Ekonomi Jatim Melesat, Lulusan SMK Masih Paling Sulit Cari Kerja

Lukman Hakim
Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa. (Foto : istimewa).

SURABAYA, iNewsSurabaya.id – Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) Jawa Timur (Jatim) turun menjadi 3,60 persen pada Agustus 2026. Namun, di balik perbaikan angka pengangguran tersebut, lulusan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) masih menghadapi tantangan paling besar dalam mendapatkan pekerjaan.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) Jatim menunjukkan, TPT lulusan SMK mencapai 6,09 persen pada Agustus 2026. Angka tersebut menjadi yang tertinggi dibandingkan kelompok pendidikan lainnya, sekaligus jauh di atas TPT Jatim secara keseluruhan.

Plt Kepala BPS Jatim, Ir. Herum Fajarwati, M.M., menjelaskan TPT Jatim berdasarkan hasil Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) Agustus 2026 tercatat sebesar 3,60 persen.

Angka tersebut berarti dari setiap 100 orang angkatan kerja di Jatim, terdapat sekitar tiga hingga empat orang yang masuk kategori pengangguran.

“Jika dibandingkan dengan Agustus 2025, TPT Jatim mengalami penurunan sebesar 0,28 persen poin, dari sebelumnya 3,88 persen menjadi 3,60 persen,” katanya dikutip dari rilis BPS Jatim, Sabtu (7/11/2026).

Penurunan ini menunjukkan adanya perbaikan penyerapan tenaga kerja di Jatim. Meski demikian, dinamika pasar kerja masih memperlihatkan sejumlah persoalan, terutama terkait kesesuaian kompetensi lulusan dengan kebutuhan dunia usaha dan industri.

Data BPS Jatim mencatat, berdasarkan pendidikan tertinggi yang ditamatkan, lulusan SMK secara konsisten mencatat tingkat pengangguran tertinggi selama periode Agustus 2024 hingga Agustus 2026.

Pada Agustus 2026, TPT lulusan SMK mencapai 6,09 persen. Angka tersebut menurun dibandingkan Agustus 2025 yang sebesar 6,78 persen dan Agustus 2024 sebesar 6,81 persen.

Meski mengalami penurunan dalam dua tahun terakhir, posisi lulusan SMK sebagai kelompok dengan TPT tertinggi belum berubah.

Kondisi ini menunjukkan bahwa lulusan pendidikan kejuruan masih menghadapi tantangan dalam memperoleh pekerjaan yang sesuai dengan bidang keahlian yang dimiliki.

Persoalan kesesuaian antara kemampuan yang diperoleh melalui pendidikan formal dengan kebutuhan pasar kerja atau link and match menjadi salah satu isu penting dalam pembangunan ketenagakerjaan Jatim.

Pendidikan kejuruan yang dirancang untuk menghasilkan tenaga kerja siap pakai perlu didukung keterhubungan yang kuat dengan kebutuhan industri, termasuk melalui penguatan kompetensi, pengalaman kerja, dan kesempatan magang.

Persoalan penyerapan tenaga kerja juga terlihat pada kelompok lulusan perguruan tinggi. BPS mencatat TPT lulusan universitas meningkat dari 3,98 persen pada Agustus 2025 menjadi 4,98 persen pada Agustus 2026.

Kenaikan satu persen poin tersebut terjadi ketika TPT Jatim secara keseluruhan justru mengalami penurunan. Kondisi ini menunjukkan perbaikan pasar kerja belum dirasakan secara merata oleh seluruh kelompok pendidikan. Lulusan perguruan tinggi pun masih menghadapi tantangan untuk mendapatkan pekerjaan.

Sementara itu, TPT terendah tercatat pada penduduk dengan pendidikan SD ke bawah, yakni sebesar 1,68 persen pada Agustus 2026.

BPS menjelaskan, rendahnya tingkat pengangguran pada kelompok tersebut umumnya berkaitan dengan banyaknya tenaga kerja yang terserap di sektor informal, termasuk pekerjaan yang tidak membutuhkan pendidikan formal tinggi.

Namun, rendahnya TPT pada kelompok berpendidikan rendah tidak serta-merta menunjukkan kondisi pekerjaan yang lebih baik. Sektor informal memang mampu menyerap banyak tenaga kerja, tetapi karakteristik pekerjaan di sektor tersebut umumnya belum menjamin kestabilan pendapatan maupun perlindungan kerja yang memadai.

Disisi lain, perekonomian Jatim sepanjang Januari–September 2026, tumbuh sebesar 5,83 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya atau secara cumulative-to-cumulative (c-to-c). Capaian ini melampaui pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 5,45 persen. 

Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa menyampaikan, capaian ini merupakan hasil kerja bersama pemerintah, dunia usaha, pekerja, petani, nelayan, pelaku UMKM, serta masyarakat yang terus menggerakkan aktivitas produksi, perdagangan, investasi, dan konsumsi. “Kita ingin pertumbuhan ini semakin dirasakan manfaatnya dalam kehidupan sehari-hari,” tegasnya.

Editor : Arif Ardliyanto

Bagikan Artikel Ini
Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.
News Update
Kanal
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
MNC Portal
Live TV
MNC Network