SURABAYA, iNewsSurabaya.id – Rencana membangun karier dan kondisi ekonomi membuat sebagian pasangan di perkotaan memilih menunda memiliki anak. Fenomena ini ikut menjadi perhatian karena angka kelahiran di sejumlah kota besar, termasuk Surabaya, menunjukkan tren penurunan.
Total Fertility Rate (TFR) atau angka kelahiran total di Surabaya disebut telah berada di kisaran 1,7, lebih rendah dibanding angka nasional yang berada sekitar 2,1.
Dokter Spesialis Kebidanan dan Kandungan Konsultan Fertilitas Endokrinologi Reproduksi Morula IVF Surabaya, dr. Benediktus Arifin, MPH., Sp.O.G(K), FICS, FIICOG, FESICOG, mengatakan perubahan pola kehidupan masyarakat perkotaan menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan.
Menurutnya, ada tiga faktor utama yang berkaitan dengan penurunan tingkat kesuburan masyarakat urban. Salah satunya adalah perubahan usia pernikahan.
"Pertama dari faktor medis, di mana terjadi pergeseran usia pernikahan yang semakin mundur. Dulu orang menikah di usia 20 tahun, sekarang rata-rata 27 hingga 30 tahun ke atas. Padahal, faktor usia sangat menentukan kualitas fertilitas," ujar dr. Benediktus saat seminar edukasi Future Family Planning: Balancing Career & Parenthood di Whiz Luxe Hotel Spazio Surabaya, Minggu (20/9/2026).
Ia menjelaskan, persoalan fertilitas juga tidak hanya berkaitan dengan perempuan. Kondisi reproduksi laki-laki turut menjadi faktor yang perlu diperhatikan pasangan ketika merencanakan kehamilan.
Faktor lainnya adalah perubahan kondisi sosial ekonomi dan gaya hidup masyarakat perkotaan. Kesibukan bekerja, target karier hingga pertimbangan biaya membesarkan anak membuat sebagian pasangan berpikir lebih panjang sebelum memiliki buah hati.
"Sekarang masyarakat berpikir ulang untuk memiliki banyak anak. Selain itu, banyak pasangan yang sibuk mengejar karir dan merencanakan pekerjaan hingga 10 tahun ke depan, namun lupa merencanakan kehamilan sejak awal pernikahan," jelasnya.
Pentingnya merencanakan kehamilan sejak awal pernikahan juga disampaikan Prof. Dr. dr. Budi Santoso, Sp.O.G, Subsp.F.E.R.
Ia mengingatkan pasangan untuk memahami kondisi cadangan sel telur atau ovarian reserve. Seiring bertambahnya usia, cadangan dan kualitas sel telur perempuan mengalami penurunan, terutama setelah memasuki usia 35 tahun.
Pada usia tersebut, risiko sejumlah masalah kehamilan juga dapat meningkat. Karena itu, perencanaan keluarga idealnya tidak hanya membicarakan pekerjaan dan kondisi finansial, tetapi juga mempertimbangkan faktor reproduksi.
"Gaya hidup tidak sehat, kurang bergerak (sedentary lifestyle), obesitas, hingga polusi lingkungan sangat mempengaruhi fungsi ovarium dan sperma. Oleh karena itu, perencanaan program hamil harus berjalan seiring dengan perencanaan karir agar kesuburan tetap terjaga," terang Prof. Budi.
Faktor gaya hidup juga menjadi perhatian karena pola aktivitas masyarakat perkotaan semakin banyak dihabiskan dalam kondisi kurang bergerak. Kondisi tersebut, ditambah obesitas dan paparan polusi, disebut dapat memengaruhi fungsi reproduksi.
Sementara itu, Dr. dr. Jimmy Yanuar Annas, Sp.O.G, Subsp.F.E.R, mengimbau pasangan yang sudah menikah selama satu tahun tetapi belum memperoleh keturunan untuk tidak menunda pemeriksaan.
"Jangan menunggu terlalu lama sampai usia semakin matang. Begitu ada indikasi atau gangguan haid, segera periksakan diri agar penanganan bisa dilakukan lebih cepat dan efisien," ujarnya.
Di tengah perubahan pola kehidupan masyarakat, akses terhadap informasi dan pemeriksaan kesehatan reproduksi juga dinilai penting. Morula IVF Surabaya menyatakan memperluas jangkauan edukasi dan layanan kesehatan reproduksi, termasuk untuk masyarakat di sekitar Surabaya hingga kawasan Indonesia Timur.
Head of Division Morula IVF Surabaya, Arik Lisarja, mengatakan pihaknya membuka akses konsultasi dan pemeriksaan sebagai bagian dari upaya mendorong deteksi dini masalah kesuburan.
"Dalam kurun waktu empat hingga lima bulan terakhir, kami telah memberikan konsultasi dan pemeriksaan USG gratis kepada 694 pasien. Kami juga menyediakan fasilitas unggulan seperti pemeriksaan PGT-A gratis untuk satu embrio hingga program bayi tabung gratis (Free IVF) bagi peserta yang membutuhkan," kata Arik.
Jangkauan layanan juga diperkuat melalui jejaring dokter spesialis di sejumlah daerah. Di antaranya dr. Achmad Rheza, Sp.O.G, Subsp. F.E.R di Mojokerto, dr. Raudatul Hikmah, MM., Sp.O.G, Subsp.F.E.R di Bangkalan, serta dr. Maya Devi Arifiandi, Sp.O.G, Subsp.FER di Malang.
Selain pemeriksaan dan konsultasi, perkembangan teknologi reproduksi memberikan pilihan bagi pasangan dengan kondisi tertentu. Salah satunya melalui teknologi pembekuan sperma atau sperma freezing, yang dapat menjadi salah satu opsi bagi pasangan yang menjalani hubungan jarak jauh.
Fenomena penurunan angka kelahiran tersebut menunjukkan bahwa perencanaan keluarga kini menghadapi tantangan yang semakin kompleks. Bagi pasangan di perkotaan, keputusan mengenai karier, kondisi ekonomi, usia pernikahan, gaya hidup, hingga rencana memiliki anak saling berkaitan.
Karena itu, edukasi mengenai kesehatan reproduksi menjadi bagian penting agar pasangan tidak hanya merancang masa depan pekerjaan, tetapi juga mempertimbangkan waktu dan kondisi biologis dalam membangun keluarga.
Editor : Arif Ardliyanto
Artikel Terkait
