Hidup di Lereng Gunung, Warga Jatiarjo Pasuruan Dibekali Mitigasi Bencana PLN Indonesia Power

Amin Wahyono
Warga Desa Jatiarjo, Prigen, Pasuruan mendapat edukasi dan simulasi mitigasi bencana dari PLN Indonesia Power guna meminimalkan risiko longsor, kebakaran hutan, dan angin puting beliung. Foto Surabaya.iNews.id/amin

PASURUAN, iNewsSurabaya.id – Alam tak pernah memberi aba-aba. Dalam hitungan menit, angin kencang bisa merobohkan rumah, api melalap hutan di musim kemarau, atau tanah longsor menutup akses warga di lereng gunung. Bagi masyarakat yang hidup berdampingan dengan risiko bencana, kesiapsiagaan bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan.

Kesadaran inilah yang mendorong PT PLN Indonesia Power UBP Grati turun langsung ke tengah masyarakat Desa Jatiarjo, Kecamatan Prigen, Kabupaten Pasuruan. Wilayah lereng gunung yang indah ini menyimpan potensi bahaya alam yang nyata, mulai dari puting beliung, kebakaran hutan dan lahan, hingga ancaman longsor.

Melalui kegiatan Penyuluhan dan Peningkatan Kewaspadaan Bencana Puting Beliung, Tanah Longsor, dan Kebakaran Lahan Lereng Gunung Tahun 2026, PLN Indonesia Power berupaya memperkuat pemahaman warga agar lebih siap menghadapi kondisi darurat yang bisa datang kapan saja.


Warga Desa Jatiarjo, Prigen, Pasuruan mendapat edukasi dan simulasi mitigasi bencana dari PLN Indonesia Power guna meminimalkan risiko longsor, kebakaran hutan, dan angin puting beliung. Foto Surabaya.iNews.id/amin

Desa Jatiarjo bukan tanpa pengalaman pahit. Warga setempat pernah merasakan terjangan angin kencang, kebakaran lahan saat kemarau panjang, hingga getaran gempa yang bersumber dari Pacitan. Meski tak menimbulkan kerusakan besar, kejadian tersebut menjadi pengingat bahwa wilayah ini berada di zona rawan yang membutuhkan kesiapsiagaan ekstra.

Manajer Administrasi PT PLN Indonesia Power UBP Grati, Haryo Penangsang, menegaskan bahwa kegiatan ini merupakan bentuk tanggung jawab perusahaan terhadap keselamatan masyarakat sekitar. 

“Kami ingin masyarakat memiliki pemahaman yang baik dan kesiapan menghadapi potensi bencana di Desa Jatiarjo. Bencana tidak bisa diprediksi, tapi dampaknya bisa diminimalkan jika kita siap,” ujarnya.

Menurutnya, penanganan darurat saja tidak cukup. Edukasi dan mitigasi sejak dini justru menjadi kunci utama agar masyarakat tidak panik dan tahu apa yang harus dilakukan saat bencana terjadi.

Langkah tersebut mendapat apresiasi dari Dompet Dhuafa Jawa Timur. Pimpinan Cabang Dompet Dhuafa Jawa Timur, Moch Rizzqi Aladib, menilai fokus pada mitigasi masih jarang dilakukan, padahal sangat krusial. “Banyak yang terlihat heroik saat respons bencana, tapi Indonesia Power justru memikirkan mitigasi. Ini keren, karena kesiapsiagaan bisa menyelamatkan banyak nyawa,” ungkapnya.

Ia menambahkan, tanpa pengetahuan dan kesiapan masyarakat, penanganan bencana justru berisiko tinggi dan membutuhkan biaya besar.

Materi penyuluhan disampaikan oleh BPBD Kabupaten Pasuruan, yang menekankan bahwa penanggulangan bencana adalah tanggung jawab bersama. Pranata Pencarian dan Evakuasi BPBD Kabupaten Pasuruan, Imron Rosyadi, mengingatkan warga agar memahami karakter ancaman di lingkungannya. “Di Desa Jatiarjo terdapat empat potensi bencana, yaitu tanah longsor, kebakaran hutan dan lahan, angin kencang atau puting beliung, serta gempa bumi,” jelasnya.

Tak sekadar teori, kegiatan ini juga dilengkapi simulasi lapangan. Sejumlah warga dilibatkan langsung untuk mempraktikkan komunikasi darurat menggunakan handy talky (HT). Simulasi ini dirancang untuk melatih koordinasi saat situasi genting, agar informasi tidak simpang siur dan kepanikan dapat dihindari.

Melalui simulasi tersebut, warga diajak memahami bahwa komunikasi yang cepat dan tepat menjadi kunci keberhasilan evakuasi dan penyelamatan korban saat bencana terjadi.

Kegiatan ditutup dengan penyerahan peralatan penanggulangan bencana kepada masyarakat. Bantuan ini diharapkan menjadi penopang kesiapsiagaan warga, sekaligus simbol kolaborasi antara perusahaan, pemerintah, dan masyarakat.

Di tengah meningkatnya frekuensi bencana alam di berbagai daerah, penguatan mitigasi berbasis masyarakat seperti yang dilakukan di Desa Jatiarjo dinilai sebagai langkah strategis. Tak hanya menekan risiko korban jiwa dan kerugian, upaya ini juga membangun budaya sadar bencana bagi warga yang hidup di kawasan rawan.

Editor : Arif Ardliyanto

Bagikan Artikel Ini
Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.
News Update
Kanal
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
MNC Portal
Live TV
MNC Network