BANYUWANGI, iNewsSurabaya.id – Sejak pagi di Dusun Rejopuro, Desa Kampunganyar, Kecamatan Glagah, terasa berbeda, Kamis (30/4/2026). Suara doa bersahutan, aroma masakan tradisional menguar, dan ratusan warga Suku Osing berjalan beriringan menuju sumber air Kajar. Warga menggelar ritual adat Ithuk-Ithukan, sebuah tradisi turun-temurun yang bukan sekadar seremoni, melainkan wujud rasa syukur atas sumber kehidupan yang tak pernah berhenti mengalir.
Di tengah ancaman krisis air di berbagai daerah, warga Rejopuro justru memiliki kisah berbeda. Sumber air Kajar yang mereka andalkan tetap mengalir jernih, bahkan saat kemarau panjang melanda. Bagi warga, ini bukan hanya fenomena alam, tetapi anugerah yang harus dijaga bersama.
Prosesi dimulai dengan doa bersama. Warga dari berbagai usia—anak-anak hingga lansia—larut dalam suasana khidmat. Mereka memanjatkan rasa terima kasih sekaligus harapan agar sumber air tetap lestari.
Ritual Ithuk-Ithukan Suku Osing di Banyuwangi jadi simbol syukur atas sumber air Kajar yang tak pernah surut, tradisi turun-temurun sejak 1617. Foto iNewsSurabaya.id/siswanto
Tokoh adat setempat, Sarino, menyebut Ithuk-Ithukan sebagai simbol penghormatan kepada Sang Pencipta.
“Air dari sumber Kajar tidak pernah surut. Ini anugerah yang wajib dijaga dan dilestarikan bersama,” ujarnya.
Lebih dari sekadar tradisi, air Kajar menjadi urat nadi kehidupan. Alirannya tidak hanya memenuhi kebutuhan air bersih warga, tetapi juga menghidupi lahan pertanian di wilayah Glagah, Kenjo, hingga Tamansuruh.
Yang membuat ritual ini semakin istimewa adalah keberadaan ribuan “ithuk”—sekitar 3.000 paket makanan yang disiapkan warga dengan penuh semangat. Dibungkus daun pisang, ithuk berisi nasi dan lauk khas, terutama pecel pitik, olahan ayam kampung suwir berpadu parutan kelapa berbumbu khas Osing.
Setelah didoakan, ribuan ithuk itu diarak dalam pawai budaya menuju sumber mata air. Iringan kesenian tradisional seperti tari Barong, Kuntulan, hingga musik khas Osing menambah semarak suasana. Namun di balik kemeriahan itu, tersimpan pesan kuat tentang harmoni manusia dan alam.
Puncak acara berlangsung sederhana namun penuh makna: makan bersama di sekitar sumber air, diiringi gemericik aliran yang seolah ikut merayakan kebersamaan. Di momen inilah, batas usia dan status sosial seakan hilang—semua duduk setara, berbagi rezeki dan cerita.
Tradisi ini bahkan telah berlangsung sejak 1617, menurut catatan lokal. Selama lebih dari empat abad, Ithuk-Ithukan tidak hanya bertahan, tetapi juga menjadi perekat sosial warga. Nilai gotong royong terasa kental, bahkan bagi mereka yang tidak hadir tetap mendapat kiriman ithuk ke rumah masing-masing.
Kepala Desa Kampunganyar, Suwandi, menegaskan pentingnya peran generasi muda dalam menjaga warisan ini.
“Ithuk-Ithukan bukan sekadar budaya, tetapi pengingat bahwa air adalah sumber kehidupan yang harus dijaga,” katanya.
Di tengah perubahan zaman, Ithuk-Ithukan hadir sebagai pengingat sederhana namun kuat: bahwa kelestarian alam berawal dari kesadaran bersama. Dengan nilai historis, spiritual, dan ekologis yang melekat, tradisi ini tak hanya layak dilestarikan, tetapi juga berpotensi menjadi daya tarik wisata budaya unggulan Banyuwangi.
Lebih dari itu, Ithuk-Ithukan adalah cerita tentang manusia dan air—tentang rasa syukur, kebersamaan, dan harapan agar kehidupan tetap mengalir, seperti sumber Kajar yang tak pernah kering.
Editor : Arif Ardliyanto
Artikel Terkait
