Kisah Chef di Surabaya, 20 Tahun Meniti Karier di Timur Tengah Kini Bawa Cita Rasa 120 Menu Autentik
SURABAYA, iNewsSurabaya.id – Menjelang azan Magrib, dapur hotel di Surabaya ini dipenuhi aroma kapulaga, kayu manis, dan daging yang dimasak perlahan. Di tengah kesibukan timnya, Cluster Executive Chef Karunia Samsudin yang akrab disapa Chef Sam berdiri memastikan setiap sajian matang dengan presisi.
Bagi Chef Sam, Ramadan bukan sekadar musim ramai reservasi berbuka puasa. Bulan suci adalah momen menghadirkan rasa yang menyimpan cerita, tentang perjalanan, keluarga, dan kebersamaan di satu meja.
Perjalanan kuliner Chef Sam dimulai pada 2005. Selama lebih dari dua dekade, ia menapaki dapur-dapur hotel berbintang, membangun reputasi sekaligus memperkaya perspektif rasa. Ia pernah menjadi bagian dari tim di Sheraton Surabaya Hotel, The St. Regis Bali Resort, hingga Jumeirah Maldives Olhahali Island.
Namun fase yang paling membentuk karakter memasaknya justru terjadi ribuan kilometer dari Indonesia. Selama lebih dari tiga tahun, Chef Sam berkarier di Dubai, tepatnya di The Westin Dubai Mina Seyahi Beach Resort & Marina dan Le Méridien Mina Seyahi Beach Resort.
Di sanalah ia mendalami filosofi kuliner Timur Tengah—tentang kesabaran dalam proses memasak, keberanian meracik rempah, serta makna makanan sebagai simbol persaudaraan.
“Masakan Timur Tengah bukan hanya soal rasa yang kuat, tetapi soal proses dan cerita di baliknya. Banyak hidangan dimasak perlahan karena memang dibuat untuk dinikmati bersama keluarga,” ujar Chef Sam.
Pengalaman lintas budaya itu kini ia tuangkan dalam konsep Ramadan bertajuk “A Journey to Egypt”. Tema ini menghadirkan perjalanan rasa yang terinspirasi dari tradisi kuliner Mesir—negara yang dikenal dengan sejarah panjang dan warisan gastronominya.
Lebih dari 120 varian menu khas Mesir dan Timur Tengah disiapkan, dengan rotasi hidangan berbeda setiap hari sepanjang Ramadan. Mulai dari aneka hidangan pembuka bercita rasa segar, sajian utama kaya rempah yang dimasak perlahan, hingga dessert khas Timur Tengah dengan sentuhan manis yang lembut.
Chef Sam menekankan, tantangan terbesarnya bukan sekadar menghadirkan menu internasional, melainkan menjaga keseimbangan antara autentisitas dan selera lokal.
“Kuncinya ada pada keseimbangan. Kami tetap menjaga teknik dan racikan rempah khas Timur Tengah, tetapi memastikan tamu Indonesia tetap nyaman menikmati setiap suapan,” jelasnya.
General Manager Mövenpick Hotel Surabaya City, Toat Edi Wijaya, menyebut pengalaman global Chef Sam menjadi kekuatan utama konsep Ramadan tahun ini.
“Melalui ‘A Journey to Egypt’, kami ingin menghadirkan pengalaman iftar yang bukan hanya memanjakan cita rasa, tetapi juga menghadirkan kehangatan kebersamaan,” ujarnya.
Di tengah tren kuliner modern yang serba cepat dan instan, Chef Sam justru percaya Ramadan adalah pengingat untuk kembali pada esensi makanan: mempertemukan orang-orang dalam suasana hangat.
Baginya, sajian terbaik bukan yang paling mahal atau paling rumit, melainkan yang mampu meninggalkan kenangan.
“Ramadan selalu tentang berbagi. Kalau tamu pulang dengan perasaan hangat setelah berbuka, itu berarti kami berhasil,” tutupnya.
Editor : Arif Ardliyanto