SURABAYA, iNewsSurabaya.id – Ketegangan geopolitik di Timur Tengah dinilai berpotensi berdampak pada dunia usaha, termasuk perusahaan yang bergantung pada bahan baku impor. Kondisi tersebut juga menjadi perhatian manajemen PT Panca Wira Usaha Jawa Timur (PWU).
Direktur Utama PT Panca Wira Usaha Jawa Timur, Erlangga Satriagung, mengatakan perang antara Iran dan Israel dapat memengaruhi berbagai sektor ekonomi global, terutama melalui fluktuasi nilai tukar mata uang asing dan harga minyak dunia.
“Kalau itu berpengaruh pada nilai tukar asing dan harga minyak dunia, maka hampir tidak ada sektor yang tidak terdampak, termasuk perusahaan,” ujarnya, Senin (16/3/2026).
Ia menjelaskan, sejumlah anak perusahaan PWU masih mengandalkan bahan baku impor. Ketika nilai tukar dolar meningkat atau rupiah melemah, kondisi tersebut dapat memengaruhi biaya produksi, terutama jika perusahaan sudah terikat kontrak harga dengan pihak ketiga.
“Kalau nilai dolar naik atau rupiah melemah, sementara kontrak dengan pihak ketiga sudah ditetapkan, tentu ada potensi kerugian,” katanya.
Beberapa anak perusahaan yang masih melakukan impor bahan baku antara lain PT Loka Refractories Wira Jatim dan PT Karet Ngagel Surabaya Wira Jatim.
Menurut Erlangga, hingga saat ini dampak yang dirasakan masih relatif terkendali, meskipun harga sejumlah komoditas impor mulai mengalami kenaikan sekitar 10 hingga 15 persen.
Namun, ia mengaku masih menunggu perkembangan terbaru setelah harga minyak dunia sempat menembus kisaran 120 dolar AS per barel akibat eskalasi konflik.
“Untuk kenaikan setelah harga minyak dunia mencapai sekitar 120 dolar per barel, kami masih menunggu informasi lebih lanjut,” ujarnya.
Sebagai langkah antisipasi, pihaknya mendorong anak perusahaan untuk mulai mencari alternatif bahan baku dari dalam negeri guna mengurangi ketergantungan pada impor.
“Saya sudah berbicara dengan manajemen agar mulai mencari substitusi bahan baku impor dengan produk lokal. Tim riset dan pengembangan (R&D) juga sedang bekerja untuk mencari kemungkinan tersebut,” jelasnya.
Menurut Erlangga, ketergantungan terhadap bahan baku impor tidak hanya berdampak pada kenaikan harga, tetapi juga berisiko terhadap kelancaran distribusi barang apabila jalur pelayaran internasional terganggu akibat konflik.
Meski demikian, hingga saat ini perusahaan belum melakukan revisi terhadap target pendapatan maupun laba tahun ini. Manajemen masih memantau perkembangan situasi global sebelum mengambil langkah lebih lanjut.
“Kami masih melihat perkembangan ke depan. Mudah-mudahan konflik ini segera mereda sehingga harga komoditas bisa kembali stabil,” pungkasnya.
Editor : Arif Ardliyanto
Artikel Terkait
