Jejak Sejarah Wafatnya Gubernur Jenderal Pieter Merkus di Surabaya
SURABAYA, iNewsSurabaya.id – Sejarah kolonial di Surabaya mencatat kisah wafatnya Gubernur Jenderal Hindia Belanda, Pieter Merkus, yang meninggal dunia pada 2 Agustus 1844.
Sebelumnya, pada 13 Februari 1843, Pieter Merkus ditugaskan ke wilayah Oosthoek hingga Banyuwangi sebelum kembali ke Surabaya.
Dalam perjalanan tersebut, kondisi kesehatannya mulai menurun. Setibanya di Surabaya, ia menginap di Gedung Grahadi, yang saat itu dikenal sebagai Huiz van Simpang, dalam kondisi yang sudah melemah.
Gubernur Jenderal yang dikenal memiliki pendekatan humanis ini akhirnya wafat di Surabaya, meninggalkan duka mendalam bagi masyarakat serta kalangan pemerintahan Hindia Belanda pada masa itu.
Pada hari pemakamannya, iring-iringan jenazah dipadati warga yang berjejer di sepanjang rute dari kawasan Simpang hingga Benteng Prins Hendrik, yang kini berada di sisi timur Jembatan Petekan.
Prosesi tersebut diikuti garnisun, Angkatan Laut, milisi, serta para pejabat, dan diawali dengan tembakan meriam sebagai bentuk penghormatan terakhir.
Seiring waktu, makam Pieter Merkus sempat dipindahkan ke kawasan Makam Peneleh. Proses pemindahan ini tidak berlangsung mudah.
Peti jenazah ditemukan dalam kondisi bagian kayu telah rusak, sementara lapisan timah di dalamnya mengalami retakan. Untuk menjaga kehormatan mendiang, dibuatkan peti jenazah baru sebelum proses pemindahan dilanjutkan.
Pemindahan jenazah dilakukan melalui rute panjang yang melintasi sejumlah kawasan penting di Surabaya pada masa itu, seperti Kampemenstraat, Pabean, Kembang Jepun, Jembatan Merah (Roode Brug), Willemskade, Societeitstraat, Staatstuin, Pasar Besar, hingga Jembatan Jagalan sebelum tiba di Peneleh.
Sejarah tersebut diungkap oleh Disatya Febriary. Ia menilai wafatnya Pieter Merkus bukan sekadar catatan kematian pejabat kolonial, melainkan juga mencerminkan posisi penting Surabaya sebagai pusat pemerintahan dan aktivitas militer pada masa itu.
“Peristiwa ini menunjukkan bagaimana Surabaya memiliki peran strategis dalam struktur pemerintahan kolonial,” ujarnya, Rabu (25/32/2026).
Ketertarikan Disatya terhadap bangunan kolonial mendorongnya bersama komunitas untuk terus menelusuri dan mengenalkan kembali sejarah Surabaya kepada publik. Aktivitas tersebut juga kerap menarik perhatian peneliti maupun tamu dari luar negeri yang ingin menelusuri asal-usul leluhur mereka.
Editor : Arif Ardliyanto