Kualitas Perikanan Indonesia Disorot, Food Loss Capai 14,78 Persen, Industri Tertekan Biaya Produksi
SURABAYA, iNewsSurabaya.id – Kualitas produk perikanan Indonesia terus menjadi perhatian berbagai pihak, mulai dari pemerintah hingga pelaku industri. Tantangan di sektor hulu hingga hilir dinilai masih cukup kompleks, terutama dalam menjaga mutu ikan, efisiensi biaya produksi, hingga penguatan rantai dingin (cold chain).
Plt. Direktur Jenderal Penguatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan RI, Machmud, SP., M.Sc yang diwakili Helwijaya Marpaung, menyoroti masih tingginya potensi kehilangan hasil perikanan atau food loss dan food waste di Indonesia.
“Sekitar 14,78 persen kehilangan terjadi, yang terbagi antara food loss dan food waste. Jika penanganan ikan terlalu lama hingga membusuk, itu masuk kategori food loss, sedangkan food waste berasal dari sisa konsumsi seperti di restoran,” jelasnya.
Ia menegaskan, pentingnya kolaborasi lintas sektor untuk memperbaiki penanganan ikan sejak awal. Mulai dari proses penangkapan, bongkar muat, hingga distribusi harus mengikuti standar operasional yang baik.
“Kolaborasi tidak hanya pada kegiatan penanganan ikan, tetapi juga bagaimana cara menangani ikan sejak ditangkap. SOP dan sertifikasi sudah ada, termasuk praktik budidaya yang baik. Namun implementasinya belum masif karena keterbatasan akses di sejumlah wilayah,” ujarnya.
Menurutnya, jika sistem ini berjalan optimal, potensi food loss bisa ditekan. Apalagi, konsumsi ikan nasional diproyeksikan meningkat dari 26 kilogram menjadi 28 kilogram per kapita, seiring pertumbuhan penduduk sekitar 22 persen.
“Ini peluang besar. Kebutuhan protein akan meningkat dan ikan menjadi solusi utama,” tambahnya.
Sementara itu, Ketua AP5I (Asosiasi Pengusaha Pengolahan & Pemasaran Produk Perikanan Indonesia), Saut Hutagalung, mengungkapkan tekanan besar yang dirasakan industri pengolahan, terutama dari sisi biaya produksi.
“Biaya input produksi naik signifikan, terutama bahan kemasan yang meningkat hingga 40–60 persen, termasuk bahan bakar dan logistik. Ini sangat terasa bagi industri,” ungkap Saut.
Ia juga menyoroti faktor musim yang memengaruhi hasil tangkapan ikan, seperti tuna dan cakalang yang mengalami penurunan produksi. Kondisi ini diperparah dengan kenaikan biaya transportasi dan distribusi.
“Situasi ini membuat industri harus melakukan efisiensi besar-besaran. Tidak banyak pilihan selain penghematan agar tetap bertahan,” katanya.
Saut menegaskan bahwa kualitas ikan harus dijaga sejak dari hulu. Pendinginan menjadi langkah utama untuk mencegah penurunan mutu.
“Mutu ikan tidak bisa diperbaiki jika sudah turun. Maka penanganan sejak di atas kapal hingga ke pabrik harus konsisten, terutama dalam menjaga suhu,” tegasnya.
Namun, ia mengakui masih banyak kapal penangkap ikan tradisional berbahan kayu yang belum mampu memenuhi standar suhu ideal, sehingga menjadi tantangan tersendiri, terutama saat menghadapi audit dari negara tujuan ekspor.
“Kita harus realistis dengan kondisi yang ada, tapi tetap konsisten menerapkan penanganan ikan yang baik di atas kapal,” imbuhnya.
Di sisi lain, Wakil Ketua Umum Bidang Cold Chain PPLI, Tejo Mulyono, menekankan pentingnya inovasi dalam sistem rantai dingin untuk menjaga kualitas ikan sekaligus menekan biaya.
“Nelayan dan pembudidaya membutuhkan teknologi pembekuan, namun selama ini biaya mesin seperti air blast freezer (ABF) masih mahal. Kami berupaya menghadirkan inovasi agar lebih terjangkau,” jelas Tejo.
Ia menyebutkan, pihaknya telah mengembangkan sistem yang mampu menekan konsumsi listrik dari tiga fase menjadi satu fase, sehingga lebih hemat energi dan setara dengan kebutuhan listrik rumah tangga.
Selain itu, pengembangan energi terbarukan seperti tenaga surya juga mulai diuji untuk mendukung efisiensi operasional di sektor perikanan.
“Kami juga mendorong integrasi sentra perikanan dengan jalur logistik utama, termasuk pelayaran kontainer, agar distribusi lebih efisien,” tambahnya.
Tejo juga menyoroti tingginya biaya investasi infrastruktur cold chain, seperti kontainer pendingin yang bisa mencapai Rp280 juta per unit. Hal ini menjadi tantangan besar bagi pelaku usaha, terutama skala kecil dan menengah.
Direktur PT Wahana Kemalaniaga Makmur (WAKENI), Sofianto Widjaja, turut menekankan pentingnya sinergi antara pelaku usaha, pemerintah, dan akademisi dalam meningkatkan kualitas perikanan nasional.
Ia berharap inovasi teknologi tepat guna terus dikembangkan, tidak hanya berhenti pada penelitian, tetapi juga bisa diaplikasikan langsung di lapangan.
Dengan berbagai tantangan tersebut, seluruh pihak sepakat bahwa kunci utama menjaga kualitas perikanan Indonesia terletak pada penguatan sistem dari hulu ke hilir, efisiensi biaya, serta penerapan teknologi yang tepat guna.
Jika hal ini dapat diwujudkan, Indonesia berpotensi besar menjadi pemain utama dalam industri perikanan global dengan produk berkualitas tinggi.
Editor : Arif Ardliyanto