BATU, iNewsSurabaya.id – Pergantian kepemimpinan Indonesian Society of Anesthesiology for Pain Management (ISAPM) periode 2026–2028 menjadi momentum penting untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap penanganan nyeri yang tepat dan terstandar.
Ketua ISAPM terpilih, Dr. dr. Ristiawan Muji Laksono, Sp.An-TI., Subsp. M.N. (K)., FIPP menegaskan bahwa nyeri tidak boleh lagi dianggap sebagai keluhan biasa yang bisa diabaikan.
“Nyeri bukan sekadar rasa sakit, tetapi kondisi medis yang berpengaruh besar terhadap kualitas hidup. Penanganannya harus tepat dan tidak bisa sembarangan,” ujarnya, Minggu (19/4/2026).
Selama ini, banyak masyarakat masih mengandalkan obat pereda nyeri tanpa pengawasan tenaga medis. Padahal, dalam dunia kedokteran, Bila jatuh pada kondisi nyeri kronis maka akan menjadi kompleks yang membutuhkan penanganan khusus, bahkan melibatkan tim multidisiplin.
Dalam hal ini, anestesiologi memiliki peran vital. Anestesiologi adalah cabang ilmu kedokteran yang berfokus pada manajemen nyeri, pemeliharaan fungsi vital, serta kenyamanan pasien selama prosedur medis, terutama pembedahan.
Tak hanya soal pembiusan, spesialisasi ini juga mencakup perawatan intensif di ruang ICU serta penanganan nyeri akut dan kronis. Dokter anestesiologi memastikan pasien tetap stabil, aman, dan bebas dari rasa nyeri selama hingga setelah tindakan medis.
ISAPM merupakan organisasi profesi yang berfokus pada pengembangan ilmu, edukasi, dan penatalaksanaan manajemen nyeri di Indonesia.
Organisasi ini aktif berbagi perkembangan ilmu, penelitian, dan inovasi di bidang anestesiologi serta memperkuat kolaborasi antar tenaga medis. ISAPM juga rutin menggelar pertemuan ilmiah nasional (National Meeting) dan workshop guna meningkatkan kompetensi tenaga kesehatan dalam menangani nyeri.
Di bawah kepemimpinan baru, ISAPM menyiapkan sejumlah langkah strategis, mulai dari edukasi masyarakat secara masif, peningkatan kompetensi tenaga medis, hingga mendorong hadirnya layanan manajemen nyeri terpadu di berbagai fasilitas kesehatan.
Selain itu, kolaborasi lintas sektor dengan pemerintah, institusi pendidikan, hingga lembaga pembiayaan kesehatan juga menjadi fokus agar layanan ini dapat diakses lebih luas oleh masyarakat.
Ketua sebelumnya, Dr. dr. A. M. Takdir Musba, Sp.An-TI, Subsp. M.N. (K), menegaskan bahwa layanan manajemen nyeri harus menjadi bagian penting dalam sistem kesehatan nasional.
“Nyeri sangat memengaruhi kehidupan pasien. Karena itu, penanganannya harus dilakukan secara serius, terstruktur, dan berbasis multidisiplin,” katanya.
Ia juga berharap layanan nyeri ke depan bisa lebih merata, tidak hanya di kota besar tetapi juga menjangkau daerah.
Upaya penguatan layanan ini mendapat dukungan dari BPJS Kesehatan. Asisten Deputi Bidang Kebijakan Penjaminan Manfaat Rujukan, Dr. Nur Indah Yuliaty, MARS, AAK, menegaskan komitmen dalam memperkuat sistem rujukan layanan kesehatan.
“Kolaborasi dengan tenaga medis sangat penting untuk memastikan pelayanan yang berkualitas, efektif, dan berorientasi pada keselamatan pasien,” jelasnya.
Melalui momentum ini, masyarakat diimbau untuk lebih peduli terhadap nyeri yang dialami, terutama jika berlangsung lama, berulang, atau mengganggu aktivitas sehari-hari.
Editor : Arif Ardliyanto
Artikel Terkait
