PROBOLINGGO, iNewsSurabaya.id – Kesadaran menjaga kesehatan jantung perlu dibangun sejak usia muda. Salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah membiasakan pola hidup sehat melalui pola makan bergizi seimbang, aktivitas fisik, serta penerapan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS).
Upaya tersebut dilakukan Tim Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa) melalui program bertajuk “Gerakan Santri Sehat Jantung Melalui Edukasi PHBS, Makan Seimbang, dan Aktivitas Fisik”.
Kegiatan yang diketuai Mochamad Faishal Riza, dr., Sp.JP(K), FIHA, tersebut digelar di Pondok Pesantren Zainul Hasan Genggong, Probolinggo. Sebanyak 50 santri mengikuti rangkaian kegiatan yang berfokus pada pencegahan penyakit kardiovaskular sejak usia muda.
Dalam kegiatan tersebut, para santri mendapatkan edukasi mengenai pentingnya menerapkan PHBS, mengonsumsi makanan bergizi seimbang, serta melakukan aktivitas fisik secara rutin.
Materi juga mencakup berbagai faktor risiko penyakit jantung, seperti pola makan tidak sehat, kurangnya aktivitas fisik, kebiasaan merokok, serta kelebihan berat badan.
Tim pengabdian menekankan bahwa kebiasaan hidup sehat yang dibangun sejak remaja dapat memberikan manfaat jangka panjang. Karena itu, para santri didorong mulai menerapkan pola hidup sehat dalam aktivitas sehari-hari di lingkungan pesantren.
Selain penyuluhan, tim Unusa memberikan layanan pemeriksaan kesehatan secara gratis kepada para peserta. Pemeriksaan tersebut menjadi bagian dari upaya meningkatkan kesadaran santri terhadap kondisi kesehatan sekaligus mendukung deteksi dini gangguan kesehatan.
Ketua Tim Pengabdian kepada Masyarakat Unusa, Mochamad Faishal Riza, mengatakan lingkungan pondok pesantren memiliki posisi strategis dalam membentuk kebiasaan hidup sehat. Pasalnya, santri menghabiskan sebagian besar waktu untuk belajar, beribadah, dan beraktivitas di lingkungan pesantren.
“Pencegahan penyakit jantung harus dimulai sejak dini melalui perubahan gaya hidup. Dengan membiasakan pola makan yang sehat, meningkatkan aktivitas fisik, serta menerapkan PHBS, para santri dapat menjaga kesehatan jantung sekaligus menjadi teladan bagi keluarga dan masyarakat ketika kembali ke lingkungan masing-masing,” ujarnya, Selasa (11/8/2026).
Para santri juga diajak menerapkan sejumlah kebiasaan sederhana, seperti memperbanyak konsumsi buah dan sayur, membatasi makanan tinggi gula, garam, dan lemak, rutin melakukan aktivitas fisik, menjaga waktu istirahat, serta menghindari rokok.
Kebiasaan tersebut diharapkan tidak hanya diterapkan secara individu, tetapi berkembang menjadi bagian dari budaya hidup sehat di lingkungan pondok pesantren.
Pihak Pondok Pesantren Zainul Hasan Genggong menyambut positif kegiatan tersebut. Kolaborasi antara perguruan tinggi dan pesantren dinilai dapat menjadi sarana untuk memperluas edukasi kesehatan, khususnya mengenai upaya pencegahan penyakit tidak menular sejak usia muda.
Melalui kegiatan tersebut, Unusa menegaskan komitmennya dalam meningkatkan kesadaran kesehatan masyarakat melalui pendekatan promotif dan preventif.
Para santri diharapkan tidak hanya memahami pentingnya menjaga kesehatan jantung, tetapi juga mampu menerapkan pola hidup sehat dalam keseharian serta menjadi agen perubahan bagi keluarga dan lingkungan di sekitarnya.
Editor : Arif Ardliyanto
Artikel Terkait
