SURABAYA, iNewsSurabaya.id – Tak mudah melupakan sosok Beni Martina Maulan bagi keluarga besar Pegadaian Kantor Wilayah XII Surabaya. Meski masa kepemimpinannya belum genap setahun, kehangatan dan gaya kepemimpinan yang membumi membuat kepergiannya ke Pegadaian Pusat untuk mengurusi sektor syariah meninggalkan kesan mendalam.
Suasana haru terasa kental saat acara perpisahan di Hotel Vasa Surabaya. Ratusan insan Pegadaian tampak berkaca-kaca ketika Beni berpamitan. Bahkan, seluruh karyawan yang hadir secara serempak mengangkat tangan sebagai bentuk penghormatan terakhir—sebuah simbol kuat bahwa ia bukan sekadar pemimpin, melainkan bagian dari keluarga.
Beni mengaku tak menyangka mendapat sambutan sehangat itu. Ia menilai kebersamaan dan kekompakan yang terbangun di Kanwil XII Surabaya menjadi modal utama keberhasilan berbagai program yang berjalan selama ini.
“Saya benar-benar surprise dengan respons teman-teman keluarga besar Kanwil XII Surabaya. Apa yang kita capai bukan kerja pribadi wilayah, tetapi hasil kerja sama yang solid. Justru banyak program lahir dari inisiatif teman-teman di lapangan,” ujar Beni Martina Maulan.
Momen haru mewarnai perpisahan Beni Martina Maulan dengan keluarga besar Pegadaian Kanwil Surabaya. Kepemimpinannya yang hangat dan solid meninggalkan kesan mendalam. Foto Surabaya.iNews.id/arif
Menurutnya, kekuatan Pegadaian Surabaya terletak pada kemampuan mendengar. Setiap masukan dari cabang dijadikan dasar penyusunan program, karena tiap area memiliki karakter dan tantangan yang berbeda.
“Karakter tiap area tidak sama, sehingga perlakuannya juga tidak bisa disamaratakan. Ini sudah diamini oleh teman-teman di cabang dan pengelola unit, karena merekalah garda terdepan Pegadaian,” tegasnya.
Pendekatan yang inklusif tersebut, lanjut Beni, berdampak langsung pada efektivitas penyampaian informasi produk dan layanan Pegadaian kepada masyarakat. Sinergi internal yang kuat juga memperkuat kolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan, seiring besarnya potensi pasar di Surabaya dan Jawa Timur.
Optimisme Pegadaian Kanwil Surabaya turut ditopang oleh transformasi digital yang terus diperkuat. Melalui layanan berbasis aplikasi, Pegadaian berupaya menghadirkan kemudahan transaksi sekaligus memperluas jangkauan layanan ke berbagai lapisan masyarakat.
“Lewat aplikasi digital Pegadaian, masyarakat bisa bertransaksi hanya dalam satu genggaman. Ini bagian dari transformasi agar layanan semakin mudah, cepat, dan inklusif,” jelasnya.
Dari sisi kinerja, Pegadaian Kanwil Surabaya mencatat tren pertumbuhan yang konsisten. Tingkat aktivasi layanan yang semula berada di angka 6,9 persen pada awal tahun, meningkat menjadi 8,3 persen per 31 Desember. Capaian tersebut menjadi pijakan menuju target yang lebih menantang ke depan.
“Target kami pada 2026 adalah mencapai 15 persen akseptasi. Bukan semata mengejar angka, tetapi memastikan masyarakat benar-benar merasakan manfaat produk Pegadaian,” ungkap Beni.
Ia juga menyoroti keunggulan demografis Jawa Timur, di mana sekitar 70 persen penduduknya berasal dari generasi milenial. Kondisi ini dinilai sebagai peluang besar untuk mendorong literasi dan inklusi keuangan berbasis digital.
“Mayoritas penduduk Jawa Timur adalah milenial. Ini seharusnya memudahkan kami mengedukasi dan mengajak mereka memanfaatkan layanan digital Pegadaian, baik untuk UMKM, investasi, maupun pembiayaan konsumen,” pungkasnya.
Editor : Arif Ardliyanto
Artikel Terkait
