengan demikian, keberhasilan tindakan tidak hanya ditentukan oleh teknik maupun jenis benang yang digunakan, tetapi juga ketepatan dalam memilih pasien dan memahami anatomi wajah.
Bagi dr. Junivan, tujuan utama prosedur estetika bukan sekadar membuat seseorang terlihat berbeda, melainkan membantu mengembalikan struktur wajah sehingga tampak lebih segar tanpa kehilangan karakter aslinya.
Editor : Arif Ardliyanto
Artikel Terkait
