SURABAYA, iNewsSurabaya.id – PT Suparma Tbk memutuskan tidak membagikan dividen tunai kepada pemegang saham dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) Tahun 2026.
Sebaliknya, emiten berkode SPMA itu memilih menggunakan laba tahun buku 2025 untuk memperkuat struktur permodalan dan mendukung pengembangan usaha.
Direktur PT Suparma Tbk, Hendro Luhur, menjelaskan bahwa meskipun laba komprehensif tahun berjalan 2025 meningkat 1,6 persen menjadi Rp104,8 miliar dibandingkan tahun sebelumnya, perusahaan memprioritaskan penggunaan laba untuk kebutuhan investasi dan ekspansi bisnis.
“Setelah dikurangi pembentukan dana cadangan wajib sebesar Rp20 miliar, sisa laba digunakan untuk memperkuat struktur permodalan, pengembangan usaha, serta investasi yang mendukung peningkatan kapasitas produksi,” ujar Hendro usai RUPS, Selasa (30/6/2026).
Menurut Hendro, investasi tersebut difokuskan pada peningkatan kapasitas mesin Refuse Derived Fuel (RDF), pembangunan fasilitas dan mesin pendukung Mesin Kertas Nomor 11 (PM 11), serta peningkatan kualitas mesin pengolahan bahan baku kertas bekas (de-inking machine), mesin cetak, instrumen Quality Assurance (QA), hingga pembangunan gedung perkantoran.
Meski tidak membagikan dividen tunai, Suparma tetap memberikan nilai tambah kepada pemegang saham melalui pembagian dividen saham.
Berdasarkan keputusan RUPS, perseroan membagikan dividen saham dari kapitalisasi saldo laba dengan nilai maksimal Rp492,03 miliar yang setara dengan sebanyak-banyaknya 1.230.095.230 lembar saham baru.
Pembagian dividen saham dilakukan dengan rasio 100:30. Artinya, setiap pemegang 100 saham lama dengan nilai nominal Rp400 per saham akan memperoleh 30 saham baru dengan nilai nominal yang sama.
Hendro menjelaskan, kebijakan tersebut bertujuan memperkuat struktur permodalan perusahaan, meningkatkan distribusi laba kepada pemegang saham tanpa membebani kondisi keuangan perseroan, serta meningkatkan likuiditas perdagangan saham di pasar.
“Dengan bertambahnya jumlah saham beredar, likuiditas saham diharapkan meningkat. Secara teoritis harga saham juga menjadi lebih terjangkau sehingga membuka peluang bagi investor dengan modal yang lebih terbatas untuk berpartisipasi,” jelasnya.
Dari sisi kinerja operasional, Suparma mencatat pertumbuhan penjualan bersih sebesar 0,41 persen pada 2025 menjadi Rp2,74 triliun. Pertumbuhan tersebut ditopang peningkatan volume penjualan sebesar 2,5 persen menjadi 235,1 ribu metrik ton (MT), terutama dari produk Kraft dan Duplex yang masing-masing tumbuh 5,5 persen dan 1,5 persen.
Di saat yang sama, beban pokok penjualan turun 0,45 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Kondisi tersebut mendorong laba kotor naik 5,23 persen dari Rp412,8 miliar menjadi Rp434,4 miliar.
“Margin laba kotor juga meningkat menjadi 15,9 persen dari sebelumnya 15,1 persen,” kata Hendro.
Memasuki tahun 2026, kinerja penjualan perseroan juga menunjukkan tren positif. Hingga lima bulan pertama tahun ini, Suparma telah membukukan penjualan bersih sebesar Rp1,17 triliun atau setara 39,1 persen dari target penjualan tahun 2026 sebesar Rp3 triliun.
Sementara itu, volume penjualan kertas mencapai 92.960 MT atau 36,5 persen dari target tahunan sebesar 255.000 MT. Produksi kertas tercatat 97.994 MT atau 39,2 persen dari target produksi 250.000 MT pada 2026.
Untuk mendukung pertumbuhan jangka panjang, Suparma juga tengah merealisasikan investasi Mesin Kertas Nomor 11 (PM 11) dengan nilai investasi sekitar USD23 juta.
Editor : Arif Ardliyanto
Artikel Terkait
