SURABAYA, iNewsSurabaya.id – Riuh tepuk tangan terdengar di setiap sudut stan. Bukan sekadar pameran karya sekolah, Expo dan Expose Hebatnya SMK Jatim 2026 menjelma menjadi panggung pembuktian. Produk-produk buatan siswa SMK Jawa Timur laris manis hingga mencatat transaksi bernilai miliaran rupiah.
Angka itu bukan hanya statistik. Di baliknya, ada kerja keras, ide-ide berani, dan keberanian generasi muda vokasi menembus pasar nyata.
Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, menyebut capaian tersebut sebagai validasi langsung dari pasar atas kualitas siswa SMK.
“Ini bukan sekadar pameran. Ketika produk siswa laku hingga miliaran rupiah, itu artinya talenta mereka memang dibutuhkan. Anak-anak SMK Jatim sudah membuktikan kualitasnya,” ujarnya.
Tahun ini, expo mengusung konsep “Marketplace Live and Direct”, yakni mempertemukan langsung hasil produksi sekolah dengan kebutuhan dunia usaha dan dunia industri (DUDI).
Konsep ini dinilai efektif memangkas jarak antara bangku pendidikan dan dunia kerja. Produk tidak lagi berhenti di etalase sekolah, melainkan diuji langsung oleh mekanisme pasar.
Mulai dari sektor agribisnis seperti ternak ayam, sapi potong, sapi perah, hingga perikanan, model teaching factory dan teaching industry di SMK Jatim disebut tak kalah dengan yang diterapkan di berbagai perguruan tinggi negeri.
Namun, Khofifah mengingatkan bahwa penguatan teori tetap penting untuk menopang inovasi yang sudah berjalan.
“Produk sudah bagus. Tinggal diperkuat landasan teorinya agar inovasi dan kreativitas luar biasa ini benar-benar berkelanjutan,” katanya.
Membangun Mental Entrepreneur Sejak Sekolah
Lebih dari sekadar kemampuan teknis, expo ini membentuk mental wirausaha siswa. Mereka tidak hanya belajar membuat produk, tetapi juga memahami nilai ekonomi, strategi pemasaran, hingga keberlanjutan usaha.
Di sinilah pendidikan vokasi menemukan maknanya: membentuk lulusan yang tidak hanya siap kerja, tetapi juga siap menciptakan lapangan kerja.
Sekretaris Lembaga Administrasi Negara Republik Indonesia (LAN RI), Andi Taufik, menilai kegiatan ini sejalan dengan target peningkatan Indeks Kualitas Manusia dalam RPJM.
Menurutnya, budaya inovasi di Jawa Timur sudah menjadi kebiasaan yang menyenangkan di sekolah.
“Di Jatim, kalau tidak berinovasi justru dianggap tidak keren. Ini budaya yang luar biasa,” ungkapnya.
Ia berharap model pembelajaran berbasis inovasi seperti di Jawa Timur bisa direplikasi daerah lain.
Apresiasi juga datang dari Direktur SMK Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia, Arie Wibowo Khurniawan. Ia menegaskan pendidikan kejuruan merupakan tulang punggung pertumbuhan ekonomi nasional.
Dengan jumlah SMK dan peserta didik yang besar, Jawa Timur dinilai memiliki peran strategis dalam penyediaan tenaga kerja nasional hingga global.
“SMK Jatim tidak hanya kuat secara teori, tetapi juga nyata kontribusinya. Sinergi pemerintah daerah dan pusat menjadi kunci keberhasilan,” ujarnya.
Expo SMK Jatim 2026 diikuti 269 sekolah negeri dan swasta selama tiga hari pelaksanaan. Selain pameran produk, kegiatan juga diramaikan workshop dan sesi business matching yang mempertemukan sekolah dengan mitra industri.
Kepala Dinas Pendidikan Jatim, Aries, menyebut SMK Jawa Timur kini “naik kelas”.
“Yang ditampilkan bukan sekadar kuantitas, tetapi kualitas. SMK Jatim semakin terkoneksi dengan dunia industri untuk membuka lebih banyak lapangan kerja,” katanya.
Expo ini bukan hanya tentang transaksi miliaran rupiah. Ia menjadi simbol perubahan cara pandang terhadap pendidikan vokasi. Di tengah tantangan global, siswa SMK Jawa Timur menunjukkan bahwa kreativitas, keterampilan, dan keberanian mencoba adalah modal besar menuju masa depan.
Dan di antara gemerlap stan pameran itu, satu pesan terasa jelas: vokasi bukan pilihan kedua—melainkan jalur strategis membangun generasi unggul.
Editor : Arif Ardliyanto
Artikel Terkait
