SURABAYA, iNewsSurabaya.id – Suasana wisuda Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya kali ini terasa berbeda. Bukan profesor atau dosen yang berdiri menyampaikan pesan utama kepada para wisudawan, melainkan seorang alumni yang beberapa tahun lalu masih duduk sebagai mahasiswa.
Alumni tersebut adalah Mustofa Saifa, lulusan Program Studi Teknik Sipil Untag Surabaya angkatan 2020. Setelah menyelesaikan kuliah, Mustofa melanjutkan perjalanan karier ke Jepang dan kini bekerja di bidang konstruksi desain pada sebuah perusahaan internasional.
Mustofa kembali ke almamater bukan sekadar untuk menghadiri wisuda. Ia dipercaya menyampaikan orasi ilmiah di hadapan profesor, dosen, profesional dan mahasiswa.
Pengalaman bekerja di Jepang menjadi bagian penting dari materi yang disampaikan Mustofa. Ia mengingatkan para lulusan bahwa gelar akademik dan kemampuan teknis saja belum cukup untuk menjamin seseorang mampu bertahan di dunia kerja.
Alumni Untag Surabaya Mustofa Saifa yang kini bekerja di Jepang menjadi pembicara wisuda. Ia membagikan kunci sukses menghadapi dunia kerja global. Foto iNewsSurabaya.id/arif
Menurutnya, lulusan perguruan tinggi perlu memiliki kemampuan yang lebih luas, terutama ketika harus berhadapan dengan lingkungan profesional yang memiliki tuntutan dan karakter berbeda.
“Kompetensi saja tidak cukup. Kita harus mampu bekerja sama dengan orang lain. Ada komunikasi, kolaborasi, adaptasi, problem solving dan integritas,” ujar Mustofa dalam orasi ilmiahnya.
Mustofa menjelaskan bahwa komunikasi merupakan salah satu kemampuan yang sering kali menentukan keberhasilan seseorang di tempat kerja.
Seorang pekerja tidak hanya dituntut memahami pekerjaan secara teknis, tetapi juga harus mampu menjelaskan gagasan kepada rekan kerja dan atasan.
“Bagaimana cara kita menjelaskan kepada rekan kerja dan atasan. Kemudian bagaimana kita mampu bekerja dengan orang yang berbeda. Itu membutuhkan kolaborasi,” katanya.
Menurut Mustofa, kemampuan tersebut semakin penting ketika seseorang bekerja dalam lingkungan dengan latar belakang budaya yang beragam.
Pengalaman bekerja di Jepang membuatnya melihat bahwa pola kerja di dunia profesional memiliki tantangan berbeda dibandingkan ketika masih berada di bangku kuliah.
Perbedaan budaya kerja, sistem, teknologi hingga kebiasaan sehari-hari menuntut seseorang untuk cepat beradaptasi.
Karena itu, ia meminta para lulusan Untag tidak berhenti mengembangkan kemampuan setelah memperoleh ijazah.
Editor : Arif Ardliyanto
