SURABAYA, iNewsSurabaya.id – Di tengah derasnya arus media sosial dan hiburan digital, pertunjukan wayang kulit menghadapi tantangan untuk tetap dekat dengan generasi masa kini. Tradisi yang telah menjadi bagian dari identitas budaya masyarakat Jawa itu pun membutuhkan ruang agar tetap hidup dan dikenal lintas generasi.
Upaya tersebut salah satunya dilakukan Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya melalui pagelaran wayang kulit yang digelar di Pelataran Gedung Fakultas Kedokteran Untag Surabaya.
Bukan sekadar pertunjukan, kegiatan tersebut menjadi bagian dari komitmen kampus dalam menjaga keberadaan kesenian tradisional sekaligus membangun kedekatan dengan masyarakat.
Untag Surabaya menggelar pagelaran wayang kulit lakon Wahyu Katentreman sebagai upaya melestarikan budaya sekaligus berbagi kebahagiaan bersama ribuan masyarakat. Foto iNewsSurabaya.id/ist
Ribuan warga turut memadati lokasi pagelaran. Mereka berbaur dengan jajaran pimpinan Yayasan Perguruan Tinggi 17 Agustus 1945 (YPTA) Surabaya, pimpinan universitas, serta sivitas akademika Untag Surabaya.
Pagelaran mengangkat lakon Wahyu Katentreman yang dibawakan oleh dua dalang, yakni Ki Minto Darsono dan Ki Thathit Kusuma Wibathsuh.
Suasana pertunjukan semakin meriah dengan kehadiran Cak Percil Cs serta penampilan kelompok karawitan Sekar Gadung Indonesia. Perpaduan wayang, karawitan, dan hiburan tersebut membuat pertunjukan berlangsung semarak hingga menarik perhatian masyarakat.
Rektor Untag Surabaya, Dr. Harjo Seputro, S.T., M.T., mengatakan pemilihan lakon Wahyu Katentreman bukan tanpa alasan. Lakon tersebut dinilai memiliki pesan yang relevan dengan harapan terhadap kehidupan di lingkungan YPTA Surabaya.
“Kami memilih lakon ini karena berharap semoga katentreman selalu hadir di lingkungan YPTA. Kami ingin melestarikan kebudayaan dan bersama-sama berbagi kebahagiaan dengan masyarakat,” ujar Harjo.
Editor : Arif Ardliyanto
Artikel Terkait
