Sekolah Harus Melek Digital, Ini Pesan Para Pakar di Surabaya

Arif Ardliyanto
Transformasi digital pendidikan di Surabaya semakin nyata. Forum Purchasing Days mendorong pemimpin sekolah adaptif, kolaborasi industri, dan percepatan pemerataan teknologi di Indonesia. (Foto tangkap kayar).

SURABAYA, iNewsSurabaya.id – Di tengah derasnya arus teknologi digital, dunia pendidikan tak lagi punya pilihan selain beradaptasi. Perubahan bukan hanya soal alat, tetapi juga cara berpikir dan kepemimpinan di sekolah.

Suasana itu terasa dalam forum Digital Update: Advancing Digital Education for School Leaders yang digelar dalam rangkaian Purchasing Days di Hotel Morazen. Forum ini menjadi ruang temu antara dunia industri, bisnis, dan pendidikan dalam satu ekosistem kolaboratif yang saling terhubung.

Bagi para kepala sekolah dan pengelola pendidikan, forum ini bukan sekadar acara seremonial. Mereka datang dengan satu tujuan: mencari arah di tengah percepatan digitalisasi yang tak terelakkan.

Direktur PT Visiniaga Mitra Kreasindo, Leon Rumambi, menegaskan bahwa teknologi kini menjadi bagian tak terpisahkan dari masa depan pendidikan.

“Kalau kita tidak memanfaatkannya untuk kemajuan pendidikan, sangat disayangkan,” ujarnya.

Menurut Leon, pemerintah telah mulai mendorong pemerataan akses teknologi, bahkan hingga ke wilayah terluar. Langkah ini menjadi sinyal kuat bahwa transformasi digital bukan hanya milik kota besar.

“Sekolah di daerah terluar sekarang sudah mulai diberi fasilitas teknologi,” katanya.

Lebih jauh, ia menilai pemanfaatan teknologi mampu mempercepat proses belajar sekaligus meningkatkan kualitas sumber daya manusia di sekolah, mulai dari guru hingga manajemen yayasan.

“Perkembangan teknologi tidak untuk ditakuti, tetapi untuk dirangkul,” tegasnya.

Pandangan serupa disampaikan Tony Antonio. Ia menekankan bahwa kemampuan digital kini menjadi bagian penting dalam konsep 21st Century Skills yang wajib dimiliki peserta didik.

“Anak-anak harus akrab dengan gadget, bukan hanya untuk hiburan, tapi juga untuk belajar,” ujarnya.

Namun, Tony juga mengingatkan bahwa transformasi digital masih menghadapi tantangan besar, terutama soal pemerataan infrastruktur.

“Pendidikan mau pakai digital bagaimana kalau sinyal tidak ada? Ini memang masalah nasional,” katanya.

Meski demikian, ia melihat optimisme dari mulai terbukanya kolaborasi antara pemerintah dan sektor swasta. Bantuan pendidikan, program magang, hingga kunjungan industri menjadi bagian dari upaya membangun ekosistem pendidikan yang lebih kuat.

Sementara itu, Direktur Nola School, Caroline Lumengga, menangkap perubahan positif dari akar rumput. Ia melihat semakin banyak institusi pendidikan, termasuk pondok pesantren, yang mulai terbuka terhadap teknologi.

“Saya melihat banyak pondok pesantren yang kini mulai menerima kemajuan teknologi. Ini perkembangan yang sangat baik,” ujarnya.

Bagi Caroline, forum seperti ini bukan hanya soal berbagi pengetahuan, tetapi juga membangun jejaring yang bisa mempercepat pemerataan pendidikan digital di Indonesia.

“Event ini seperti pintu pembuka. Kalau terus berkembang, dampaknya bisa menjangkau seluruh Indonesia,” pungkasnya.

Di tengah tantangan dan peluang yang ada, satu hal menjadi jelas: masa depan pendidikan tidak lagi bisa dilepaskan dari teknologi. Kini, yang dibutuhkan bukan sekadar kesiapan perangkat, tetapi juga keberanian para pemimpin sekolah untuk berubah dan melangkah lebih maju.

Editor : Arif Ardliyanto

Bagikan Artikel Ini
Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.
News Update
Kanal
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
MNC Portal
Live TV
MNC Network