SURABAYA, iNewsSurabaya.id – Pelemahan harga emas dalam beberapa waktu terakhir memicu perubahan perilaku sebagian investor di Jawa Timur. Sejumlah pemilik logam mulia mulai melepas asetnya untuk merealisasikan keuntungan setelah harga emas sebelumnya sempat berada di level tinggi. Meski demikian, minat masyarakat menjadikan emas sebagai instrumen tabungan dan investasi jangka panjang dinilai masih tetap kuat.
Fenomena tersebut menunjukkan bahwa pergerakan harga emas tidak selalu direspons dengan aksi jual secara menyeluruh. Di tengah fluktuasi pasar, masyarakat yang berorientasi pada investasi jangka panjang masih memandang emas sebagai aset yang mampu menjaga nilai kekayaan.
Pemimpin Wilayah PT Pegadaian Kanwil XII Surabaya, Ahmad Zaenudin, mengatakan tren transaksi emas di Jawa Timur sepanjang semester pertama 2026 memperlihatkan adanya perbedaan perilaku antara investor jangka pendek dan masyarakat yang menabung emas secara rutin.
Menurutnya, penurunan harga yang terjadi saat ini merupakan bagian dari siklus pasar setelah emas mengalami kenaikan cukup tinggi dalam beberapa waktu terakhir. Kondisi tersebut mendorong sebagian investor mengambil keuntungan dengan menjual emas yang telah dimiliki.
"Ketika harga emas sudah tinggi, tentu ada masyarakat yang memutuskan menjual karena sudah mendapatkan keuntungan. Itu hal yang logis. Namun, kami melihat minat masyarakat untuk memiliki emas sebagai tabungan maupun investasi jangka panjang masih tetap stabil," ujar Ahmad Zaenudin.
Ia menjelaskan, mayoritas masyarakat yang menjadi nasabah tidak membeli emas untuk melakukan transaksi jual beli dalam waktu singkat. Sebaliknya, emas lebih banyak dimanfaatkan sebagai instrumen penyimpanan nilai yang relatif aman di tengah dinamika ekonomi.
"Kalau yang memiliki pola pikir trading memang mulai berkurang. Tetapi masyarakat yang membeli emas untuk menabung, investasi, maupun kebutuhan perhiasan masih tetap ada," katanya.
Menurut Ahmad, karakter investor di Jawa Timur masih didominasi oleh masyarakat yang memiliki tujuan keuangan jangka panjang. Karena itu, fluktuasi harga emas tidak serta-merta membuat permintaan logam mulia menurun drastis.
Ia juga menilai pergerakan harga emas hingga akhir 2026 masih akan dipengaruhi berbagai faktor eksternal, terutama kebijakan suku bunga global. Perubahan arah kebijakan bank sentral di sejumlah negara dinilai menjadi salah satu faktor yang dapat memengaruhi minat investor terhadap aset safe haven seperti emas.
Meski demikian, Ahmad menegaskan tidak ada pihak yang dapat memastikan arah harga emas dalam beberapa bulan mendatang. Analisis yang dilakukan lebih mengacu pada tren pergerakan pasar dibandingkan memberikan proyeksi harga secara spesifik.
"Kami tidak memiliki kewenangan memprediksi harga emas secara pasti. Di kantor pusat memang ada tim yang melakukan analisis, tetapi kami lebih melihat rata-rata pergerakan harga dibandingkan memberikan angka pasti," tuturnya.
Di tengah ketidakpastian ekonomi global, emas masih menjadi salah satu pilihan investasi yang banyak diminati masyarakat karena dinilai mampu menjaga nilai aset dalam jangka panjang. Kondisi ini membuat permintaan emas untuk tabungan dan investasi diperkirakan tetap bertahan meski harga sedang mengalami koreksi.
Editor : Arif Ardliyanto
Artikel Terkait
