get app
inews
Aa Text
Read Next : PDI Perjuangan Surabaya Salurkan Bantuan untuk Korban Bencana Sumatera

Sekolah Vertical Rescue, Pendidikan Penyelamatan Mahasiswa UTM, Sering Berlatih Di Tebing Tinggi

Senin, 10 November 2025 | 06:22 WIB
header img
Mahasiswa Universitas Trunojoyo Madura (UTM) belajar menyelamatkan nyawa lewat Sekolah Vertical Rescue Tingkat 1. Mereka menaklukkan alam dengan naik ke tebing tinggi. Foto iNewsSurabaya/ist

BANGKALAN, iNewsSurabaya.id — Di tengah meningkatnya ancaman bencana alam dan kebutuhan akan sumber daya manusia yang tangguh, sekelompok mahasiswa Universitas Trunojoyo Madura (UTM) memilih jalan berbeda. Mereka menantang diri, menggantungkan tubuh di tebing tinggi, dan belajar menyelamatkan nyawa lewat Sekolah Vertical Rescue Tingkat 1 yang digelar Mahasiswa Pecinta Alam (MPA) GHUBATRAS, 7–9 November 2025.

Dengan tema “Challenge the Height, Strengthen the Bone”, kegiatan ini bukan sekadar pelatihan fisik, tetapi juga ruang pembentukan karakter dan empati. Mereka belajar bahwa menjadi tangguh tak cukup dengan kekuatan otot — melainkan dengan keberanian, kerja sama, dan kepedulian terhadap sesama.

Upacara pembukaan kegiatan ini dihadiri oleh sejumlah tokoh penting seperti Taufani Sagita selaku Pembina GHUBATRAS, Subhan Fajar Sidik dari Dewan Perintis, serta perwakilan alumni dan organisasi kemahasiswaan KM-UTM. Kegiatan ini juga mendapat dukungan dari lembaga pemerintah, organisasi kemanusiaan, dan komunitas pecinta alam dari berbagai daerah di Indonesia.

Empat instruktur utama, yakni Teddy Ixdiana, Data Pela, Adrian Daely, dan Kamia Rahayu, hadir sebagai penggerak utama. Mereka bukan hanya mengajarkan teknik penyelamatan di medan vertikal, tetapi juga nilai-nilai kemanusiaan yang menjadi jiwa dari setiap misi penyelamatan.

“Pelatihan ini bukan hanya tentang kekuatan fisik, tapi tentang mentalitas dan kepedulian sosial. Setiap aksi penyelamatan adalah bentuk cinta terhadap sesama,” ujar Data Pela, tenaga ahli Vertical Rescue Indonesia (VRI), dalam sesi pembukaan.


Mahasiswa Universitas Trunojoyo Madura (UTM) belajar menyelamatkan nyawa lewat Sekolah Vertical Rescue Tingkat 1. Mereka menaklukkan alam dengan naik ke tebing tinggi. Foto iNewsSurabaya/ist

Sebanyak 60 peserta dari berbagai kampus, instansi, dan lembaga kemanusiaan di seluruh Indonesia mengikuti kegiatan ini. Mereka datang dengan latar belakang berbeda — mulai dari mahasiswa pecinta alam, anggota BPBD, hingga personel Polairud — namun disatukan oleh semangat kemanusiaan.

Salah satunya adalah Almuhlisin, anggota Tim Reaksi Cepat (TRC) BPBD Kabupaten Sampang. Ia mengaku pelatihan ini menjadi pengalaman berharga dalam menambah kompetensi dan memperluas jejaring kemanusiaan.

“Saya mendapatkan banyak ilmu baru dan teman baru. Semoga kegiatan seperti ini terus diadakan agar semakin banyak yang paham teknik penyelamatan vertikal,” ujarnya.

Dua anggota Polairud Polda Jawa Tengah, Aiptu Dedi Rahmat dan Aiptu Sulung Juni Cahyanto, juga ikut dalam pelatihan ini. Menurut mereka, pelatihan vertikal rescue sangat membantu dalam meningkatkan kemampuan tim SAR Polairud dalam operasi di lapangan.

“Ini pengalaman baru dan menyenangkan. Kami belajar banyak dari peserta lain yang datang dari berbagai daerah,” kata Aiptu Sulung.

Wakil Rektor III Bidang Kemahasiswaan UTM, Surokim, S.Sos., SH., M.Si., menegaskan bahwa universitas berperan penting dalam menyiapkan mahasiswa agar tangguh dan adaptif menghadapi tantangan zaman.

“Dunia pendidikan tidak boleh berhenti pada teori. Mahasiswa harus punya ruang untuk mengasah keterampilan nyata. Pelatihan seperti ini adalah laboratorium kehidupan,” tegasnya.

Melalui kegiatan ini, mahasiswa tak hanya belajar teknik tali-temali, rappelling, atau evakuasi korban, tetapi juga dilatih berpikir cepat, mengambil keputusan kritis, serta berkomunikasi efektif — kemampuan yang dibutuhkan di dunia profesional dan kemanusiaan.

Kegiatan Sekolah Vertical Rescue Tingkat 1 menjadi contoh nyata kolaborasi lintas profesi. Para peserta berasal dari kampus, lembaga sosial, instansi pemerintah, hingga komunitas relawan independen. Mereka bekerja bersama, belajar bersama, dan saling mempercayai di medan latihan yang penuh tantangan.

“Solidaritas itu lahir saat kita sama-sama menghadapi dinding tebing dan tali yang sama. Keselamatan adalah hasil dari kepercayaan dan kolaborasi,” tutur Data Pela.

Universitas Trunojoyo Madura memandang kegiatan ini sebagai wujud nyata dukungan terhadap Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), terutama dalam aspek Pendidikan Berkualitas (Quality Education), Kesehatan dan Kesejahteraan (Good Health and Well-being), serta Kemitraan untuk Tujuan Bersama (Partnerships for the Goals).

Pembina MPA GHUBATRAS, Taufani Sagita, menegaskan bahwa kegiatan ini merupakan kolaborasi konkret antara dunia akademik dan praktisi kemanusiaan.

“Pelatihan ini bukan hanya menempa fisik, tapi juga membentuk karakter mahasiswa agar siap menghadapi tantangan global,” ujarnya.

 

Menantang Ketinggian, Menguatkan Tulang dan Hati

Filosofi “Challenge The Height, Strengthen The Bone” menjadi refleksi perjalanan para peserta. Mereka tidak hanya belajar menaklukkan ketinggian, tetapi juga membangun ketangguhan hati.

“Yang paling berharga bukan sekadar ilmu teknis, tapi bagaimana kita ditempa menjadi pribadi yang lebih kuat dan peduli,” kata Adrian Daely, salah satu instruktur VRI.

Sejak berdiri tahun 1989, MPA GHUBATRAS UTM telah berkomitmen tidak hanya pada kegiatan alam bebas dan konservasi, tetapi juga aksi kemanusiaan. Melalui pelatihan seperti ini, semangat solidaritas dan kepedulian itu terus diturunkan kepada generasi muda.

“Ketangguhan sejati bukan datang dari kekuatan fisik semata, tapi dari kemampuan untuk beradaptasi dan bekerja sama,” tutup Roki Saputra, instruktur sekaligus relawan kemanusiaan.

 

Editor : Arif Ardliyanto

Follow Whatsapp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
Lihat Berita Lainnya
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut