PASURUAN, iNewsSurabaya.id – Ancaman kebakaran hutan menjadi salah satu tantangan serius dalam menjaga kelestarian ekosistem Gunung Arjuno. Di tengah kondisi kawasan yang didominasi alang-alang dan memiliki tingkat kesuburan tanah relatif rendah, upaya pencegahan kini dilakukan dengan melibatkan masyarakat hingga generasi muda.
Salah satu langkah yang dikembangkan adalah pembangunan sekat bakar di kawasan Blok Eyang Semar, Gunung Arjuno. Program ini berjalan melalui kolaborasi Pertamina Patra Niaga Regional Jatimbalinus melalui Aviation Fuel Terminal (AFT) Juanda bersama Kelompok Pelestari Tahura (KPT) Wono Asri dan Polisi Hutan Raden Soerjo.
Sekat bakar tersebut dibangun dengan konsep berlapis dan sekat lingkaran pohon di area seluas 12 hektare. Infrastruktur konservasi itu diharapkan dapat memperlambat penjalaran api ketika terjadi kebakaran sekaligus memberikan perlindungan tambahan terhadap kawasan hutan.
Aviation Fuel Terminal Manager Juanda, Okky Yuliawan Purwonegoro, mengatakan kondisi Blok Eyang Semar memiliki sejumlah kerentanan ekologis yang perlu mendapat perhatian.
“Kawasan Blok Eyang Semar, Gunung Arjuno, menghadapi sejumlah tantangan ekologis, di antaranya dominasi alang-alang yang memiliki tingkat kerawanan terbakar, kondisi tanah yang relatif tipis, serta tingkat kesuburan yang rendah. Kerentanan kawasan juga perlu menjadi perhatian seiring adanya kejadian kebakaran di kawasan Taman Hutan Raya (Tahura) Raden Soerjo sepanjang 2026,” kata Okky.
Upaya menjaga Gunung Arjuno tidak hanya dilakukan melalui pembangunan infrastruktur pencegah kebakaran. Pertamina Patra Niaga juga mengembangkan Green School Arjuno sebagai ruang belajar sekaligus sarana bagi generasi muda untuk terlibat langsung dalam konservasi lingkungan.
Program tersebut dikembangkan bersama SMP Negeri 1 Purwodadi dan Cempaka Foundation. Konsep yang diterapkan menjadikan kawasan lingkungan sebagai life laboratory, sehingga siswa tidak hanya mendapatkan materi di ruang kelas, tetapi juga memperoleh pengalaman langsung melalui kegiatan konservasi.
Sejumlah kegiatan diberikan kepada siswa, mulai dari pembibitan tanaman asli atau native species, pengolahan kompos, pembuatan eco enzyme, hingga penyusunan rencana kerja Green Ranger.
Para siswa juga dilibatkan dalam perencanaan penanaman tanaman lokal di kawasan Gunung Arjuno. Dengan pola tersebut, edukasi lingkungan diarahkan tidak berhenti pada pengetahuan, tetapi berkembang menjadi keterampilan dan pengalaman nyata.
“Program juga didukung dengan pembangunan green house untuk pembibitan tanaman lokal dan flora langka serta teba biopori sebagai sarana pengolahan bahan organik yang dapat mendukung kebutuhan pupuk,” ujar Okky.
Okky menegaskan, keberhasilan konservasi tidak bisa hanya mengandalkan satu pihak. Menurutnya, masyarakat dan generasi muda perlu mendapat ruang untuk ikut terlibat dalam menjaga lingkungan.
“Pertamina berkomitmen mendukung pemberdayaan masyarakat sekaligus meningkatkan kepedulian terhadap lingkungan. Kesadaran dan jiwa konservasi perlu ditumbuhkan sejak dini melalui pengalaman dan keterlibatan langsung di lapangan. Karena itu, generasi muda kami dorong untuk terlibat aktif dalam kegiatan konservasi sehingga memiliki pemahaman dan keterampilan untuk turut menjaga lingkungan secara berkelanjutan,” ujar Okky.
Program Green School Arjuno mendapat respons positif dari SMP Negeri 1 Purwodadi. Ketua Adiwiyata SMP Negeri 1 Purwodadi, Sri Yuli, menilai kegiatan tersebut memberikan pengalaman praktis bagi siswa sekaligus memperkuat pembelajaran mengenai lingkungan hidup.
“Pelatihan ini sangat bermanfaat dalam mendukung program Adiwiyata dan edukasi lingkungan hidup, khususnya pengelolaan sampah mandiri di sekolah. Kami berharap kolaborasi ini dapat terus memberikan manfaat bagi sekolah dan anak didik kami,” ujar Sri Yuli.
Sementara itu, Area Manager Communication, Relations & CSR Pertamina Patra Niaga Regional Jatimbalinus, Ahad Rahedi, mengatakan konservasi perlu dilakukan secara berkelanjutan dengan menggabungkan pemulihan lingkungan dan peningkatan kapasitas masyarakat.
Menurutnya, Green School Arjuno menjadi salah satu pendekatan untuk mengenalkan konservasi kepada generasi muda melalui kegiatan yang bersentuhan langsung dengan alam.
“Pertamina Patra Niaga memandang konservasi bukan hanya sebagai upaya memulihkan lingkungan, tetapi juga membangun kesadaran dan kapasitas generasi muda untuk menjaganya. Melalui Green School Arjuno, kami mendorong siswa untuk belajar langsung dari alam sekaligus mengambil peran dalam kegiatan konservasi, mulai dari pembibitan, pemeliharaan keanekaragaman hayati hingga reboisasi,” ujar Ahad.
Ke depan, Green School Arjuno diarahkan untuk berkembang sebagai model pembelajaran konservasi berbasis kolaborasi. Program tersebut mencakup edukasi lingkungan, pemulihan lahan, pengembangan tanaman lokal hingga mitigasi kebakaran hutan.
Keterlibatan siswa dan masyarakat diharapkan dapat membangun kepedulian sekaligus kesiapsiagaan menghadapi ancaman kebakaran. Dengan demikian, upaya menjaga ekosistem Gunung Arjuno tidak hanya bertumpu pada pemulihan kawasan, tetapi juga menyiapkan generasi yang memiliki pengetahuan dan kemampuan untuk merawat lingkungan dalam jangka panjang.
Editor : Arif Ardliyanto
Artikel Terkait
