Nyaris 50 Tahun, Pengusaha Garam Ini Masih Tangguh, Atlet Eks Kazakhstan Berhasil Ditaklukkan
SURABAYA, iNewsSurabaya.id – Semangat pantang menyerah ditunjukkan Direktur Utama sekaligus pendiri PT Garsindo Anugerah Sejahtera, Yohannes Sugiarto, S.H., M.M., yang sukses meraih kemenangan dalam ajang karate Kyokushin Full Contact. Di usia yang hampir menginjak 50 tahun, Yohannes berhasil menaklukkan Roy Bernado, atlet Kyokushin yang pernah bertanding di Kazakhstan dan All Japan.
Kemenangan tersebut menjadi bukti bahwa usia bukan penghalang untuk tetap berprestasi di dunia olahraga, terutama pada cabang karate full contact yang dikenal memiliki tingkat kontak fisik tinggi dan menuntut kondisi fisik prima.
Yohannes mengaku telah menekuni karate sejak masih duduk di bangku SMP. Kecintaannya terhadap olahraga bela diri itu terus dipertahankan hingga sekarang melalui latihan rutin dan disiplin tinggi.
"Saya hampir berusia 50 tahun, tetapi setiap hari tetap berlatih. Saya melakukan sekitar 150 kali squat dan 100 kali push-up setiap hari. Semua itu untuk menempa diri agar tubuh siap menghadapi pertandingan," ujar Yohannes.

Menurutnya, Kyokushin bukan sekadar olahraga adu kekuatan, tetapi juga sarana membangun karakter, disiplin, serta mental pantang menyerah. Latihan yang konsisten membuat tubuh menjadi lebih kuat sekaligus melatih fokus dalam mengambil keputusan saat bertanding.
Yohannes mengungkapkan bahwa dirinya sempat tertantang ketika mengetahui salah satu lawan yang akan dihadapinya adalah Roy Bernado, atlet yang memiliki pengalaman bertanding hingga Kazakhstan.
Ia menyadari secara postur tubuh lawannya jauh lebih besar. Karena itu, ia memilih menerapkan strategi berbeda daripada harus terlibat adu pukulan.
"Saya melihat tangan lawan sangat besar. Kalau saya memaksakan adu pukulan, tentu saya bisa kalah. Karena itu saya memilih menyerang dengan tendangan ke arah kepala yang memang menjadi celah pertahanannya," ungkapnya.
Strategi tersebut terbukti efektif. Tendangan yang dilepaskannya beberapa kali mampu memberikan tekanan kepada lawan hingga akhirnya Yohannes keluar sebagai pemenang.
Meski berhasil menang, ia mengaku harus menerima konsekuensi dari kerasnya pertandingan. Sepulang dari arena, hampir seluruh tubuhnya dipenuhi memar akibat benturan selama duel berlangsung.
"Waktu pulang saya lihat di cermin, tangan, kaki, lutut sampai tulang semuanya memar. Tetapi itulah bagian dari olahraga ini. Kami memang dilatih untuk memiliki fisik dan mental yang kuat," katanya.
Lebih jauh, Yohannes berharap olahraga bela diri, khususnya Kyokushin, semakin mendapat perhatian pemerintah. Menurutnya, pembinaan karate full contact mampu menjadi wadah positif bagi generasi muda untuk membangun karakter, disiplin, serta rasa percaya diri.
Ia menilai banyak anak yang menjadi korban perundungan justru mampu bangkit setelah mengikuti latihan bela diri.
"Saya berharap pemerintah memberi perhatian lebih kepada perguruan yang aktif membina atlet. Banyak anak yang awalnya minder atau menjadi korban bullying, setelah berlatih karate mereka menjadi lebih percaya diri. Kami bukan mengajarkan mereka berkelahi, tetapi mengajarkan disiplin, keberanian, dan menghormati orang lain," tegas Yohannes.
Menurut Yohannes, semakin banyak kompetisi dan dukungan terhadap perguruan aktif, semakin besar pula peluang lahirnya atlet-atlet Kyokushin Indonesia yang mampu bersaing di tingkat internasional.
Editor : Arif Ardliyanto