Kabar duka itu dikonfirmasi manajemen Arema FC melalui akun resmi klub. Ucapan belasungkawa mengalir dari keluarga besar Singo Edan.
“Innalillahi wa inna ilaihi raji'un. Keluarga besar Arema FC turut berduka sedalam-dalamnya atas berpulangnya Abah Kuncoro,” tulis manajemen klub.
Lebih dari sekadar asisten pelatih, Kuncoro adalah simbol kesetiaan. Hidupnya diabdikan untuk Arema dan sepak bola Malang. Dari pinggir lapangan hingga ruang ganti, nasihatnya menjadi pegangan generasi demi generasi.
Ironis sekaligus sakral, Stadion Gajayana yang seharusnya merayakan usia satu abad justru menjadi tempat perpisahan terakhir seorang legenda. Namun seperti stadion itu sendiri, nama Kuncoro tak akan lapuk oleh waktu. Ia akan terus hidup dalam cerita kejayaan Arema, di tribun-tribun tua Gajayana, dan di hati Aremania.
Sepak bola Malang berduka, tetapi warisan Abah Kuncoro akan selamanya menjadi bagian dari jiwa Stadion Gajayana.
Editor : Arif Ardliyanto
Artikel Terkait
