18 Agenda Hari Santri 2026 di Surabaya, Ada Mujahadah Kubro untuk Palestina Jalan Sehat 5.000 Santri
SURABAYA, iNewsSurabaya.id – Peringatan Hari Santri Nasional (HSN) 2026 di Kota Surabaya tidak hanya diisi kegiatan seremonial. Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kota Surabaya menyiapkan 18 agenda yang memadukan tradisi pesantren, penguatan karakter generasi muda, literasi digital, hingga aksi kemanusiaan untuk Palestina.
Mengusung tema “Menguatkan Akar Tradisi, Menjaga Keutuhan Negeri”, rangkaian kegiatan berlangsung pada 8–31 Oktober 2026. Dua agenda yang menjadi perhatian adalah Mujahadah Kubro untuk Kemanusiaan dan Palestina pada 22 Oktober serta Fun Walk 5.000 Santri pada 25 Oktober 2026.
Ketua Tanfidziyah PCNU Kota Surabaya, Ir. H. Masduki Toha, menegaskan bahwa Hari Santri harus menjadi momentum untuk meneruskan perjuangan ulama sekaligus memperkuat peran santri dalam menghadapi tantangan zaman.
“Hari Santri bukan sekadar mengenang perjuangan para ulama dan santri pada masa kemerdekaan. Momentum ini harus menjadi pengingat bahwa menjaga keutuhan bangsa membutuhkan ilmu, akhlak, nasionalisme, dan kepedulian terhadap sesama. Santri harus mampu mempertahankan tradisi pesantren sekaligus menjawab tantangan zaman,” ujar Masduki Toha.
Menurutnya, nilai-nilai perjuangan yang diwariskan para ulama perlu diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari. Penguatan keagamaan harus berjalan beriringan dengan penguasaan ilmu pengetahuan, kemampuan beradaptasi, serta kontribusi nyata bagi masyarakat.
Ketua Panitia HSN 2026 PCNU Kota Surabaya, Gus Achmad Jani atau yang akrab disapa Gus Jani, menjelaskan bahwa 18 agenda tahun ini dirancang untuk menjangkau berbagai kalangan, mulai dari santri pesantren, pelajar, remaja, pengurus NU, hingga masyarakat umum.
“Kami ingin Hari Santri menjadi ruang untuk menghidupkan tradisi keilmuan pesantren sekaligus membuka kesempatan bagi generasi muda untuk berkembang. Karena itu, kegiatannya tidak hanya berkaitan dengan keagamaan, tetapi juga pendidikan, kewirausahaan, kepemimpinan, dan kecakapan digital,” kata Gus Jani.
Salah satu kegiatan yang disiapkan adalah Bimbingan Remaja Usia Sekolah (BRUS) di enam sekolah dengan sasaran 1.000 santri. Program ini menjadi bagian dari upaya pembinaan generasi muda agar memiliki bekal pengetahuan, karakter, dan kemampuan menghadapi tantangan sosial.
Sejumlah agenda lainnya meliputi Lomba Al-Banjari, Bahtsul Masail, Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) kategori qiraah dan tartil, Dauroh Tahqiq, A Walk Full Heritage, serta Lomba Khutbah Jumat Remaja.
PCNU Surabaya juga menggelar Lomba Nadhom Aqidatul Awam, Business Plan Competition untuk generasi Z, Lomba Storytelling bertema kehidupan santri dan remaja, Liwetan Pesantren, pelatihan 99 Santri Melek Digital, serta Lomba Kitab Kuning.
Rangkaian kegiatan turut mencakup ziarah ke makam para muassis atau pendiri dan muharrik atau penggerak Nahdlatul Ulama, apel Hari Santri tingkat kecamatan, serta kegiatan lain yang mempertemukan unsur tradisi, pendidikan, dan kebangsaan.
Melalui lomba dan pembinaan tersebut, kemampuan membaca serta memahami kitab-kitab klasik tetap mendapat perhatian. Pada saat yang sama, pelatihan digital dan kompetisi bisnis diharapkan membuka ruang bagi santri untuk mengembangkan keterampilan yang relevan dengan kebutuhan masa kini.
Gus Jani menambahkan, penguatan tradisi dan adaptasi terhadap perkembangan zaman bukan dua hal yang harus dipertentangkan. Keduanya dapat berjalan bersama untuk menyiapkan generasi santri yang memiliki fondasi keagamaan kuat sekaligus mampu berkontribusi dalam kehidupan sosial dan ekonomi.
Peringatan Hari Santri memiliki hubungan erat dengan sejarah perjuangan bangsa, terutama peristiwa Resolusi Jihad yang diserukan para ulama pada 22 Oktober 1945.
Tanggal tersebut kemudian ditetapkan sebagai Hari Santri Nasional melalui Keputusan Presiden Nomor 22 Tahun 2015. Resolusi Jihad menjadi salah satu momentum penting yang mendorong keterlibatan santri dan masyarakat dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia.
Di Surabaya, jejak sejarah tersebut berkaitan dengan gedung PCNU Kota Surabaya di Jalan Pahlawan. Bangunan itu dahulu menjadi kantor pusat Nahdlatul Ulama atau Hoofdbestuur Nahdlatoel Oelama (HBNO), yang disebut sebagai tempat dikumandangkannya Resolusi Jihad.
Semangat perjuangan tersebut turut mewarnai perlawanan rakyat Surabaya yang berpuncak pada peristiwa 10 November 1945. Nilai keberanian, persatuan, dan cinta tanah air yang diwariskan para ulama kemudian menjadi bagian penting dari ingatan kolektif bangsa.
Karena itu, Hari Santri tidak hanya menjadi peringatan bagi kalangan pesantren. Momentum ini juga menjadi kesempatan bagi masyarakat luas untuk memahami kontribusi ulama dan santri dalam perjalanan sejarah Indonesia serta meneruskan semangat kebangsaan dalam konteks masa kini.
Sebelumnya, PCNU Kota Surabaya juga menggelar ziarah ke makam para pendiri dan penggerak NU pada Selasa (20/10/2026). Kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya merawat ingatan sejarah sekaligus mengenang perjuangan tokoh-tokoh yang membangun organisasi dan menggerakkan kehidupan keagamaan masyarakat.
Salah satu agenda utama HSN 2026 adalah Mujahadah Kubro untuk Kemanusiaan dan Palestina yang dijadwalkan berlangsung pada Kamis (22/10/2026) pukul 19.00 WIB.
Kegiatan tersebut akan digelar di Jalan Pahlawan, tepat di depan gedung PCNU Kota Surabaya. Mujahadah Kubro merupakan agenda Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) yang pelaksanaannya dipercayakan kepada PCNU Kota Surabaya sebagai tuan rumah.
Pemilihan lokasi di kawasan Jalan Pahlawan memiliki makna historis. Selain menjadi bagian dari pusat aktivitas masyarakat, kawasan tersebut berkaitan dengan sejarah perjuangan ulama dan Resolusi Jihad yang menjadi latar belakang penetapan Hari Santri Nasional.
Mujahadah Kubro diharapkan menjadi ruang doa bersama untuk kemanusiaan dan Palestina sekaligus memperkuat kepedulian terhadap masyarakat yang terdampak konflik dan krisis kemanusiaan.
Agenda besar berikutnya adalah Fun Walk 5.000 Santri pada Minggu (25/10/2026). Kegiatan ini dijadwalkan dimulai dan berakhir di Jalan Pahlawan, tepat di depan gedung PCNU Kota Surabaya.
Fun walk tersebut dirancang sebagai ajang silaturahmi yang melibatkan santri dan pengurus dari sekitar 80 pesantren, jajaran struktural NU mulai tingkat cabang hingga ranting, serta masyarakat umum.
Melalui dua kegiatan ini, PCNU Surabaya ingin menghadirkan peringatan Hari Santri yang mempertemukan nilai spiritual, persaudaraan, kepedulian kemanusiaan, dan semangat kebangsaan.
Pelaksanaan kegiatan yang berpusat di Jalan Pahlawan berpotensi memengaruhi aktivitas masyarakat di sekitar lokasi, terutama saat Mujahadah Kubro dan Fun Walk 5.000 Santri berlangsung.
Panitia menyatakan telah menyiapkan pengurusan izin kepada pihak terkait serta pemberitahuan kepada warga dan pihak yang terdampak penggunaan jalan. Langkah tersebut dilakukan untuk mendukung kelancaran kegiatan sekaligus meminimalkan gangguan terhadap aktivitas masyarakat.
PCNU Kota Surabaya juga menyampaikan permohonan maaf apabila persiapan maupun pelaksanaan rangkaian Hari Santri Nasional 2026 menimbulkan ketidaknyamanan bagi warga.
Panitia berharap masyarakat dapat memahami pelaksanaan kegiatan tersebut dan mendukung agar seluruh agenda berlangsung tertib serta lancar.
Melalui 18 agenda yang disiapkan, PCNU Kota Surabaya ingin menjadikan Hari Santri Nasional 2026 sebagai momentum untuk mempertemukan warisan tradisi pesantren dengan kebutuhan generasi masa kini.
Semangat Resolusi Jihad diharapkan tidak berhenti sebagai catatan sejarah, tetapi terus hidup melalui penguatan ilmu, pembentukan akhlak, kepedulian terhadap sesama, dan komitmen menjaga persatuan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Editor : Arif Ardliyanto
Artikel Terkait
