Surabaya Catat Inflasi 3,45 Persen, Tertinggi di Jatim
SURABAYA, iNewsSurabaya.id – Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Jawa Timur (Jatim) mencatat inflasi tahunan (year on year/y-on-y) sebesar 2,87 persen pada Juli 2026. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan inflasi tahunan pada Juli 2025 yang sebesar 2,21 persen.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala BPS Provinsi Jatim, Herum Fajarwati, mengatakan inflasi terjadi karena adanya kenaikan harga pada sejumlah kelompok pengeluaran.
"Pada Juli 2026, inflasi year on year Jatim sebesar 2,87 persen. Sementara secara month to month terjadi deflasi sebesar 0,26 persen dan secara year to date inflasi mencapai 1,48 persen," ujar Herum dalam rilis BPS Jatim, Selasa (4/8/2026).
Berdasarkan data BPS, Indeks Harga Konsumen (IHK) Jatim naik dari 108,76 pada Juli 2025 menjadi 111,88 pada Juli 2026. Inflasi tahunan dipicu kenaikan harga pada hampir seluruh kelompok pengeluaran. Kelompok transportasi mencatat kenaikan tertinggi sebesar 6,09 persen.
Disusul kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya sebesar 8,98 persen, kelompok kesehatan 2,42 persen, kelompok makanan, minuman dan tembakau 2,35 persen, serta kelompok penyediaan makanan dan minuman atau restoran sebesar 2,32 persen.
Selain itu, kenaikan juga terjadi pada kelompok informasi, komunikasi dan jasa keuangan sebesar 2,15 persen, perumahan, air, listrik dan bahan bakar rumah tangga sebesar 1,15 persen, pendidikan 1,31 persen, rekreasi, olahraga dan budaya 1,51 persen, perlengkapan rumah tangga 1,28 persen, serta pakaian dan alas kaki sebesar 0,39 persen.
Herum menjelaskan, seluruh daerah yang menjadi cakupan IHK di Jatim mengalami inflasi tahunan pada Juli 2026. Inflasi tertinggi terjadi di Kota Surabaya sebesar 3,45 persen dengan IHK 112,43. Sementara inflasi terendah tercatat di Banyuwangi sebesar 1,73 persen dengan IHK 111,64.
Komoditas yang paling dominan mendorong inflasi tahunan antara lain emas perhiasan, angkutan udara, bensin, beras, minyak goreng, daging sapi, laptop atau notebook, Sigaret Kretek Mesin (SKM), nasi dengan lauk, telepon seluler, daging ayam ras, sepeda motor, air kemasan, tahu mentah, mobil, biaya perguruan tinggi, kontrak rumah, tempe, bahan bakar rumah tangga, serta Sigaret Kretek Tangan (SKT).
Di sisi lain, sejumlah komoditas menahan laju inflasi, yakni telur ayam ras, tomat, bawang merah, kelapa, dan cabai rawit.
Sementara secara bulanan (month to month), deflasi terutama dipengaruhi turunnya harga bawang merah, emas perhiasan, cabai rawit, telur ayam ras, cabai merah, angkutan udara, tomat, daging ayam ras, dan jagung manis.
Sedangkan komoditas yang mendorong inflasi bulanan antara lain bensin, beras, laptop atau notebook, bawang putih, daging sapi, bimbingan belajar, dan biaya sekolah dasar.
Editor : Arif Ardliyanto