get app
inews
Aa Text
Read Next : Video Wisuda ke-124, Untag Surabaya Lepas Wisudawan Terbaik di Masyarakat

Bukan Dosen, Sosok Ini Ceramahi Profesor di Wisuda Untag, Ternyata Alumni yang Kerja di Jepang

Minggu, 23 Agustus 2026 | 16:26 WIB
header img
Alumni Untag Surabaya Mustofa Saifa yang kini bekerja di Jepang menjadi pembicara wisuda. Ia membagikan kunci sukses menghadapi dunia kerja global. Foto iNewsSurabaya.id/arif

SURABAYA, iNewsSurabaya.id – Suasana wisuda Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya kali ini terasa berbeda. Bukan profesor atau dosen yang berdiri menyampaikan pesan utama kepada para wisudawan, melainkan seorang alumni yang beberapa tahun lalu masih duduk sebagai mahasiswa.

Alumni tersebut adalah Mustofa Saifa, lulusan Program Studi Teknik Sipil Untag Surabaya angkatan 2020. Setelah menyelesaikan kuliah, Mustofa melanjutkan perjalanan karier ke Jepang dan kini bekerja di bidang konstruksi desain pada sebuah perusahaan internasional.

Mustofa kembali ke almamater bukan sekadar untuk menghadiri wisuda. Ia dipercaya menyampaikan orasi ilmiah di hadapan profesor, dosen, profesional dan mahasiswa.

Pengalaman bekerja di Jepang menjadi bagian penting dari materi yang disampaikan Mustofa. Ia mengingatkan para lulusan bahwa gelar akademik dan kemampuan teknis saja belum cukup untuk menjamin seseorang mampu bertahan di dunia kerja.


Alumni Untag Surabaya Mustofa Saifa yang kini bekerja di Jepang menjadi pembicara wisuda. Ia membagikan kunci sukses menghadapi dunia kerja global. Foto iNewsSurabaya.id/arif

Menurutnya, lulusan perguruan tinggi perlu memiliki kemampuan yang lebih luas, terutama ketika harus berhadapan dengan lingkungan profesional yang memiliki tuntutan dan karakter berbeda.

“Kompetensi saja tidak cukup. Kita harus mampu bekerja sama dengan orang lain. Ada komunikasi, kolaborasi, adaptasi, problem solving dan integritas,” ujar Mustofa dalam orasi ilmiahnya.

Mustofa menjelaskan bahwa komunikasi merupakan salah satu kemampuan yang sering kali menentukan keberhasilan seseorang di tempat kerja.

Seorang pekerja tidak hanya dituntut memahami pekerjaan secara teknis, tetapi juga harus mampu menjelaskan gagasan kepada rekan kerja dan atasan.

“Bagaimana cara kita menjelaskan kepada rekan kerja dan atasan. Kemudian bagaimana kita mampu bekerja dengan orang yang berbeda. Itu membutuhkan kolaborasi,” katanya.

Menurut Mustofa, kemampuan tersebut semakin penting ketika seseorang bekerja dalam lingkungan dengan latar belakang budaya yang beragam.

Pengalaman bekerja di Jepang membuatnya melihat bahwa pola kerja di dunia profesional memiliki tantangan berbeda dibandingkan ketika masih berada di bangku kuliah.

Perbedaan budaya kerja, sistem, teknologi hingga kebiasaan sehari-hari menuntut seseorang untuk cepat beradaptasi.

Karena itu, ia meminta para lulusan Untag tidak berhenti mengembangkan kemampuan setelah memperoleh ijazah.

Kemampuan memecahkan masalah juga menjadi perhatian Mustofa. Menurut dia, dunia kerja tidak hanya membutuhkan orang yang mampu menemukan persoalan, tetapi juga memahami akar masalah sebelum mengambil keputusan.

Di atas semua kemampuan tersebut, Mustofa menempatkan integritas sebagai fondasi utama.

“Integritas itu apakah kita akan tetap benar atau bekerja dengan baik meskipun tidak ada yang mengawasi. Karakter dan soft skill itulah yang akan membuat kita dipercaya,” tuturnya.

Rektor Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya, Dr. Harjo Seputro, S.T., M.T., mengatakan kehadiran alumni sebagai pembicara dalam rangkaian wisuda memiliki alasan tersendiri.

Menurut Harjo, pengalaman alumni yang sudah memasuki dunia profesional dapat memberikan gambaran yang lebih nyata kepada wisudawan mengenai kehidupan setelah lulus.

“Kalau yang menyampaikan adalah alumni kita sendiri, setidaknya akan menambah daya juang dan motivasi mereka. Ternyata lulusan Untag capaian dan targetnya bisa sampai global,” ujar Harjo.

Pengalaman Mustofa bekerja di Jepang dinilai menjadi contoh bahwa perjalanan seorang lulusan tidak berhenti setelah memperoleh gelar akademik.

Justru setelah meninggalkan kampus, lulusan akan menghadapi tantangan baru yang menuntut kemampuan teknis sekaligus kemampuan personal.

Harjo mengatakan Untag Surabaya terus mendorong mahasiswa agar memiliki daya saing yang lebih luas. Penguatan kerja sama dan jejaring internasional juga menjadi bagian dari upaya tersebut.

Ia menyebut terdapat empat program studi di Untag Surabaya yang telah meraih akreditasi unggul. Sejumlah program studi lainnya juga terus dipersiapkan untuk memperkuat pengakuan dan jejaring internasional.

Selain menjadi tenaga profesional, lulusan juga didorong mampu menciptakan peluang kerja.

“Lulusan kami tidak hanya mencari pekerjaan, tetapi juga bisa membuka lapangan kerja. Kami mulai dari mata kuliah, pendampingan sampai inkubasi bisnis,” jelasnya.

Untag Perluas Jejaring Perguruan Tinggi Internasional

Wakil Rektor III Untag Surabaya, Dr. Sumiati, M.M., menambahkan bahwa penguatan hubungan internasional menjadi salah satu agenda yang terus dikembangkan.

Menurut Sumiati, kerja sama dengan perguruan tinggi luar negeri tidak boleh berhenti sebatas penandatanganan nota kesepahaman.

“Kami tidak hanya MoU, tetapi implementasinya. Kami terus berkembang dalam menjalin kerja sama dengan perguruan tinggi internasional,” kata Sumiati.

Implementasi kerja sama tersebut dapat dilakukan melalui berbagai kegiatan akademik, termasuk program magang, pertukaran hingga keterlibatan mahasiswa dan peserta dari negara lain.

Jejaring internasional yang semakin luas diharapkan memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk memperoleh pengalaman yang tidak hanya berorientasi pada lingkungan kampus.

Kembali ke Kampus Membawa Pesan untuk Generasi Berikutnya

Kisah Mustofa Saifa menjadi gambaran menarik dalam prosesi wisuda Untag Surabaya. Alumni yang menyelesaikan kuliah pada 2020 itu kini kembali ke kampus dengan posisi berbeda.

Jika dahulu ia duduk sebagai mahasiswa dan menerima materi dari dosen, kali ini Mustofa berdiri di depan profesor, dosen, profesional dan mahasiswa untuk membagikan pengalaman yang diperolehnya setelah memasuki dunia kerja.

Perjalanannya dari lulusan Teknik Sipil hingga bekerja di Jepang menunjukkan bahwa tantangan lulusan tidak berhenti ketika prosesi wisuda selesai.

Pesan yang dibawanya pun tidak semata soal mengejar karier di luar negeri. Mustofa justru menekankan pentingnya membangun kemampuan yang membuat seseorang mampu dipercaya dan bekerja bersama orang lain.

Gelar akademik menjadi bekal awal. Namun komunikasi, kolaborasi, kemampuan beradaptasi, problem solving dan integritas menjadi modal yang ikut menentukan perjalanan seseorang setelah meninggalkan bangku kuliah.

Bagi para wisudawan Untag Surabaya, pengalaman Mustofa menjadi pengingat bahwa dunia profesional memiliki tantangan yang berbeda. Setelah toga dilepas, perjalanan sesungguhnya justru baru dimulai.

Editor : Arif Ardliyanto

Follow Whatsapp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
Lihat Berita Lainnya
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut