SURABAYA. iNewsSurabaya.id - Nyeri sendi berkepanjangan sering kali menjadi sinyal hadirnya osteoartritis, sebuah kondisi yang kini menghantui hampir 600 juta orang di seluruh dunia.
Bagi pasien dengan kerusakan tulang rawan yang parah, prosedur operasi penggantian sendi lutut atau total knee replacement menjadi solusi utama untuk mengembalikan mobilitas.
Meski metode konvensional memiliki tingkat keberhasilan tinggi, sebagian pasien masih mengeluhkan rasa tidak nyaman pascaoperasi karena pemasangan implan yang bersifat seragam.
Menjawab tantangan tersebut, Siloam Hospitals Surabaya memperkenalkan inovasi terbaru melalui teknologi robotik CUVIS Joint. Dr. dr. Kukuh Dwiputra Hernugrahanto menjelaskan bahwa setiap pasien memiliki karakteristik anatomi lutut yang unik.
Dengan bantuan sistem robotik di Siloam Hospitals Surabaya, dokter dapat merencanakan pemasangan implan secara personal dengan tingkat presisi luar biasa hingga 0,1 milimeter.
Teknologi ini meminimalkan cedera jaringan karena tidak lagi memerlukan pemasangan paku pada tulang seperti metode lama, sehingga rasa nyeri jauh lebih berkurang.
Prosedur di Siloam Hospitals Surabaya dimulai dengan pemindaian CT scan 3D yang datanya kemudian diolah oleh kecerdasan buatan untuk menentukan posisi implan yang paling optimal.
Sebagai sistem yang sepenuhnya otomatis di bawah supervisi dokter, lengan robot melakukan pemotongan tulang secara akurat dan memiliki sistem pengaman yang sangat sensitif.
Keunggulan ini membuat masa rawat inap pasien di Siloam Hospitals Surabaya menjadi jauh lebih singkat, yakni hanya sekitar tiga hingga empat hari, atau setengah dari waktu pemulihan prosedur biasa.
Sebagai pionir di Jawa Timur yang menggunakan sistem robotik full-active, Siloam Hospitals Surabaya memberikan harapan baru bagi pasien untuk pulih lebih cepat.
Melalui kombinasi teknologi mutakhir dan sertifikasi khusus para dokternya, operasi penggantian sendi di rumah sakit ini tidak hanya mengejar keberhasilan prosedural, tetapi juga mengutamakan kenyamanan maksimal agar pasien dapat kembali beraktivitas dengan fungsi lutut yang kembali normal.
Editor : Vitrianda Hilba SiregarEditor Jakarta
Artikel Terkait
