Pelabuhan Merauke Kewalahan, Asosiasi Logistik Minta Pembangunan Depo Peti Kemas di Luar Pelabuhan
MERAUKE, iNewsSurabaya.id – Denyut pembangunan di Papua Selatan kian terasa. Di balik geliat proyek dan pertumbuhan ekonomi wilayah timur Indonesia, Pelabuhan Merauke kini memikul beban yang semakin berat sebagai gerbang utama logistik.
Setiap kontainer yang datang membawa harapan: bahan pangan, material bangunan, hingga kebutuhan industri. Namun di sisi lain, peningkatan arus barang membuat lapangan penumpukan di dalam pelabuhan semakin sesak. Para pelaku usaha pun mulai angkat suara, mendesak percepatan pembangunan depo peti kemas di luar area pelabuhan sebagai solusi jangka panjang.
Ketua DPC Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI/ILFA) Merauke, Abi Bakri Alhamid, mengatakan pertumbuhan pembangunan di Papua Selatan otomatis mendorong kenaikan arus logistik ke Merauke. Kondisi tersebut membuat kapasitas pelabuhan saat ini semakin teruji.
“Merauke sudah harus memiliki depo peti kemas di luar area pelabuhan. Ini solusi jangka panjang agar distribusi kontainer tidak menumpuk di dalam pelabuhan,” ujarnya.
Menurut Abi, untuk jangka pendek pemerintah daerah juga perlu memberi izin agar kontainer bisa langsung keluar menuju gudang distributor. Langkah itu dinilai penting untuk mencegah stagnasi di lapangan penumpukan.
Kondisi di lapangan pun tak bisa dipungkiri. Kepala Cabang PT Salam Pacific Indonesia Lines (SPIL) Merauke, Puji Hermoko, menyebut lapangan penumpukan di dalam pelabuhan sudah cukup padat.
Saat ini, lokasi peti kemas siap muat dan hasil bongkar kapal masih bercampur dengan aktivitas stripping (pembongkaran muatan) dan stuffing (penataan muatan). Akibatnya, ruang gerak semakin terbatas.
“Kondisi stripping dan stuffing masih dilakukan di dalam pelabuhan. Ini membuat lapangan penumpukan padat, sehingga bongkar muat kapal tidak optimal dan berdampak pada waktu tunggu kapal,” jelasnya.
Jika dibiarkan, antrean kapal bisa semakin panjang, sementara kebutuhan masyarakat terus meningkat.
Kepala Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Kelas IV Merauke, Julivan Ch. L. Salindeho, mengakui keterbatasan lahan menjadi tantangan utama. Luas lapangan penumpukan di dalam pelabuhan hanya sekitar 1,5 hektar.
“Walaupun luasnya 1,5 hektar, yang benar-benar bisa berfungsi optimal hanya sekitar 1 sampai 1,2 hektar,” ungkapnya dalam rapat bersama Bappenas belum lama ini.
KSOP bersama Pelindo, pemerintah daerah, perusahaan pelayaran, serta pelaku usaha jasa pengurusan transportasi kini memperkuat koordinasi. Fokusnya adalah menyiapkan depo peti kemas di luar pelabuhan agar aktivitas stuffing dan stripping dapat dipindahkan keluar.
Dengan begitu, kapasitas lapangan di dalam pelabuhan bisa dioptimalkan untuk mempercepat bongkar muat dari dan ke kapal.
Tantangan Baru: Operasional Pabrik Tebu
Direktur PT Berkah Mutiara Laut, Suroso, mengingatkan bahwa tantangan ke depan akan semakin besar, terutama ketika pabrik tebu mulai beroperasi. Aktivitas distribusi logistik dipastikan melonjak signifikan.
Menurutnya, pembangunan depo bukan sekadar menambah lahan, tetapi menjaga keberlangsungan rantai pasok masyarakat Papua Selatan.
Lokasi depo idealnya tidak jauh dari pelabuhan, maksimal sekitar tiga kilometer dari dermaga. Pertimbangannya sederhana namun krusial: kondisi jalan di Merauke tidak semuanya bisa dilalui kendaraan kontainer.
“Di tengah pertumbuhan arus barang dan ambisi pembangunan kawasan, kesiapan infrastruktur pelabuhan menjadi kunci agar Merauke benar-benar mampu menopang denyut ekonomi Papua Selatan,” tegasnya.
Data PT Pelindo Terminal Petikemas menunjukkan tren pertumbuhan arus peti kemas di Pelabuhan Merauke dalam dua tahun terakhir mencapai 14 persen.
Pada 2025, arus peti kemas tercatat 52.715 TEUs, naik dari 46.429 TEUs pada 2024. Sementara pada 2023, arus tercatat 40.671 TEUs. Angka ini menunjukkan pertumbuhan konsisten yang tak bisa diabaikan.
Terminal Head TPK Merauke, Muhammad Rasul Irmadani, menyebut penggunaan lapangan penumpukan untuk stripping dan stuffing membuat yard occupancy ratio (YOR) rata-rata mencapai 75 persen.
Jika depo di luar pelabuhan terealisasi, YOR diperkirakan dapat ditekan hingga sekitar 40 persen, sehingga kapasitas terminal lebih optimal.
Untuk mendukung peningkatan kapasitas, Pelindo juga menambah sejumlah alat operasional, termasuk side loader, head truck, chassis, serta reach stacker yang sedang dalam proses pengiriman.
“Kami sangat mendukung keberadaan depo di luar pelabuhan. Dengan demikian kapasitas lapangan penumpukan dapat optimal untuk kegiatan bongkar muat peti kemas yang setiap tahun semakin meningkat,” pungkasnya.
Editor : Arif Ardliyanto