Stay Classy, Not Bully: Edukasi Politik Humanis Masuk Sekolah di Surabaya
SURABAYA, iNewsSurabaya.id – Kesadaran politik tak selalu harus dimulai dari mimbar kampanye atau ruang debat orang dewasa. Di lingkungan sekolah, benih itu justru tumbuh lewat dialog ringan, refleksi diri, dan pembelajaran etika. Inilah yang coba dihadirkan mahasiswa Universitas Wijaya Kusuma Surabaya melalui kegiatan Politik Goes To School (PGTS) Vol. 3 di Masjid Sekolah Wijaya Putra, Surabaya.
Mengusung tema “Stay Classy, Not Bully”, kegiatan ini diikuti seluruh siswa kelas XI SMA Wijaya Putra. Sejak dimulai pukul 08.30 WIB hingga menjelang 11.00 WIB, suasana acara berlangsung tertib namun penuh antusias. Para siswa tampak aktif menyimak, berdiskusi, hingga terlibat dalam sesi tanya jawab yang dikemas interaktif.
Wakil Kepala Sekolah SMA Wijaya Putra, Nisfi Qomariah, S.Pd., menyambut positif inisiatif para mahasiswa tersebut. Menurutnya, kegiatan semacam ini sangat relevan bagi siswa kelas XI yang sedang berada pada fase pencarian jati diri dan pembentukan karakter.
“Sikap saling menghormati dan beretika adalah modal utama untuk menjadi pemimpin yang baik di masa depan,” ujarnya.
Lebih dari sekadar pengenalan politik, PGTS Vol. 3 dirancang sebagai ruang edukatif untuk menanamkan nilai etika, empati, dan tanggung jawab sosial di kalangan pelajar. Hal ini tercermin dari materi yang disampaikan para pemateri, yang dekat dengan realitas keseharian siswa.
Materi pertama bertajuk “Dari Postingan ke Pengadilan: Etika Online untuk Generasi Muda” disampaikan oleh Virgiawan Budi Prasetyo, S.H. Dalam paparannya, ia mengajak siswa memahami bahwa perundungan dan ujaran kebencian di media sosial bukan sekadar persoalan etika, tetapi juga bisa berujung pada konsekuensi hukum dan luka psikologis.
“Satu komentar yang kita anggap sepele bisa menjadi luka besar bagi orang lain, dan bisa pula menjadi masalah hukum bagi diri kita sendiri,” tegasnya, sembari mengaitkan tema Stay Classy, Not Bully dengan tanggung jawab berkomunikasi di ruang digital.
Setelah sesi tanya jawab dan ice breaking, suasana semakin cair saat materi kedua disampaikan. Bertajuk “Jejak Digital: CV Abadi yang Bisa Menghancurkan atau Membangun Karirmu”, materi ini dibawakan oleh Gabriella Theri C.S., S.Psi., CSE. Para siswa terlihat mulai menyadari bahwa unggahan di media sosial bukan sekadar ekspresi sesaat, melainkan rekam jejak yang bisa memengaruhi masa depan mereka.
“Jejak digital adalah cermin kepribadian kita. Jika kita mengisinya dengan kebencian dan perundungan, maka itulah yang akan dilihat dunia,” ujarnya.
Ia menekankan pentingnya menjaga sikap berkelas, baik dalam interaksi langsung maupun di dunia maya, sebagai bagian dari pembentukan citra diri dan karakter generasi muda.
Bagi mereka, menjadi generasi cerdas ternyata bukan hanya soal prestasi akademik, tetapi juga tentang keberanian bersikap santun, beretika, serta menolak segala bentuk perundungan—baik di dunia nyata maupun di ruang digital.
Editor : Arif Ardliyanto