get app
inews
Aa Text
Read Next : Khofifah Pamer Pertumbuhan Ekonomi, Investasi Tembus Rp147,3 Triliun

Pengurus Koperasi Merah Putih Surabaya Digembleng, Pola Pikir Anggota Diubah demi Koperasi Modern

Kamis, 23 Juli 2026 | 09:42 WIB
header img
LAPENKOPDA Surabaya menggelar diklat bagi pengurus Koperasi Merah Putih untuk meningkatkan kualitas SDM, memperkuat tata kelola, dan mengubah stigma koperasi hanya sebagai tempat pinjam uang. (Foto iNewsSurabaya.id/Chandra).

SURABAYA, iNewsSurabaya.id – Upaya memperkuat kualitas sumber daya manusia (SDM) pengelola koperasi terus dilakukan di Kota Surabaya. Lembaga Pendidikan Perkoperasian Daerah (LAPENKOPDA) Kota Surabaya memberikan pembekalan kepada pengurus dan anggota Koperasi Desa/Kelurahan (Kopdeskel) Merah Putih agar mampu mengelola koperasi secara profesional dan berkelanjutan.

Program tersebut dikemas melalui Diklat Perkoperasian (Pendidikan Anggota) bertema "Belajar Bersama, Maju Bersama, Sejahtera Bersama" yang digelar di Aula Kelurahan Semolowaru, Rabu (22/7/2026).

Pelatihan dibagi dalam dua sesi. Pada sesi siang, peserta berasal dari pengurus Kopdeskel Merah Putih Kecamatan Sukolilo. Mereka mendapatkan materi mengenai tata kelola koperasi, hak dan kewajiban anggota, hingga praktik pengelolaan koperasi agar lebih efektif dan sesuai dengan prinsip perkoperasian.

Ketua LAPENKOPDA Kota Surabaya, Setiobakti, menegaskan pendidikan anggota merupakan fondasi utama dalam membangun koperasi yang sehat. Menurutnya, masih banyak anggota koperasi yang belum memahami fungsi koperasi secara menyeluruh.

"Diklat ini ditujukan kepada anggota koperasi karena tidak semua anggota sepenuhnya memahami undang-undang perkoperasian. Fokus pertama pendidikan ini adalah menjelaskan hak dan kewajiban anggota. Dengan pemahaman tersebut, nantinya mereka bisa membuat koperasi menjadi lebih baik," ujarnya.

Ia mengungkapkan, hingga kini masih banyak masyarakat yang menganggap koperasi hanya berfungsi sebagai tempat meminjam uang. Padahal, koperasi memiliki beragam unit usaha produktif yang seharusnya dimanfaatkan seluruh anggotanya.

"Biasanya yang dipahami hanya pinjam uang saja. Padahal banyak koperasi memiliki sektor riil atau usaha lain yang harus dimanfaatkan anggota. Anggota itu pemilik sekaligus pengguna jasa koperasi. Pemahaman seperti inilah yang masih perlu diperkuat agar koperasi dapat berjalan maksimal," katanya.

Setiobakti menambahkan, pendidikan perkoperasian tidak berhenti pada kegiatan ini. Mengingat kepengurusan Koperasi Merah Putih di Surabaya masih relatif baru, pendampingan akan terus dilakukan agar kapasitas para pengurus semakin meningkat.

"Ini akan berlanjut. Dari Pemerintah Kota Surabaya baru dibentuk dengan sekitar 20 orang pengurus. Ini merupakan langkah pertama yang kita lakukan, sehingga ke depan program pendidikan ini akan terus berjalan," jelasnya.

Selain memperkuat kemampuan pengurus yang ada, LAPENKOPDA juga mulai menyiapkan regenerasi dengan mendorong keterlibatan generasi muda dalam kepengurusan koperasi.

Menurut Setiobakti, tantangan terbesar bukan sekadar mengajak anak muda bergabung, melainkan mengubah cara pandang mereka terhadap koperasi melalui pendidikan yang berkelanjutan.

"Kita ingin kepengurusan sekarang ada regenerasi dari anak-anak muda. Tantangannya kembali pada pemahaman. Melalui pendidikan anggota ini, kita ingin mengubah mindset mereka tentang wawasan perkoperasian," ungkapnya.

Sementara itu, salah seorang peserta diklat sekaligus Ketua Koperasi Merah Putih Semolowaru Surabaya, Totok Buhari, mengaku pelatihan tersebut menjadi bekal penting untuk meningkatkan kompetensi pengurus maupun anggota koperasi.

Ia berharap pendidikan seperti ini terus dilaksanakan agar seluruh anggota memiliki pemahaman yang sama mengenai tata kelola koperasi.

"Harapan kami sebagai pengurus, kegiatan ini bisa menambah kapasitas SDM tentang koperasi dan menyadarkan anggota bahwa pendidikan koperasi memang sangat dibutuhkan," katanya.

Totok juga mengungkapkan tantangan yang kini dihadapi pengurus koperasi, yakni memenuhi kebutuhan anggota, terutama penyediaan bahan pokok seperti minyak goreng yang belakangan mengalami kenaikan harga dan pasokan yang terbatas.

"Permintaan anggota belum semuanya bisa kami penuhi, terutama soal minyak goreng yang sekarang agak sulit dan harganya cenderung naik. Ini menjadi beban pengurus untuk memenuhi kebutuhan anggota," ujarnya.

Melalui program pendidikan ini, LAPENKOPDA Kota Surabaya berharap pengurus dan anggota koperasi tidak hanya memahami regulasi serta administrasi, tetapi juga mampu menerapkan prinsip-prinsip koperasi dalam aktivitas sehari-hari. Dengan SDM yang semakin kompeten, Koperasi Merah Putih diharapkan tumbuh lebih profesional, memperkuat ekonomi anggota, serta menjadi motor penggerak kesejahteraan masyarakat di Kota Surabaya.

Editor : Arif Ardliyanto

Follow Whatsapp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
Lihat Berita Lainnya
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut