Fotografi Jadi Cara Merawat Budaya, Puluhan Karya Nusantara Dipamerkan di Surabaya

Arif Ardliyanto
Pameran fotografi Frames of Life V.3 di Surabaya menampilkan karya yang merekam tradisi, kehidupan masyarakat, dan keberagaman budaya Indonesia melalui fotografi. Foto iNewsSurabaya.id/arif

SURABAYA, iNewsSurabaya.id – Sebuah foto bisa menjadi lebih dari sekadar gambar. Di dalamnya dapat tersimpan cerita tentang manusia, tradisi, kesenian, hingga kebiasaan masyarakat yang perlahan berubah mengikuti zaman.

Gagasan itulah yang diangkat dalam pameran fotografi “Frames of Life V.3: Budaya Indonesia dalam Lensa” di Surabaya. Pameran yang berlangsung pada 21-24 September 2026 ini menampilkan puluhan karya yang merekam keberagaman budaya Nusantara.

Kegiatan tersebut digelar oleh komunitas fotografi pekerja Pelindo Terminal Petikemas (PTP), Lens on Logistics (LoLO). Meski lahir dari komunitas pekerja yang sehari-hari dekat dengan aktivitas kepelabuhanan dan logistik, kegiatan ini tidak hanya melibatkan kalangan internal.

Sejumlah fotografer dari masyarakat umum turut ambil bagian. Kehadiran karya publik membuat pameran tersebut menjadi ruang bertemunya berbagai perspektif dalam melihat kehidupan dan budaya Indonesia.

Tema “Budaya Indonesia dalam Lensa” membawa pengunjung melihat beragam sisi kehidupan masyarakat. Tradisi, wajah warga, kesenian, hingga kearifan lokal menjadi objek yang diabadikan melalui kamera.

Foto-foto yang dipamerkan tidak semata-mata mengandalkan kekuatan visual. Setiap karya berusaha menghadirkan cerita mengenai manusia, ruang tempat mereka hidup, kebiasaan yang dijalankan, serta nilai yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Sekretaris Perusahaan PT Pelindo Terminal Petikemas, Widyaswendra, mengatakan komunitas menjadi salah satu ruang bagi pekerja untuk mengembangkan minat dan kemampuan di luar aktivitas profesional.

“Pekerja memiliki beragam potensi yang tidak selalu terlihat dalam aktivitas profesional sehari-hari. Melalui komunitas seperti Lens on Logistics, kami ingin memberikan ruang agar potensi tersebut dapat berkembang,” kata Widyaswendra.

Menurut dia, penyelenggaraan Frames of Life juga mengalami perkembangan karena tidak lagi hanya menampilkan karya dari lingkungan pekerja.

“Menariknya, Frames of Life kini juga menjadi ruang yang mempertemukan karya pekerja dengan karya masyarakat. Fotografi menjadi medium bersama untuk bercerita tentang keberagaman Indonesia,” ujarnya.

Fotografer sekaligus pemateri Frames of Life V.3, Beky Subechi, melihat fotografi memiliki keterkaitan erat dengan pelestarian budaya.

Menurutnya, budaya tidak berhenti pada bentuk tradisi yang diwariskan. Di dalamnya terdapat nilai dan cerita kehidupan yang masih dijalankan masyarakat hingga sekarang.

“Di situlah titik temu antara fotografi dan budaya. Fotografi tidak hanya merekam apa yang kita lihat hari ini, tetapi juga mampu menghadirkan kembali sesuatu dari masa lampau ke dalam konteks kehidupan sekarang melalui visual,” ujar Beky.

Ia menilai foto dapat menjadi salah satu cara untuk menjaga agar cerita mengenai kebudayaan tetap dapat dikenali oleh generasi berikutnya.

“Fotografi menjadi medium yang sangat relevan untuk menjaga dan melestarikan budaya agar nilai dan ceritanya tetap dapat dilihat serta dipahami dari generasi ke generasi,” katanya.

Frames of Life V.3 tidak hanya berisi pameran karya. Sejumlah sesi workshop juga digelar dengan menghadirkan praktisi fotografi.

Mamuk Ismuntoro dan Beky Subechi memberikan materi portraiture photography. Dalam sesi tersebut, peserta memotret model dengan karakter tradisional serta perempuan pembatik.

Ada pula sesi macro photography yang mengangkat tema “Eksotisme Serangga”. Materi lainnya membahas pemanfaatan fotografi untuk memasuki pasar digital melalui microstock.

Salah satu peserta workshop, Muhammad Adrian Abdurahman L Ubay, mengaku mendapatkan pengalaman baru dari kegiatan tersebut. Menurutnya, fotografi bukan hanya persoalan teknik mengambil gambar, tetapi juga berkaitan dengan bagaimana fotografer memahami objek yang berada di hadapannya.

“Saya mendapatkan banyak hal baru, mulai dari bagaimana mendalami sisi emosional dalam fotografi hingga memahami adab dan etika ketika memotret,” ujarnya.

Ia juga mengapresiasi kesempatan praktik yang diberikan dalam workshop.

“Yang paling menarik, kami tidak hanya mendapatkan materi, tetapi juga diberi kesempatan untuk langsung praktik. Waktu praktik yang diberikan cukup sehingga kami bisa mencoba dan menerapkan ilmu yang disampaikan oleh pemateri,” katanya.

Ruang partisipasi publik dalam kegiatan ini juga dibuka melalui Lomba Fotografi Nasional “Budaya Indonesia dalam Lensa”.

Kompetisi tersebut diperuntukkan bagi masyarakat umum dengan mengajak peserta mengirimkan karya foto orisinal yang mengangkat kebudayaan Nusantara.

Dengan pameran, workshop, dan lomba fotografi, Frames of Life V.3 memperluas ruang pertemuan antara komunitas pekerja, fotografer, dan masyarakat.

Kamera kemudian menjadi medium untuk merekam sesuatu yang lebih panjang daripada momen ketika tombol rana ditekan. Di balik setiap foto terdapat cerita mengenai tradisi, manusia, dan nilai kehidupan yang masih bertahan.

Dari Surabaya, beragam sudut pandang itu disatukan dalam satu tema: bagaimana budaya Indonesia dilihat, direkam, dan diceritakan melalui sebuah lensa.

 

Editor : Arif Ardliyanto

Bagikan Artikel Ini
Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.
News Update
Kanal
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
MNC Portal
Live TV
MNC Network