SURABAYA, iNewsSurabaya.id – Wisuda menjadi momen yang membahagiakan bagi Alam Mulya Wibowo dan saudara kembarnya, Alim Mulya Wibowo. Namun, di balik toga yang mereka kenakan, tersimpan cerita panjang tentang perjuangan menempuh pendidikan dengan kondisi ekonomi keluarga yang sederhana.
Alam merupakan wisudawan Program Studi Teknik Mesin. Sementara Alim menyelesaikan pendidikan di Program Studi Teknik Industri. Meski mengambil jurusan berbeda, keduanya memiliki perjalanan yang hampir sama: berjuang bersama sejak awal kuliah hingga akhirnya berhasil menyelesaikan pendidikan.
Kedua saudara kembar itu berasal dari keluarga sederhana. Orang tua mereka bekerja sebagai karyawan swasta di PT Hasil Abadi Sentosa, Jalan Sumengko, Kecamatan Wringinanom, Kabupaten Gresik.
Kisah haru kembar Alam dan Alim meraih sarjana. Berbekal satu sepeda, kerja freelance, hingga magang dan kuliah malam, mereka pantang menyerah. Foto iNewsSurabaya.id/arif
Jarak rumah menuju kampus di Surabaya juga bukan perjalanan singkat. Setiap hari, keduanya harus menempuh jarak sekitar 33 kilometer untuk mengikuti perkuliahan.
Menurut Alam, kondisi ekonomi keluarga memang tidak berlebihan. Namun, orang tuanya selalu berusaha agar kedua anaknya tetap mendapatkan kesempatan menempuh pendidikan tinggi.
“Ekonomi orang tua memang sederhana, tetapi masih mampu untuk membiayai kami berdua kuliah. Yang penting orang tua tetap berusaha supaya kami bisa menyelesaikan kuliah,” ujar Alam Mulya Wibowo.
Salah satu cerita yang paling membekas bagi Alam terjadi ketika ia dan Alim harus memikirkan cara berangkat ke kampus.
Keluarga mereka hanya memiliki satu sepeda. Kendaraan tersebut tidak sepenuhnya bisa digunakan untuk kuliah karena juga dipakai orang tua untuk menunjang pekerjaan.
Editor : Arif Ardliyanto
Artikel Terkait
