SAMPANG, iNewsSurabaya.id – Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa mengatakan, kekeringan saat ini menjadi persoalan yang terjadi di sejumlah daerah di Jatim. Hingga 16 September 2026, sebanyak 24 kabupaten/kota telah menetapkan status kedaruratan akibat kekeringan.
"Ini ada 24 kabupaten/kota di Jatim yang sudah menerbitkan SK kedaruratan karena kekeringan. Dan masing-masing kabupaten/kota sudah mengintervensi kebutuhan air bersihnya," kata Khofifah, Kamis (17/9/2026).
Di Kabupaten Sampang, kekeringan dengan kategori kritis tersebar di 12 kecamatan. Antara lain, Sreseh, Banyuates, Kedungdung, Karang Penang, Omben, Tambelangan, Sokobanah, Robatal, Sampang, Torjun, Camplong, dan Jrengik.
Sejumlah wilayah mengalami dampak cukup besar. Kecamatan Karang Penang, misalnya, tercatat sebanyak 24.877 KK atau 83.355 jiwa terdampak. Sementara Kecamatan Tambelangan mencapai 13.067 KK atau 77.014 jiwa dan Kecamatan Kedungdung sebanyak 13.632 KK atau 68.091 jiwa.
Selain kategori kritis, kekeringan dengan status langka juga terjadi di Banyuates, Pangarengan, dan Jrengik. Sedangkan kategori langka terbatas tercatat di Pangarengan, Sampang, dan Ketapang.
Khofifah mengatakan, distribusi air bersih merupakan solusi jangka pendek. Pemprov Jatim juga berupaya mencari sumber air permanen melalui pengeboran di sejumlah titik, termasuk wilayah Pulau Madura. Namun, upaya tersebut tidak selalu mudah karena kondisi geologi di sejumlah lokasi.
"Sebetulnya ini kan sedang ada Karya Bakti TNI skala besar se-Pulau Madura. Untuk bisa diidentifikasi, harus dibor dengan kedalaman tertentu dan itu juga harus dimaksimalkan," ujarnya.
Khofifah mencontohkan, terdapat lokasi yang pengeborannya telah mencapai kedalaman 200 meter tetapi masih menemukan batuan. Bahkan, 19 mata bor disebut telah putus dalam proses pencarian sumber air. "Artinya, betapa memang di titik tertentu itu relatif kita butuh ikhtiar untuk bisa mendapatkan sumber air," katanya.
Menurut Khofifah, pencarian sumber air perlu didukung pemetaan yang akurat agar pengeboran dilakukan pada titik yang memiliki potensi sumber air memadai. “Selain pengeboran, pembangunan embung dan waduk juga menjadi alternatif untuk memperkuat ketersediaan air dalam jangka panjang,” jelasnya.
Editor : Arif Ardliyanto
Artikel Terkait
