UMKM Banyuwangi Sulap Kulit Cumi Jadi Camilan Premium, Produksi Melonjak Hingga 50 Persen
BANYUWANGI, iNewsSurabaya.id – Siapa sangka limbah kulit cumi yang selama ini dianggap tidak bernilai justru mampu menjadi sumber pendapatan baru bagi pelaku usaha di Banyuwangi. Melalui sentuhan inovasi dan teknologi tepat guna, limbah hasil perikanan tersebut kini menjelma menjadi rambak kulit cumi yang digemari pasar.
Adalah Pawonkoe Mevrouw, UMKM milik Diah Lestari yang berhasil mengolah kulit cumi menjadi camilan renyah dengan cita rasa khas. Produk tersebut kini menjadi salah satu oleh-oleh unggulan Banyuwangi yang memiliki nilai ekonomi tinggi.
"Alhamdulillah, dengan cita rasa yang khas, rambak kulit cumi ini menjadi salah satu produk unggulan daerah," ujar Diah, Rabu (17/6/2026).
Namun di balik kesuksesan itu, usaha yang dirintisnya sempat menghadapi sejumlah tantangan. Salah satunya keterbatasan peralatan produksi yang menyebabkan proses pengolahan belum maksimal.
Mesin spinner yang digunakan untuk meniriskan minyak hanya berkapasitas tiga liter, sehingga hasil rambak masih mengandung kadar minyak cukup tinggi. Kondisi tersebut berpengaruh terhadap tingkat kerenyahan produk sekaligus masa simpannya.
Tak hanya itu, potongan cumi yang tidak termanfaatkan selama proses produksi juga menjadi limbah yang belum memiliki nilai tambah.
"Selama ini potongan cumi yang tidak terpakai hanya terbuang dan menimbulkan persoalan limbah," katanya.
Melihat persoalan tersebut, Politeknik Negeri Banyuwangi (Poliwangi) melalui Program Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) menghadirkan solusi berbasis teknologi guna meningkatkan produktivitas sekaligus efisiensi usaha.
Program yang didukung Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Tahun 2026 itu fokus pada optimalisasi proses produksi dan penguatan manajemen usaha.
Tim PKM yang dipimpin Trias Ayu Laksanawati bersama Mega Lazuardi Umar, M. Habbib Khirzin, mahasiswa, serta melibatkan karyawan Pawonkoe Mevrouw, merancang mesin spinner baru berkapasitas 10 liter dengan kecepatan putar mencapai 900 rpm.
Mesin berbahan stainless steel food grade tersebut mampu mempercepat proses penirisan minyak sekaligus meningkatkan kualitas produk.
"Kami mendesain dan menerapkan mesin spinner peniris minyak berkapasitas lebih besar agar proses produksi lebih efektif dan kualitas produk meningkat," jelas Trias.
Tak berhenti pada peningkatan kapasitas produksi, tim PKM juga memperkenalkan mesin grinder untuk mengolah sisa potongan cumi menjadi bubuk kaldu alami yang memiliki potensi pasar tersendiri.
Inovasi ini membuat limbah yang sebelumnya terbuang kini berubah menjadi produk baru yang bernilai ekonomi.
"Tidak sekadar memberikan teknologi, kami juga mendampingi mitra melalui pelatihan operasional mesin, pengolahan kaldu, hingga penyusunan SOP produksi yang terintegrasi," tambah Trias.
Selain aspek produksi, pendampingan juga dilakukan pada sisi manajemen usaha. Pelaku UMKM diberikan pelatihan pencatatan keuangan sederhana agar mampu mengelola bisnis secara lebih profesional dan berkelanjutan.
"Kami tidak hanya memberikan alat, tetapi juga membekali mitra dengan kemampuan operasional dan manajemen usaha yang baik. Hal ini penting agar usaha tetap berkembang setelah program selesai," ujar Mega Lazuardi Umar.
Hasil pendampingan tersebut mulai dirasakan secara nyata oleh Pawonkoe Mevrouw. Kapasitas produksi rambak kulit cumi meningkat hingga sekitar 50 persen dibanding sebelumnya.
Selain itu, kadar minyak pada produk berhasil ditekan hingga di bawah lima persen sehingga menghasilkan rambak yang lebih renyah dan memiliki daya simpan lebih lama.
"Produksi rambak kulit cumi kini lebih cepat, hasilnya lebih kering, dan limbah potongan cumi tidak lagi terbuang karena bisa diolah menjadi kaldu cumi untuk dijual," ungkap Diah.
Ia mengaku sangat terbantu dengan program pendampingan yang dilakukan Poliwangi karena memberikan dampak langsung terhadap perkembangan usahanya.
"Terima kasih kepada tim Poliwangi. Semoga program seperti ini terus bermanfaat bagi masyarakat," tuturnya.
Keberhasilan tersebut menjadi bukti bahwa inovasi teknologi tepat guna mampu mendorong UMKM naik kelas. Selain meningkatkan daya saing produk lokal, program ini juga mendukung pengembangan ekonomi biru, pemberdayaan masyarakat pesisir, serta pencapaian target Sustainable Development Goals (SDGs) melalui pengelolaan sumber daya yang lebih berkelanjutan.
Editor: Arif Ardliyanto