Selain berbelanja, setiap siswa juga menerima uang saku Rp200 ribu, makanan untuk berbuka puasa, serta snack yang bisa dibawa pulang.
Perhatian tidak hanya diberikan kepada siswa. Para guru pendamping juga mendapat paket sembako dan bantuan uang tunai sebagai bentuk apresiasi atas dedikasi mereka mendampingi anak-anak berkebutuhan khusus.
Khofifah mengaku terkesan dengan kesabaran para guru yang setiap hari membimbing siswa dengan berbagai keterbatasan.
“Guru-guru ini luar biasa. Mereka mendidik, membimbing, dan mendampingi dengan penuh kesabaran,” ungkapnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan Jawa Timur Aries Agung Paewai menjelaskan kegiatan tersebut merupakan bagian dari gerakan “Ramadan Pendidikan Berdampak” yang digagas Dinas Pendidikan Jatim.
Menurut Aries, program ini mendorong sekolah memanfaatkan bulan Ramadan untuk memperkuat nilai spiritual, karakter, dan kepedulian sosial siswa.
“Pendidikan tidak hanya berbicara tentang akademik. Pendidikan harus mampu membangun empati dan nilai kemanusiaan,” jelasnya.
Selain kegiatan sosial seperti santunan dan berbagi takjil, program ini juga menghadirkan berbagai aktivitas pendidikan seperti pondok Ramadan, pesantren kilat tematik, hingga pembelajaran berbasis proyek Ramadan.
Lebih jauh, perhatian terhadap siswa berkebutuhan khusus juga diwujudkan melalui program Vokasi Istimewa yang telah berjalan sejak 2020. Program ini memberikan pelatihan keterampilan bagi siswa SLB, mulai dari tata boga, tata kecantikan, otomotif, hingga kreasi kerajinan.
“Dengan keterampilan tersebut, kami berharap siswa difabel dapat mandiri dan percaya diri menghadapi masa depan,” kata Aries.
Di balik tawa dan wajah ceria para siswa yang membawa pulang pakaian Lebaran baru, tersimpan pesan sederhana: pendidikan bukan hanya tentang belajar di kelas, tetapi juga tentang menghadirkan kepedulian dan kebahagiaan bagi semua anak.
Editor : Arif Ardliyanto
Artikel Terkait
