KEDIRI, iNewsSurabaya.id – Momen libur Hari Raya Idulfitri selalu membawa berkah tersendiri bagi pelaku usaha. Tak terkecuali bagi Herman Budiono, pengusaha tahu khas Kediri yang merasakan lonjakan penjualan signifikan selama musim mudik Lebaran 2026.
Di tengah ramainya arus pemudik yang melintas, usaha tahu legendaris milik keluarganya justru kebanjiran pembeli. Senyum Herman pun tak bisa disembunyikan ketika menceritakan peningkatan omzet yang diraih tahun ini.
“Penjualan saat Lebaran meningkat drastis, bisa dua sampai tiga kali lipat dibanding hari biasa,” ujar Herman, Kamis (26/3/2026).
Dalam kondisi normal, ia hanya memproduksi sekitar 2.000 potong tahu per hari. Namun saat Lebaran, jumlah produksinya melonjak hingga 6.000 potong per hari untuk memenuhi tingginya permintaan pasar.
Meski permintaan melonjak, Herman tetap menjaga harga agar tetap stabil. Tahu buatannya dijual Rp5.000 per potong atau Rp50.000 per bungkus.
Usaha tahu yang dikenal dengan nama Tahu Bah Kacung ini bukanlah bisnis baru. Berdiri sejak tahun 1912, usaha tersebut kini telah memasuki generasi ketiga dan tetap mempertahankan cita rasa khas yang menjadi daya tarik utama.
Herman sendiri mulai melanjutkan usaha keluarga sejak 2008. Ia mengaku, lonjakan pembeli sudah mulai terasa bahkan beberapa hari sebelum Lebaran tiba.
Lokasi usahanya di Jalan Yos Sudarso, Kota Kediri, hampir tak pernah sepi pengunjung. Tak hanya warga lokal, pembeli juga datang dari berbagai kota besar seperti Jakarta, Surabaya, hingga Bandung. Bahkan, ada pula pelanggan dari luar pulau yang sengaja singgah untuk membeli oleh-oleh khas Kediri tersebut.
“Banyak pemudik yang mampir untuk membeli tahu sebagai oleh-oleh Lebaran. Sudah jadi tradisi,” katanya.
Herman memperkirakan tren peningkatan penjualan ini masih akan berlangsung hingga sepekan bahkan 10 hari setelah Idulfitri.
Beberapa produk yang paling diburu pembeli antara lain tahu goreng, tahu kuning siap santap, serta olahan tradisional khas seperti getuk pisang.
Salah satu pembeli, Icha, mengaku sengaja membeli tahu tersebut sebagai buah tangan untuk keluarga. Menurutnya, rasa khas tahu Kediri sulit ditemukan di daerah lain.
“Ini beli dua besek, sekitar 10 biji, untuk oleh-oleh keluarga di Sidoarjo,” ujarnya.
Kisah Herman menjadi bukti bahwa tradisi mudik tak hanya mempererat silaturahmi, tetapi juga menggerakkan roda ekonomi lokal. Di balik padatnya arus perjalanan, ada harapan dan rezeki yang mengalir bagi para pelaku usaha daerah.
Editor : Arif Ardliyanto
Artikel Terkait
