Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Aa Text
Share:
Read Next : Tuntut Rektor Turun, Mahasiswa Segel Gerbang Kampus UINSA Surabaya
Advertisement . Scroll to see content

Mahasiswa Terlalu Bergantung pada AI, Dosen Ingatkan Bahaya Kehilangan Nalar

Sabtu, 07 November 2026 | 17:58 WIB
  • author Andika
Mahasiswa Terlalu Bergantung pada AI, Dosen Ingatkan Bahaya Kehilangan Nalar
AI mempermudah tugas kuliah, tapi bisa menggerus kreativitas dan nalar mahasiswa. (Foto : istimewa).

SURABAYA, iNewsSurabaya.id – Kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) semakin banyak digunakan mahasiswa untuk mengerjakan tugas, menyusun karya ilmiah hingga mencari referensi perkuliahan. 

Namun, kemudahan mendapatkan jawaban instan ini memunculkan kekhawatiran terhadap kemampuan berpikir kritis, kreativitas, dan kemandirian intelektual mahasiswa.

AI yang seharusnya menjadi alat bantu pembelajaran berpotensi berubah menjadi jalan pintas akademik ketika mahasiswa hanya menyalin jawaban mesin tanpa memahami materi maupun memverifikasi kebenaran informasi.

Assistant Professor in Electrical Engineering, Dr. Aryo Nugroho, S.T., S.Kom., M.T., menilai penggunaan AI di lingkungan perguruan tinggi merupakan konsekuensi perkembangan teknologi. Menurutnya, AI bukan ancaman bagi pendidikan selama digunakan sebagai mitra berpikir, bukan pengganti kemampuan manusia dalam bernalar.

"Masifnya penggunaan AI di kalangan mahasiswa merupakan konsekuensi logis dari percepatan teknologi. Saya melihat fenomena ini secara positif sebagai sebuah akselerator pembelajaran, bukan sebuah ancaman," ujar Aryo, Sabtu (7/11/2026).

Menurutnya, AI memiliki manfaat besar dalam meningkatkan efektivitas belajar. Mahasiswa dapat memanfaatkannya sebagai tutor pribadi untuk memahami konsep rumit melalui penjelasan dan analogi sederhana sesuai kebutuhan masing-masing.

AI juga dapat membantu mencari referensi, memetakan literatur, mengembangkan gagasan, melakukan simulasi data hingga mendeteksi kesalahan kode program (debugging), khususnya dalam bidang sains dan rekayasa.

Namun, kemudahan tersebut menyimpan risiko jika mahasiswa menerima seluruh jawaban AI tanpa proses verifikasi. Sebab, teknologi ini masih berpotensi menghasilkan informasi keliru atau halusinasi AI yang disampaikan dengan bahasa meyakinkan.

"Jika mahasiswa menerima jawaban instan tersebut secara mentah-mentah tanpa verifikasi atau sekadar copy-paste, proses bernalar mereka akan terputus. Nalar perlu dilatih terus-menerus untuk melakukan penilaian atau judgment," jelasnya.

Aryo mengingatkan, ketergantungan berlebihan terhadap AI dapat menghambat kemampuan analisis, kreativitas, dan pemecahan masalah (problem solving).

Kemampuan tersebut terbentuk melalui proses belajar, termasuk menghadapi kebingungan, kegagalan eksperimen, serta menyusun argumentasi secara mandiri. Jika seluruh proses langsung diserahkan kepada AI, mahasiswa berisiko kehilangan pengalaman penting dalam membangun pola pikir kritis.

Menurutnya, batas antara penggunaan AI sebagai alat bantu pembelajaran dan kecurangan akademik terletak pada kendali intelektual mahasiswa.

AI masih dapat digunakan untuk mengeksplorasi gagasan, memahami materi sulit, memperbaiki tata bahasa, hingga menguji argumentasi. Namun, menyerahkan seluruh proses pembuatan karya kepada AI dan mengakuinya sebagai hasil pemikiran sendiri merupakan bentuk penyalahgunaan teknologi.

"Alat bantu edukasi itu ketika mahasiswa menggunakan AI untuk mengeksplorasi ide, memperjelas materi yang membingungkan, atau menguji logika argumen yang mereka bangun sendiri. Kecurangan terjadi ketika seluruh karya diserahkan kepada AI, lalu diklaim sebagai pemikiran pribadi tanpa proses intelektual mandiri," paparnya.

Aryo juga menekankan pentingnya budaya membaca untuk membangun kemampuan berpikir dan menulis. Menurutnya, AI memang mampu menghasilkan tulisan dengan struktur dan tata bahasa yang rapi, tetapi tidak memiliki pengalaman empiris, empati, maupun kebaruan pemikiran seperti manusia.

Di tengah pesatnya perkembangan AI, perguruan tinggi juga dituntut beradaptasi. Aryo menilai dosen perlu memperbarui metode pembelajaran agar mahasiswa tidak sekadar menghasilkan tugas, tetapi benar-benar memahami materi.

Salah satu caranya dengan mengurangi soal hafalan dan teori umum yang mudah dijawab AI, kemudian beralih ke pembelajaran berbasis studi kasus (case-based learning) dan proyek (project-based learning).

Penilaian juga perlu diperkuat melalui presentasi, demonstrasi aplikasi, serta sesi tanya jawab untuk menguji pemahaman, logika, dan argumentasi mahasiswa.

"Saya sudah tidak lagi membuat soal-soal hafalan atau teori umum yang mudah dijawab oleh AI. Saya beralih ke soal berbasis studi kasus nyata atau proyek. Kemampuan mahasiswa juga dinilai melalui presentasi, unjuk kerja aplikasi, serta sesi tanya jawab di mana mereka wajib menjelaskan rincian logika dan argumentasinya," ungkapnya.

Aryo menilai melarang penggunaan AI di lingkungan akademik bukan langkah realistis. Sebaliknya, perguruan tinggi perlu mengintegrasikan teknologi tersebut secara terarah dan beretika.

Mahasiswa perlu dibekali literasi AI, mulai dari kemampuan menyusun instruksi (prompt engineering), memeriksa validitas informasi, memahami etika penggunaan teknologi hingga menghormati hak cipta.

Sebagai pesan kepada mahasiswa, Aryo menegaskan AI harus diperlakukan sebagai mitra berpikir, bukan joki intelektual. Pencarian informasi dan penyusunan kerangka awal boleh dibantu teknologi, tetapi validasi fakta, analisis, dan kesimpulan harus tetap menjadi tanggung jawab manusia.

"Gunakan AI untuk mempercepat pencarian data atau pemetaan struktur awal, tetapi validasi fakta, penalaran analitis, dan simpulan akhir harus tetap berada di tangan kita," pesannya.

 

Editor: Arif Ardliyanto

Related News

Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.

Latest News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut