Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Aa Text
Share:
Read Next : Surabaya Junior Football Cup 2026 Diharapkan Lahirkan Generasi Baru Sepak Bola Nasional
Advertisement . Scroll to see content

Forum Investasi Jatim Catat Komitmen Rp2,4 Triliun, Fokus Penguatan Sektor Industri

Jum'at, 02 Oktober 2026 | 22:44 WIB
  • author Lukman Hakim
Forum Investasi Jatim Catat Komitmen Rp2,4 Triliun, Fokus Penguatan Sektor Industri
East Java Investment Forum (EJIF) 2026 di Exhibition Hall Grand City Convex Surabaya. (Foto : istimewa).

SURABAYA, iNewsSurabaya.id – East Java Investment Forum (EJIF) 2026 mencatat komitmen investasi sebesar Rp2,4 triliun. Pemerintah Provinsi Jawa Timur (Jatim) mendorong komitmen tersebut segera ditindaklanjuti menjadi investasi yang terealisasi dan memberikan nilai tambah bagi perekonomian daerah.

Wakil Gubernur Jatim Emil Elestianto Dardak mengatakan capaian tersebut menunjukkan adanya peluang investasi yang dapat dikembangkan di Jatim. Namun, komitmen investasi perlu dikawal agar dapat berlanjut menjadi proyek konkret.

“Semoga dari list project yang ditawarkan bisa menjadi investasi yang konkret. Alhamdulillah Rp2,4 triliun investasi tercatat di EJIF pada hari ini,” ujar Emil saat membuka EJIF 2026 di Exhibition Hall Grand City Convex Surabaya, Jumat (2/10/2026).

Menurut Emil, investasi tidak cukup hanya dilihat dari besarnya nilai yang masuk. Pemerintah juga perlu memastikan investasi tersebut berada dalam ekosistem ekonomi yang mampu menciptakan nilai tambah dan memperkuat rantai ekonomi daerah.

“Ini adalah hasil perjuangan kolektif seluruh elemen lintas sektor untuk mendorong ekosistem perekonomian dan investasi yang inklusif dan berkelanjutan,” katanya.

Emil mengatakan struktur ekonomi Jatim banyak ditopang sektor industri, khususnya manufaktur. Karena itu, pengembangan investasi perlu diikuti penguatan ekosistem pendukung, mulai dari perdagangan, sumber daya manusia, infrastruktur hingga konektivitas.

“Jatim itu regional economy, industri yang paling menopang. Maka yang harus dijadikan fokus itu keunggulan dalam ekosistem perekonomian, terutamanya industri manufaktur yang ada di Jatim,” ujarnya.

Menurut dia, potensi investasi Jatim juga tersebar di berbagai wilayah. Keberadaan bandara, pelabuhan, kawasan industri, Kawasan Ekonomi Khusus (KEK), kawasan industri halal serta rencana pengembangan kawasan industri baru menjadi bagian dari infrastruktur pendukung investasi.

“Potensi Jatim tersebar di seluruh penjuru. Tidak semuanya crowded. Kesempatannya ada, dan ini menciptakan peluang investasi,” tuturnya.

Emil menambahkan, arah kebijakan investasi perlu melihat posisi setiap proyek dalam rantai nilai ekonomi Jatim. Dengan begitu, investasi yang masuk tidak hanya menambah aktivitas ekonomi, tetapi juga memperkuat daya saing daerah.

“Strategic direction kita adalah menawarkan peluang investasi bagi calon investor. Kita harus betul melihat di mana posisi investasi ini bagi Jatim,” katanya.

Ia juga menyoroti perubahan ekonomi global yang berlangsung cepat. Menurutnya, kondisi tersebut menuntut Jatim terus memperbarui ekosistem ekonominya agar tetap kompetitif.

“World rapidly changing. Dunia terus berbenah. Kalau ekosistem harus di-upgrade supaya kita harus mempertahankan positioning kita,” ujarnya.

Dalam konteks tersebut, Emil menyebut visi Jatim sebagai Gerbang Baru Nusantara diarahkan tidak hanya sebagai pintu masuk investasi, tetapi juga sebagai bagian dari upaya menciptakan nilai tambah dalam rantai ekonomi nasional.

“Gerbang Baru Nusantara menjadi strategi perwujudan menjadi orkestrator nilai tambah Indonesia. Kita harus bangun value added, menjadi lebih kompetitif,” katanya.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Jatim Ibrahim mengatakan investasi yang masuk ke Jatim perlu memberikan dampak nyata terhadap perekonomian dan kesejahteraan masyarakat.

Menurutnya, keberhasilan investasi tidak hanya diukur dari nilai investasi, tetapi juga dari dampaknya terhadap penciptaan lapangan kerja dan pengurangan kemiskinan.

“Investasi itu ada value-nya. Kemiskinan bisa dikurangi, kesempatan kerja meningkat, dan ujungnya kesejahteraan masyarakat akan semakin baik,” ujar Ibrahim.

Ia menilai Jatim memiliki fondasi ekonomi yang mendukung pengembangan investasi. Berdasarkan laporan perekonomian BI, ekonomi Jatim pada triwulan II 2026 tumbuh 5,72 persen secara tahunan, dengan akselerasi investasi dan peningkatan ekspor menjadi salah satu penopangnya.

“Kenapa harus di Jatim? Kita lihat ekonominya, inflasi terkendali. Potensi pertumbuhan Jawa dan Jatim trennya tetap baik,” katanya.

Ibrahim menambahkan, kolaborasi pemerintah daerah, BI, OJK dan pelaku usaha diperlukan untuk menciptakan efek pengganda dari investasi sekaligus menjaga pertumbuhan ekonomi tetap inklusif dan berkelanjutan.

“Perhatian Ibu Gubernur dan Bapak Wagub menjadi bagian penting untuk menciptakan multiplier effect investasi sekaligus memastikan pertumbuhan ekonomi tetap tinggi, inklusif, dan berkelanjutan,” ujarnya.

Editor: Arif Ardliyanto

Related News

Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.

Latest News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut