Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Aa Text
Share:
Read Next : Stop Seduh Teh Sembarangan! Bahaya Mikroplastik Ancam Kesehatan
Advertisement . Scroll to see content

Lewat Mural, Generasi Muda Gambarkan Masa Depan Arsitektur Indonesia

Sabtu, 12 September 2026 | 11:01 WIB
  • author Fahrezi Chandra
Lewat Mural, Generasi Muda Gambarkan Masa Depan Arsitektur Indonesia
Peserta kompetisi mural menuangkan gagasan tentang perpaduan teknologi, tradisi, dan identitas arsitektur Indonesia. Foto:iNewsSurabaya.id/Fahrezi

SURABAYA, iNewsSurabaya.id - Perkembangan teknologi dan tren desain global membawa tantangan baru bagi arsitektur Indonesia. Di satu sisi, teknologi membuka peluang bagi arsitek untuk menghasilkan desain yang lebih efisien dan inovatif. Namun di sisi lain, derasnya pengaruh global menimbulkan pertanyaan mengenai keberlanjutan jati diri arsitektur Indonesia.

Persoalan tersebut menjadi salah satu isu yang diangkat dalam Archiexpo 2026 Universitas Kristen (UK) Petra Surabaya yang mengusung tema “Indonesian Architecture in Society 5.0: Challenges and Opportunities”.

Kegiatan yang digelar Himpunan Mahasiswa Arsitektur Petra (HIMAARTRA) pada 9-11 September 2026 tersebut menjadi ruang bagi mahasiswa untuk mengeksplorasi hubungan antara teknologi, kebutuhan manusia, dan nilai-nilai lokal dalam arsitektur.

Dosen pembimbing Archiexpo 2026 sekaligus dosen Arsitektur UK Petra, Christine Wonoseputro, S.T., M.ASD., mengatakan identitas dan nilai lokal merupakan bagian penting yang perlu dipertahankan dalam pendidikan arsitektur.

Menurut Christine, mahasiswa tidak cukup hanya mengenali bentuk fisik arsitektur tradisional. Mereka perlu memahami nilai yang berada di balik bentuk tersebut dan menerjemahkannya ke dalam kebutuhan ruang serta kehidupan modern.

“Jati diri arsitektur Indonesia tetap penting untuk dipertahankan. Karena itu, mahasiswa tidak hanya diajarkan untuk melihat bentuk fisik arsitektur lokal, tetapi juga memahami nilai dan karakter lokalitas yang kemudian dapat diterjemahkan ke dalam tata ruang,” ujar Christine.

Ia menilai perkembangan teknologi, termasuk kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI), tidak semestinya dipandang sebagai ancaman bagi profesi arsitek maupun identitas arsitektur lokal.

Menurutnya, AI justru dapat menjadi alat bantu untuk meningkatkan kecepatan, efisiensi, dan produktivitas dalam proses kerja arsitektur.
“AI bukan sesuatu yang akan menggantikan arsitek. Teknologi tersebut merupakan alat yang dapat membantu meningkatkan kecepatan, efisiensi, dan produktivitas kerja,” katanya.


Mahasiswa mengikuti kompetisi mural dengan menuangkan gagasan tentang masa depan arsitektur Indonesia di era perkembangan teknologi. Foto: UK Petra

Christine juga optimistis profesi arsitek tetap memiliki peran penting di tengah perkembangan AI. Menurutnya, kemampuan manusia dalam memiliki rasa dan membuat pertimbangan menjadi aspek yang tidak dapat begitu saja digantikan mesin.

“Arsitek tetap memiliki peran karena ada aspek rasa dan pertimbangan yang dibutuhkan dalam proses perancangan. Ketakutan bahwa AI akan menggantikan arsitek justru dapat muncul ketika seseorang belum mengenal atau belum mau beradaptasi dengan teknologi tersebut,” ujarnya.

Pandangan tersebut tercermin dalam sejumlah karya mahasiswa yang dipamerkan dalam Archiexpo 2026. Salah satunya karya kelompok Bryan Jonathan, mahasiswa Arsitektur, bersama Lim Ai Sha, mahasiswa Interior Desain UK Petra angkatan 2026.

Karya tersebut mencoba mempertemukan teknologi modern dengan karakter arsitektur Indonesia yang multikultural dan tradisional.

Salah satu unsur lokal yang digunakan adalah Rumah Gadang dari Minangkabau. Bentuk atap khas Rumah Gadang diadaptasi ke dalam rancangan yang tetap berorientasi pada kebutuhan kehidupan modern.


Karya mural bertema Rumah Gadang diadaptasi ke dalam rancangan yang tetap berorientasi pada kebutuhan kehidupan modern. Foto: Fahrezi

Bryan mengatakan pemilihan Rumah Gadang tidak hanya didasarkan pada bentuk arsitekturnya, tetapi juga nilai kebersamaan yang melekat pada bangunan tradisional tersebut.

“Kami ingin mengangkat kembali nilai kebersamaan yang menjadi salah satu karakter utama Rumah Gadang sekaligus mengadaptasi elemen arsitektur tradisional Indonesia ke dalam konteks kehidupan modern. Bentuk atap Rumah Gadang yang khas juga menjadi salah satu inspirasi utama dalam pengembangan desain,” kata Bryan.

Dalam konsep tersebut, teknologi tidak ditempatkan sebagai pengganti unsur tradisional, tetapi sebagai bagian dari upaya menjadikan bangunan lebih sesuai dengan kebutuhan masa kini.

Rancangan kelompok tersebut mengusung konsep pemanfaatan udara alami sehingga bangunan diharapkan dapat mengalirkan udara tanpa sepenuhnya bergantung pada pendingin ruangan. Selain itu, panel surya ditempatkan pada bagian atap sebagai bentuk pemanfaatan energi alternatif.

Lim Ai Sha menambahkan penerapan gagasan tersebut tetap memiliki tantangan jika diwujudkan dalam bangunan nyata. Sejumlah persoalan yang perlu diperhatikan antara lain kemacetan, kualitas udara, serta sistem pengelolaan kebersihan lingkungan bangunan.

“Kalau konsep ini benar-benar diterapkan, tantangannya bukan hanya pada desain bangunan, tetapi juga kondisi lingkungan seperti kemacetan, kebersihan udara, dan bagaimana sistemnya dapat menjaga tempat tersebut tetap bersih,” ujarnya.

Archiexpo 2026 tidak hanya menghadirkan pameran karya mahasiswa, tetapi juga talkshow, seminar, serta Archidraw yang mempertemukan siswa SMA dan mahasiswa dalam lomba menggambar bertema Warisan Indonesia, Teknologi, dan Arsitektur.

Sebanyak 35 kelompok mengikuti Archidraw dengan anggota masing-masing dua orang. Peserta diberi waktu 1,5 jam untuk menuangkan gagasan dalam media lukis berukuran 70 x 60 sentimeter.

Pameran juga menampilkan puluhan maket dan poster karya mahasiswa dari berbagai semester, termasuk karya lomba Lomba Karya Tulis Ilmiah (LKTI) dan Architecture Festival.

Koleksi Surabaya Memori milik Library UK Petra turut ditampilkan melalui buku fisik serta dokumentasi foto Surabaya pada masa lalu dan masa kini.

Melalui rangkaian tersebut, Archiexpo 2026 menunjukkan bahwa tantangan arsitektur Indonesia di tengah perkembangan teknologi bukan semata-mata memilih antara tradisi dan modernitas.

Persoalan yang lebih besar adalah bagaimana teknologi dimanfaatkan untuk mengembangkan kebutuhan arsitektur masa kini tanpa menghilangkan nilai, karakter, dan konteks lokal yang menjadi bagian dari jati diri arsitektur Indonesia.

Editor: Arif Ardliyanto

Related News

Latest News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut