Tak hanya soal anggaran, Eri juga mendorong generasi muda agar tidak alergi terhadap dunia politik. Menurutnya, politik bukan sekadar perebutan kekuasaan, melainkan sarana untuk memperjuangkan kepentingan masyarakat dan menghadirkan perubahan yang lebih baik.
“Anak muda harus berani berpolitik. Tapi politik yang benar, politik yang menyuarakan kepentingan umat dan masyarakat,” tegasnya.
Sementara itu, Rektor UMSURA Dr. Mundakir menilai Muscab IMM menjadi momentum penting untuk memperkuat peran pemuda dalam kehidupan demokrasi di Kota Surabaya. Ia menyebut IMM sebagai mitra strategis yang memiliki potensi besar dalam mendorong kemajuan kota, tidak hanya dari sisi intelektual, tetapi juga dari penguatan nilai-nilai demokrasi.
“Peran perguruan tinggi bukan hanya mencetak mahasiswa cerdas secara akademik, tetapi juga membangun kesadaran demokrasi. Ada riset yang menunjukkan bahwa pemuda yang aktif berorganisasi memiliki kualitas demokrasi yang lebih baik,” ungkap Mundakir.
Ia pun mendorong mahasiswa, khususnya kader IMM, untuk berani bermetamorfosis melalui organisasi. Menurutnya, proses berorganisasi akan membentuk karakter kepemimpinan, kepekaan sosial, serta keberanian menyuarakan aspirasi publik.
Lebih jauh, Mundakir menegaskan kesiapan UMSURA untuk bersinergi dengan Pemerintah Kota Surabaya. Kolaborasi ini diharapkan mampu melahirkan gagasan dan gerakan nyata dari kalangan pemuda demi pembangunan Surabaya yang lebih inklusif dan berkelanjutan.
“Kami siap bersinergi dengan Pemkot Surabaya. Harapannya, adik-adik IMM bisa menjadi mitra strategis dalam membangun kota ini ke arah yang lebih baik,” pungkasnya.
Dengan dorongan dari pemerintah dan dukungan dunia kampus, peran pemuda Surabaya diharapkan tak lagi sebatas wacana, melainkan hadir nyata sebagai kekuatan perubahan di tengah masyarakat.
Editor : Arif Ardliyanto
Artikel Terkait
