Janji Bantuan Rp1,1 Miliar Berujung Polemik, BIP dan Arief Camra Saling Klaim

Rahmat Ilyasan
Polemik bantuan sosial antara BIP dan Arief Camra viral di media sosial. BIP dan Arief sama-sama membeberkan kronologi serta alasan batalnya program bantuan. Foto iNewsSurabaya.id/ilyas

SURABAYA, iNewsSurabaya.id – Polemik bantuan sosial antara Bani Insan Peduli (BIP) dan pendiri Griya Lansia Husnul Khatimah, Arief Rakhman Hakim alias Arief Camra, menjadi sorotan publik setelah viral di media sosial. Kedua belah pihak saling menyampaikan klarifikasi terkait batalnya program bantuan yang sebelumnya telah diumumkan kepada publik.

Untuk meluruskan polemik tersebut, BIP menggelar konferensi pers di Surabaya, Minggu (12/7/2026). Dalam kesempatan itu, Humas BIP Kuswanto Ferdian menjelaskan bahwa persoalan bermula saat program Tour Jatim yang digelar pada 14-15 Mei 2026.

Menurut Kuswanto, agenda pertama dilakukan di kediaman Purnomo atau yang dikenal sebagai "Polisi Baik". Founder BIP Ali Zaenal menyerahkan bantuan berupa dua ekor sapi dan pembangunan masjid dengan nilai sekitar Rp1 miliar.

"Beliau minta ada nama ibunda beliau sebagai bentuk penghargaan kepada ibunda beliau yang sudah meninggal," ujar Kuswanto Ferdian.

Setelah itu, rombongan BIP melanjutkan kunjungan ke Griya Lansia Husnul Khatimah di Malang yang dikelola Arief Camra. Di lokasi tersebut, BIP menyerahkan bantuan berupa sapi, sembako, kursi roda, perlengkapan ibadah, hingga dana kesejahteraan untuk para karyawan.

BIP juga menyiapkan program bantuan senilai Rp1,5 miliar untuk pembangunan masjid dan peningkatan kesejahteraan penghuni yayasan. Tahap pertama, dana Rp250 juta disalurkan kepada para karyawan.

Namun, menurut Kuswanto, situasi berubah ketika Arief Camra mengajukan permohonan tambahan di luar agenda awal.

"Saat acara penyerahan bantuan ke Griya Lansia Malang ini, Pak Arief Camra tiba-tiba menyodorkan berkas pembebasan lahan untuk pembangunan rumah yatim Griya Yatim Sidoarjo dan meminta bantuan. Totalnya sebesar Rp900 juta," katanya.

Kuswanto mengungkapkan, Founder BIP saat itu tidak menolak permohonan tersebut. Bahkan, Ali Zaenal menyatakan kesediaannya memberikan bantuan sebesar Rp1,1 miliar atau lebih besar Rp200 juta dari nominal yang diajukan.

Namun setelah dilakukan survei ke lokasi di Sidoarjo, tim BIP menemukan estimasi nilai rumah yang akan dibeli hanya berkisar Rp400 juta. Hasil tersebut menjadi dasar evaluasi hingga akhirnya bantuan dibatalkan.

Meski demikian, Founder BIP Ali Zaenal menegaskan dirinya tetap menghormati Arief Camra dan berharap persoalan tersebut tidak merusak hubungan baik yang selama ini terjalin.

"Hubungan saya pribadi sama pihak Griya Lansia Malang dan Griya Yatim baik-baik saja, tidak ada masalah apa pun sama Bapak Arief. Yang ada, saya butuh banyak belajar dan butuh arahan beliau," ujar Ali Zaenal.

Di sisi lain, Arief Camra menyampaikan penjelasan yang berbeda. Ia mengaku akar persoalan bukan semata soal nominal bantuan, melainkan adanya perbedaan pandangan mengenai penamaan masjid dan area pemakaman yang akan dibangun.

"Ada kesepakatan dibantu dicairkan kalau masjidnya itu diberi nama label Bani di depannya. Nah, Masjid Bani Griya Lansia. Tentu saja saya tolak," kata Arief melalui sambungan telepon.

Arief mengaku telah menawarkan alternatif penamaan yang tetap mencantumkan BIP sebagai donatur tanpa mengubah identitas masjid maupun pemakaman.

"Masjid sudah saya tawarkan menjadi masjid bantuan dari seluruh masyarakat dan donatur utama Yayasan Nurul Hayat dan Yayasan Bani Insan Peduli. Itu sudah saya tawarkan, tapi ditolak," ujarnya.

Ia juga mengungkapkan bahwa dana tahap pertama sebesar Rp250 juta telah disalurkan kepada para karyawan sesuai amanat pemberi bantuan. Namun karena merasa tidak mendapat kepastian mengenai kelanjutan program, ia memutuskan mengembalikan sisa dana kepada pihak BIP.

"Saya merasa tertekan dan digantung. Akhirnya saya WhatsApp ke Ketua BIP, apakah ada kelanjutan dengan program ini," kata Arief.

Polemik yang sempat viral di media sosial itu kini menghadirkan dua versi kronologi. BIP menyebut pembatalan bantuan dilakukan berdasarkan hasil survei dan evaluasi internal, sedangkan Arief Camra menilai persoalan bermula dari belum tercapainya kesepakatan mengenai penamaan fasilitas yang akan dibangun. Hingga kini, kedua belah pihak menyatakan tetap membuka ruang komunikasi untuk menyelesaikan persoalan tersebut secara baik-baik.

Editor : Arif Ardliyanto

Bagikan Artikel Ini
Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.
News Update
Kanal
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
MNC Portal
Live TV
MNC Network