BANYUWANGI, iNewsSurabaya.id – Kemarau panjang mulai memukul petani di Banyuwangi Selatan. Kekurangan air irigasi membuat tanaman padi mengering, tanah persawahan retak, dan harapan petani untuk memanen hasil tanamannya semakin menipis.
Dampak kekeringan tersebut dirasakan Tukiran, petani asal Desa Glagahagung, Kecamatan Purwoharjo, Kabupaten Banyuwangi. Padi yang ditanamnya kini layu akibat tidak mendapatkan pasokan air yang cukup, sementara biaya pengolahan dan sewa lahan sudah terlanjur dikeluarkan.
Kondisi sawah yang semestinya menjadi sumber penghasilan justru berubah menjadi ancaman kerugian. Tanaman padi tidak tumbuh optimal karena hujan tak kunjung turun selama berbulan-bulan, sedangkan ketersediaan air untuk mengairi lahan semakin terbatas.
Pantauan di lokasi memperlihatkan tanaman padi mulai mengering. Permukaan tanah yang retak menggambarkan parahnya kekurangan air di area persawahan tersebut. Jika kondisi ini terus berlanjut, tanaman berisiko tidak menghasilkan gabah sehingga petani terancam kehilangan pendapatan dari musim tanam kali ini.
Tukiran mengaku kesulitan mempertahankan tanaman padinya di tengah kondisi cuaca yang tidak bersahabat. Lahan seluas satu hektare yang disewanya untuk bercocok tanam kini belum memberikan kepastian hasil.
“Tanaman padi saya layu dan tidak berkembang karena kemarau. Padahal, lahan sawah seluas satu hektare ini kami sewa untuk ditanami padi,” kata Tukiran.
Persoalan yang dihadapi Tukiran bukan sekadar tanaman yang tumbuh tidak maksimal. Modal untuk menyewa lahan sudah dikeluarkan, tetapi minimnya air membuat peluang memperoleh hasil panen semakin kecil. Apabila tanaman benar-benar gagal menghasilkan, biaya yang telah dikeluarkan berpotensi menjadi kerugian.
“Kami pasrah saja meskipun harus merugi. Lahan yang kami sewa tidak bisa menghasilkan karena tidak ada air untuk mengairi sawah,” ujarnya.
Bagi petani yang menggantungkan penghasilan dari sawah, kekeringan berkepanjangan menjadi pukulan berat. Selain terancam kehilangan hasil panen, mereka juga harus menanggung biaya produksi yang telah dikeluarkan tanpa kepastian memperoleh pemasukan.
Kepala Pengairan Kecamatan Tegaldlimo, Bambang Gunawan, membenarkan bahwa kemarau panjang berdampak signifikan terhadap ketersediaan air untuk mengairi persawahan. Terbatasnya debit air membuat distribusi irigasi harus dilakukan secara bergiliran agar kebutuhan sejumlah wilayah tetap bisa dilayani.
Menurut Bambang, sumber pasokan air untuk pertanian berasal dari Setail, Kecamatan Genteng, dengan debit sekitar 300 liter per detik. Air tersebut harus didistribusikan untuk memenuhi kebutuhan enam kejuron, yakni Grajagan, Ringinpitu, Kedunggebang, Kampung Sepuluh, Kalipait, dan Dambuntung.
“Dengan debit air yang hanya sekitar 300 liter per detik, pendistribusiannya harus dilakukan secara bergantian dan bergilir. Kondisi ini membuat petani harus bersabar untuk mendapatkan pasokan air bagi lahan persawahan mereka,” terang Bambang.
Pembagian air ke enam kejuron tersebut menjadi tantangan di tengah kemarau panjang. Dengan pasokan yang terbatas, kebutuhan irigasi seluruh lahan tidak dapat dipenuhi secara bersamaan. Akibatnya, petani harus menunggu giliran untuk memperoleh air, sementara tanaman padi membutuhkan pasokan yang cukup agar tetap tumbuh.
Bambang menegaskan, pihaknya belum dapat memastikan seluruh lahan persawahan teraliri air secara optimal. Keterbatasan debit membuat pengairan sementara hanya bisa diupayakan untuk memenuhi sekitar 50 persen dari kebutuhan lahan.
“Dalam kondisi seperti ini, kami belum berani menjanjikan seluruh lahan persawahan bisa teraliri air. Dengan keterbatasan debit yang ada, untuk sementara kami hanya bisa mengupayakan pengairan sekitar 50 persen dari kebutuhan lahan. Kemarau panjang ini sangat berpengaruh terhadap ketersediaan air untuk pertanian,” ucapnya.
Situasi tersebut membuat petani menghadapi ketidakpastian pada musim tanam kali ini. Jika pasokan air tidak segera mencukupi dan kemarau terus berlangsung, kerusakan tanaman dikhawatirkan semakin meluas. Petani pun berharap ada upaya untuk mengatasi keterbatasan irigasi agar sawah yang masih bisa diselamatkan tidak ikut mengering dan potensi kerugian dapat ditekan.
Editor : Arif Ardliyanto
Artikel Terkait
