Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Aa Text
Share:
Read Next : 7.380 Siswa Surabaya Terima Bantuan Pendidikan, Eri Cahyadi Pastikan Anak Miskin Tetap Bisa Sekolah
Advertisement . Scroll to see content

Siswa Surabaya Siap Go International, Sekolah Ini Gandeng Institusi Tertua Singapura

Selasa, 25 Agustus 2026 | 12:24 WIB
  • author Arif Ardliyanto
Siswa Surabaya Siap Go International, Sekolah Ini Gandeng Institusi Tertua Singapura
Sekolah di Surabaya menggandeng Raffles Institution Singapura. Kolaborasi ini menyiapkan siswa menghadapi dunia global melalui IB, pertukaran siswa, dan pendidikan karakter. Foto iNewsSurabaya.id/arif

SURABAYA, iNewsSurabaya.id — Pendidikan di Surabaya mulai semakin terbuka dengan pengalaman belajar bertaraf internasional. Chung Chung Christian School (CCS) mengambil langkah baru dengan menjalin kolaborasi bersama Raffles Institution (RI) Singapore.

Kerja sama tersebut diperkenalkan dalam PathwayX, bagian dari rangkaian CCS Open House bertajuk Preparing Children with Future-Ready Skills. Kolaborasi ini diarahkan untuk memperluas pengalaman belajar siswa sekaligus mempersiapkan mereka menghadapi perubahan dunia yang semakin cepat.

School Board CCS Jane Tahir menilai pendidikan masa kini tidak cukup hanya berorientasi pada kemampuan akademik dan penguasaan materi pelajaran. Kemajuan teknologi, termasuk artificial intelligence (AI), membuat siswa membutuhkan kemampuan berpikir kritis, karakter, nilai, dan rasa tanggung jawab.

“Sebagai pelayan yang baik untuk melayankan kasih karunia Allah. Apa yang sudah dipercayakan, termasuk kemampuan kita, resources, pengaruh, dan anak-anak bukan milik kita, tapi kasih karunia Allah yang dititipkan untuk kita kelola dan edukasi,” tutur Jane dalam opening speech.


Sekolah di Surabaya menggandeng Raffles Institution Singapura. Kolaborasi ini menyiapkan siswa menghadapi dunia global melalui IB, pertukaran siswa, dan pendidikan karakter. Foto iNewsSurabaya.id/arif

Jane mengatakan ukuran keberhasilan pendidikan seharusnya tidak berhenti pada pencapaian seorang anak. Lebih dari itu, kemampuan yang dimiliki siswa diharapkan dapat digunakan untuk memberikan manfaat bagi orang lain.

“Bagi kami di CCS, keberhasilan bukan hanya pertanyaan seberapa sukses anak kita. Melainkan apa yang akan mereka pakai dari apa yang Tuhan sudah berikan kepada mereka untuk orang lain,” ujarnya.

CCS sendiri menerapkan kurikulum International Baccalaureate (IB) secara penuh, mulai jenjang early years untuk anak usia 2 tahun hingga program diploma bagi siswa usia 18 tahun.

Dalam proses pembelajaran, siswa menggunakan bahasa Inggris dan Mandarin serta mendapatkan pengalaman dengan berbagai perspektif dan latar belakang budaya.

Pendekatan tersebut diarahkan agar siswa terbiasa bertanya, berpikir kritis, melihat sebuah persoalan dari beragam sudut pandang, sekaligus memiliki international mindedness.

Siswa juga didorong memahami peran dan tanggung jawabnya sebagai bagian dari masyarakat global.

School Board Representative CCS Prof. Dr. (H.C.) Ir. Rolly Intan mengatakan persiapan anak untuk melanjutkan pendidikan ke luar negeri harus dilakukan secara menyeluruh.

Menurutnya, kemampuan akademik saja tidak cukup. Anak juga membutuhkan karakter, kematangan emosional, kecerdasan sosial, serta kemampuan mengambil keputusan ketika berhadapan dengan lingkungan dan budaya yang berbeda.

Rolly menambahkan, penerapan kurikulum IB juga memberikan ruang bagi setiap siswa untuk mengembangkan keunikan serta kekuatan masing-masing.

Kolaborasi dengan Sekolah Tertua di Singapura

Kerja sama CCS dengan Raffles Institution menjadi bagian dari upaya memperluas wawasan internasional siswa. RI merupakan salah satu institusi pendidikan tertua di Singapura yang berdiri sejak 1823.

Dean of Internationalization & Boarding RI Low June Meng mengatakan pengalaman belajar lintas budaya penting bagi perkembangan siswa.

Menurutnya, siswa perlu memiliki kesempatan untuk bertemu, bekerja sama, dan belajar dengan orang-orang yang memiliki latar belakang berbeda.

Ia juga menekankan pentingnya rasa ingin tahu, tujuan dalam belajar, serta kesadaran mengenai kontribusi yang dapat diberikan kepada lingkungan sekitar.

“Working with anybody other than people that's like them is the only possible way for them to grow (Bekerja sama dengan orang-orang yang berbeda dari mereka adalah satu-satunya cara yang memungkinkan mereka untuk berkembang),” kata Low dalam diskusi panel.

Kerja sama tersebut tidak hanya berfokus pada pertukaran pengetahuan. CCS dan RI juga menyiapkan sejumlah program, termasuk pelatihan bagi guru CCS serta pengembangan student exchange.

Program pertukaran tersebut dirancang dua arah. Siswa CCS nantinya berkesempatan mendapatkan pengalaman belajar di Singapura, sementara siswa RI dapat mengenal lingkungan pendidikan dan kehidupan di Indonesia.

Salah satu konsep yang turut dikembangkan melalui kolaborasi tersebut adalah service learning.

Melalui pendekatan ini, siswa tidak hanya belajar di ruang kelas, tetapi juga mendapat kesempatan terlibat dalam kegiatan masyarakat. Pengalaman langsung tersebut diharapkan membantu siswa memahami persoalan sosial sekaligus membangun kepedulian terhadap lingkungan.

Wakil Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Indonesia Veronica Tan, yang hadir sebagai orang tua siswa IB, menilai pendampingan sejak usia dini penting agar anak mampu mengenali dirinya dan menentukan arah kehidupan.

Menurut Veronica, tantangan pendidikan di era teknologi bukan sekadar membuat anak mampu menggunakan perangkat digital atau AI. Anak juga harus memiliki kebijaksanaan dalam memanfaatkan teknologi.

“Teknologi itu akan bertumbuh dengan sendirinya sampai kapan juga, tapi bagaimana kita menggunakan teknologi itu, kita butuh wisdom,” katanya.

Veronica juga menekankan pentingnya pendidikan yang tetap mengenalkan anak pada identitas diri, kebudayaan, potensi Indonesia, dan local wisdom.

Menurutnya, pemahaman terhadap akar budaya tidak bertentangan dengan kemampuan untuk beradaptasi dan memahami dunia internasional. Justru, keduanya dapat berjalan beriringan untuk membentuk generasi yang mampu berinovasi sekaligus memiliki pijakan nilai.

PathwayX juga menghadirkan Chairman Boncafé Group Stephan M. Tanaja serta Business Leadership Coach sekaligus CEO Maxwell Leadership Indonesia David Tjokrorahardjo.

Keduanya turut berbagi perspektif mengenai pendidikan dan pengembangan anak, termasuk pengalaman sebagai orang tua yang mempercayakan pendidikan anak pada sekolah dengan kurikulum IB.

Melalui penerapan IB dan kolaborasi dengan Raffles Institution, CCS berupaya menghadirkan pendidikan yang menggabungkan wawasan global dengan pembentukan karakter.

Bagi Jane, target akhirnya bukan sekadar mencetak siswa dengan prestasi tinggi. Pendidikan diharapkan mampu membentuk anak yang dapat menggunakan kemampuan dan kesempatan yang dimilikinya untuk memberi manfaat bagi keluarga, masyarakat, bangsa, dan Tuhan.

“Kita bersama-sama tidak hanya meminta anak-anak kita untuk menjadi orang-orang yang sukses, tetapi mari kita bersama-sama memimpin mereka, mempersiapkan mereka menjadi bejana-bejana untuk maksud yang mulia,” kata Jane.

 

Editor: Arif Ardliyanto

Related News

Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.

Latest News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut