Misteri Mundurnya Rektor Untag Surabaya Terjawab, Ini Alasan Prof Mulyanto Lepas Jabatan
SURABAYA, iNewsSurabaya.id – Teka-teki mundurnya Mulyanto Nugroho dari kursi Rektor Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya akhirnya terjawab. Setelah hanya menjabat sekitar lima bulan, keputusan tersebut sempat memunculkan beragam spekulasi di kalangan civitas akademika maupun publik. Kini, pihak kampus Merah Putih memilih bersikap terbuka demi menjaga kepercayaan dan reputasi institusi.
Wakil Rektor II Untag Surabaya, Supangat menegaskan bahwa pengunduran diri Mulyanto murni dilatarbelakangi alasan keluarga. Menurutnya, sang profesor ingin lebih memfokuskan waktu dan perhatiannya pada keluarga. “Alasannya karena keluarga. Beliau ingin lebih fokus ke keluarga, dan saya rasa itu sangat wajar,” ujar Supangat.
Keputusan kampus untuk menjelaskan secara terbuka alasan tersebut bukan tanpa pertimbangan. Untag Surabaya tengah menapaki transformasi besar menuju World Class University, sehingga transparansi dinilai menjadi bagian penting dalam membangun citra dan tata kelola institusi yang profesional.
Tak ingin berlarut-larut, universitas bergerak cepat memastikan roda organisasi tetap berjalan. Harjo Seputro resmi ditunjuk sebagai Rektor Untag Surabaya periode 2026–2029 untuk melanjutkan estafet kepemimpinan. Bersamaan dengan itu, dilakukan pula penataan ulang sejumlah posisi strategis di tingkat pimpinan.
Reposisi jabatan meliputi Amanda Pasca Rin, Psikolog sebagai Wakil Rektor I, Supangat, sebagai Wakil Rektor II, serta Sumiati sebagai Wakil Rektor III. “Perubahan ini sesuatu yang wajar dalam dinamika organisasi. Selain Bu Amanda, ada beberapa penyesuaian lain,” terang Supangat.
Perubahan juga menyentuh sektor humas dan kerja sama. Jabatan Kepala Bagian Humas dan Protokoler kini diemban Rahmania atau akrab disapa Zie, menggantikan Dinda Lisna Amilia yang mendapat promosi ke Biro Rektorat. Sementara itu, Slamet Riyadi dipercaya mengemban peran Kepala LPPM Untag Surabaya.
Rektor Untag Surabaya Harjo Seputro menegaskan, kemajuan perguruan tinggi tidak ditentukan oleh satu figur semata, melainkan kerja kolektif seluruh tim. “Keberlangsungan universitas tidak bisa bergantung pada satu orang. Yang menentukan maju tidaknya kampus adalah tim,” tegasnya.
Komitmen tersebut tercermin dari capaian Untag Surabaya yang berhasil meraih sertifikasi ASEAN University Network Quality Assurance (AUN-QA) pada Maret 2024. Tiga program studi—Sarjana Administrasi Publik, Arsitektur, dan Psikologi—menjadi pionir dalam memenuhi standar mutu pendidikan tinggi tingkat Asia Tenggara. “Capaian ini menjadi pijakan untuk memperkuat sistem penjaminan mutu, dan ke depan kami ingin seluruh program studi mengikuti,” kata Harjo.
Prestasi mahasiswa pun menjadi cerminan arah pengembangan Untag Surabaya. Sebanyak 62 mahasiswa tercatat menorehkan prestasi internasional, baik akademik maupun non-akademik. Mulai dari kompetisi ilmiah, riset dan inovasi, kewirausahaan, hingga olahraga dan seni.
Salah satu prestasi membanggakan diraih melalui juara I kategori esai inovasi dan bisnis dalam International Business and Management Virtual Innovation & Invention of Ideas Competition (VIIIC 2025) di Malaysia. Di bidang olahraga, mahasiswa Teknik Industri Yuan Jodie Hibatullah sukses merebut emas cabang hoki pada SEA Games Thailand 2025. Tak kalah gemilang, mahasiswa Untag Surabaya juga membawa pulang medali emas dan perunggu dari WOMAU International Martial Art Contest 2025 di Korea Selatan.
“Rekam jejak ini menunjukkan bahwa pembinaan talenta mahasiswa Untag Surabaya diarahkan untuk bersaing di level global,” pungkas Harjo.
Editor : Arif Ardliyanto