Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Aa Text
Share:
Read Next : Hari Santri 2026, Puluhan Santri di Sidoarjo Konvoi Motor Pakai Sarung, Ini Pesan Kapolresta
Advertisement . Scroll to see content

Hari Santri 2026, PKB Jatim Serukan Jihad Melawan Karhutla dan Bagikan 5.000 Bibit Pohon

Kamis, 22 Oktober 2026 | 13:54 WIB
  • author Ihya Ulumuddin
Hari Santri 2026, PKB Jatim Serukan Jihad Melawan Karhutla dan Bagikan 5.000 Bibit Pohon
PKB Jatim mengajak santri melawan karhutla dan menjaga lingkungan pada Hari Santri 2026. Sebanyak 5.000 bibit pohon diserahkan secara simbolis. Foto iNewsSurabaya.id/Ihya

SURABAYA, iNewsSurabaya.id – Peringatan Hari Santri Nasional 2026 menjadi momentum bagi santri untuk mengambil peran lebih luas dalam menjaga kelestarian lingkungan. DPW Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Jawa Timur menyerukan gerakan nyata melawan kebakaran hutan dan lahan (karhutla), sekaligus mengajak masyarakat menjaga bumi demi masa depan generasi mendatang.

Seruan tersebut disampaikan Sekretaris DPW PKB Jatim, Multazam Dzikri, saat peringatan Hari Santri Nasional di Lapangan Grha Gus Dur, Gayungsari, Surabaya, Kamis (22/10/2026). Dalam kegiatan itu, DPW PKB Jatim juga menyerahkan 5.000 bibit pohon secara simbolis kepada peserta apel.

Multazam menilai, semangat jihad yang selama ini melekat pada perjuangan santri perlu diwujudkan dalam tindakan nyata untuk menjawab berbagai persoalan masyarakat. Salah satunya melalui upaya melindungi lingkungan dan mencegah kebakaran hutan serta lahan.

“Berarti, jihad santri hari ini adalah melawan karhutla,” katanya.

Menurut dia, perjuangan menjaga lingkungan tidak harus dimulai dengan tindakan besar. Santri dapat berkontribusi melalui edukasi kepada masyarakat, menumbuhkan kepedulian terhadap alam, hingga mengingatkan warga agar menghindari aktivitas yang berpotensi memicu kebakaran.

Ia menegaskan, kelestarian hutan dan lingkungan berkaitan langsung dengan keberlangsungan kehidupan manusia. Kerusakan alam tidak hanya berdampak pada kondisi lingkungan saat ini, tetapi juga berpotensi memengaruhi kehidupan generasi berikutnya.

“Menjaga hutan berarti menjaga kehidupan. Menjaga lingkungan berarti menjaga masa depan generasi mendatang,” ujarnya.

Multazam mengajak para santri menjadikan peringatan Hari Santri Nasional sebagai titik awal gerakan kepedulian lingkungan yang berkelanjutan. Menurutnya, pesan menjaga alam tidak cukup disampaikan melalui kegiatan seremonial, tetapi perlu diwujudkan dalam kebiasaan dan tindakan sehari-hari.

Ia mengingatkan bahwa setiap orang memiliki tanggung jawab untuk tidak memperburuk keadaan lingkungan, meskipun belum mampu terlibat langsung dalam penanganan bencana.

“Kalau belum mampu memadamkan api, jangan menjadi penyebab kebakaran. Kalau belum mampu meredakan bencana, setidaknya jangan ikut menciptakannya,” tegas Multazam.

Ia juga meminta agar tema Hari Santri Nasional tahun ini tidak berhenti sebagai slogan dalam spanduk maupun pidato. Semangat tersebut, kata dia, harus diterjemahkan menjadi program dan kontribusi yang memberikan manfaat bagi masyarakat.

“Jangan biarkan tema ini berhenti menjadi tulisan di spanduk atau sekadar menjadi slogan di panggung. Jadikan ia tekad, jadikan ia gerakan, jadikan ia kerja nyata,” tuturnya.

Selain persoalan lingkungan, Multazam menyoroti pentingnya peran santri dalam mempersiapkan masa depan Indonesia. Cita-cita Indonesia Emas, menurutnya, membutuhkan fondasi yang kuat melalui pendidikan berkualitas, ekonomi berkeadilan, politik yang bermartabat, serta kepemimpinan yang berpihak kepada rakyat.

Dalam konteks tersebut, santri dituntut terus meningkatkan kapasitas diri dan mengambil bagian dalam menyelesaikan berbagai persoalan bangsa. Nilai-nilai keagamaan, lanjutnya, perlu hadir dalam tindakan yang menjawab kebutuhan masyarakat, termasuk dalam menjaga lingkungan dan membangun kepedulian sosial.

Multazam menegaskan, santri memiliki kesempatan untuk berkontribusi dalam berbagai bidang kehidupan. Karena itu, generasi santri perlu mempersiapkan diri agar mampu terlibat aktif dalam menentukan arah pembangunan dan perubahan sosial.

“Santri tidak boleh hanya menjadi penonton ketika sejarah ditulis. Santri harus tampil sebagai penentu arah zaman,” katanya.

Penyerahan simbolis 5.000 bibit pohon dalam peringatan Hari Santri Nasional tersebut menjadi bagian dari ajakan untuk memperkuat kepedulian terhadap lingkungan. Melalui langkah itu, semangat Hari Santri diharapkan tidak hanya tercermin dalam kegiatan keagamaan, tetapi juga dalam upaya menjaga kelestarian alam dan kehidupan masyarakat.

Editor: Arif Ardliyanto

Related News

Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.

Latest News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut