Sementara itu, Jasmine Trisya Salsabillah yang berperan sebagai Bu Lurah menegaskan pentingnya kontribusi perempuan dalam perjuangan.
“Bu Lurah bukan hanya pendukung, tapi penggerak kaum perempuan agar ikut berjuang dengan caranya sendiri,” tuturnya.
Meski waktu latihan hanya dua minggu, hasilnya menuai decak kagum. Pembimbing teater, Lia Revi Oktavia, mengaku terharu dengan kedewasaan berpikir para siswa.
“Mereka bisa menganalisis sejarah dan memadukannya dengan taktik perang serta nilai spiritual. Itu luar biasa untuk anak SMA,” katanya.
Momen paling emosional terjadi di penghujung pementasan. Saat musik latar berhenti, pemeran Pak Lurah secara spontan melontarkan orasi kemerdekaan yang menggugah seluruh siswa. Sorak dan tepuk tangan pun menggema di lapangan upacara SMA 13 Surabaya, menciptakan suasana heroik yang tak terlupakan.
Kepala Sekolah Mokhamad Imron mengapresiasi kreativitas dan semangat anak didiknya.
“Saya tidak menyangka akan sehebat ini. Orasi di akhir pementasan itu seperti api yang menyalakan semangat semua siswa. Inilah makna Hari Pahlawan sesungguhnya,” ujarnya dengan bangga.
Ke depan, SMA Negeri 13 Surabaya berencana mewadahi potensi seni siswanya dengan mengikuti ajang Festival dan Lomba Seni Siswa Nasional (FLS2N). Bagi mereka, semangat kepahlawanan bukan hanya soal perang melawan penjajah, tetapi juga tentang berani berkarya, berjuang untuk masa depan, dan menjadi pahlawan bagi diri sendiri.
Editor : Arif Ardliyanto
Artikel Terkait
